Artikel Rektor

KENAIKAN PANGKAT DOSEN

Penulis : Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag, 01 Maret 2011,

Barangkali untuk waktu sekarang, berbicara tentang kenaikan pangkat dosen rasanya tidak menjadi tabu, karena memang seluruh dosen dipacu untuk terus bisa naik pangkat dan jabatannya sampai mencapai jenjang yang paling tinggi dan memungkinkan untuk diraih.  Mungkin tidak seperti zaman dahulu yang ada kesan bahwa untuk bisa naik pangkat dan jabatan  semacam dipersulit, kalau tidak boleh dikatakan semacam dihalangi.

          Saya sendiri tidak mengerti apa sebabnya  naik pangkat dan jabatan pada masa lalu itu sangat sulit, disamping penjenjangan jabatan yang terlalu banyak.  Dibandingkan sekarang, tentunya  kita patut bersyukur, karena ternyata semakin hari  untuk urusan yang satu  ini ternyata semakin lebih mudah dan jenjang kepangkatan dan jabatanpun semakin simple, yakni hanya dimulai dengan asisten ahli, kemudian lector, lector kepala dan guru besar.  Sementara pada masa yang lalu harus mengawali dari asisten ahli madya, baru asisten ahli,  lalu lector muda, lector madya, baru lector, lalu lektor kepala muda, lector kepala madya, dan lector kepala, guru besar madya, dan guru besar.

          Namun terlepas dari itu semua, memang kita harus  berterima kasih kepada pihak-pihak yang membuat aturan yang semakin memudahkan, dan bukannya malah mempersulit.  Dengan peraturan yang seperti itu, sangat mungkin bagi dosen yang aktif dalam berbagai kegiatan keilmuan dan aktif menulis karya ilmiah serta meneliti, untuk bisa naik pangkat dan jabatan lebih cepat dibandingkan dengan para dosen yang agak malas dalam meneliti dan menulis karya ilmiah serta mengikuti berbagai aktifitas ilmiah lainnya.

          Dahulu memang ada trend untuk segera naik pangkat sampai dengan lector, sebab kalau sudah lector, seorang dosen akan mendapatkan pensiun saat berusia 65 tahun, tetapi kalau belum mencapai  jabatan lector, maka hanya akan berusia 60 tahun saja dan harus pensiun.  Tetapi setelah mereka mendapatkan kepangkatan dan jabatan lector, mereka kemudian mandek dan tidak lagi mengurusi kenaikan pangkat dan jabatannya, karena mereka menganggap telah selamat dari pensiun lebih awal.  Karena itu kita dapat menyaksikan  dosen-dosen yang kepangkatan dan jabatan akademiknya hanya  sampai dengan lector hingga pensiun.

          Lain dahulu lain sekarang, disamping ada perbedaan yang signifikan dalam hal tunjangan, terutama setelah adanya tunjangan profesi bagi dosen yang telah mendapatkan sertifikat, juga didorong oleh kondisi yang memungkinkan seorang dosen  untuk meraih jabatan fungsional yang setinggi-tingginya.  Bahkan saya sudah memberikan  worning, meskipun belum menjadi kebijakan institute, bahwa pada saatnya nanti  dosen yang tidak  naik pangkat hingga 6-7 tahun, maka sebaiknya diadministrasikan saja.

          Usulan saya tersebut berdasarkan argumentasi bahwa  seorang dosen itu tidak hanya sebagai pendidik professional semata, melainkan juga sekaligus sebagai ilmuwan.  Oleh karena itu  seorang dosen harus melaksanakan tri dhrma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.  Ketiga dharma tersebut harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam setiap semesternya.  Jadi pada dasarnya  secara teoritis, tidak akan ada lagi dosen yang hanya mengajar saja, tanpa melakukan penelitian dan pengabdian  kepada masyarakat.

          Penelitian bagi dosen, merupakan suatu keniscayaan, karena merupakan tugas pokok yang melekat dalam dirinya.  Tetapi yang harus dipahami ialah bahwa penelitian tidak hanya aktifitas yang dilakukan dosen dengan kendali proposal yang diajukan melalui lemabaga penelitian secara formal, melainkan meliputi keseluruhan  aktifitas penelitian mandiri yang kemudian diwujudkan dalam tulisan ilmiah, baik yang nantinya diterbitkan dalam bentuk bulu maupun yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah. Jadi dengan demikian memang tidak ada alas an bagi dosen untuk tidak melaksanakan tugas pokok penelitian tersebut.

          Penelitian yang dilaksanakan oleh dosen tersebut sebaiknya juga dalam rangka untuk meng update silabi  mata kuliah yang menjadi tanggung jawabnya.  Tentu disamping dalam rangka tugas keilmuan yang disandang oleh seorang dosen. Dengan meksud dan tujuan seperti itu, tentu peran dosen sebagai ujung tombak dalam mengembangkan mahasiswa akan lebih maksimal dan pada akhirnya, tujuan pemerintah dalam meningkatkan pendidikan nasional melalui sertifikasi akan dapat dinikmati hasilnya.

          Dengan kondisi seperti itu tidak akan ada masalah apapun bagi dosen untuk naik pangkat, karena seluruh  kredit poin yang diperlukan telah tersedia, bahkan dapat berlebih.  Artinya dengan peran dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas pokok dosen secara benar dan bertanggung jawab, seorang dosen tidak akan kekurangan kredit poin pada saat mau melaksanakan kenaikan pangkat.

          Institusi atau lembaga, dalam hal ini IAIN Walisongo Semarang akan selalu mendorong agar seluruh dosen dapat naik pangkat dan jabatan secara wajar dan tepat waktu, tentu disamping selalu mendorong agar yang belum S3 dapat melanjutkan studinya ke S3 dan mengupayakan akselerasi bagi mereka yang sudah S3 tetapi belum selesai.  Ini semua dimaksudkan agar IAIN Walisongo kedepan dapat menjadi lembaga pendidikan tinggi yang berdaya saing tinggi, yang antara lain ditandai dengan banyaknya dosen yang bergelar doctor, bahkan kalau mungkin sampai sekitar 85 % dosennya sudah S3.

          Jadi dengan kenaikan pangkat dan jabatan fungsional dosen tersebut, tidak saja dimaksudkan agar semata-mata dalam rangka peningkatan kesejahteraan dosen itu sendiri, melainkan juga dalam rangka memajukan dan mengembangkan lembaga yang kita cintai bersama.  Dengan niat tersebut tentu akansemakin menambah padu dan kompakknya selurruh komponen, terutama dari aspek sumber daya manusianya dalam rangka meraih keinginan mulia kita bersama, yakni menjadikan IAIN kita sebagai pusat kajian dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman dengan pendekatan multi disipliner yang unggul dan kompetitif.

          Namun demikian setelah mimpi kita untuk menjadikan IAIN kita menjadi universitas pada saatnya nanti, tentu kita akan menyesuaikan keinginan kita menjadi bertambah luas, seiring dengan perubahan status dan wilayah garapan dari lembaga kita.  Namun karena kita tidak menginginkan dipeliharanya dikotomi keilmuan di lingkungan kita, maka integrasi ilmu dengan pendekatan ruh islam, mutlak diperlukan.

          Dengan kondisi masa depan yang seperti itu, tentu akan semakin menambahgreget kita untuk senantiasa mendorong seluruh dosen  dalam rangka peningkatan jenjang studi yang dimiliki dan jenjang kepangkatan serta jabatan fungsional seluruh dosen.  Harapannya tentu lembaga kita pada saatnya nanti akan menjadi lembaga yang sangat kuat dalam tradisi keilmuan yang dibina, bukan saja dalam keilmuan yang parsial, melainkan seluruh ilmu yang didekati dengan ruh Islam sebagaimana  kita cita-citakan tersebut.

          Dalam kenyataannya, pada saat ini kita masih menghadapi kendala besar dalam kenaikan pangkat untuk ke guru besar, yakni dengan munculnya edaran Direktur Jendral Pendidikan Islam  Kementrian Agama kita.  Untuk itu kita harus lebih mendorong mereka yang memang telah memenuhi syarat untuk mengajukan kenaikan ke guru besar, agar segera mengajukan, dan bagi yang belum memenuhi syarat, agar segera melengkapi persyaratan yang diperlukan tersebut.

          Tentu kita juga akan selalu memperjuangkan bahwa surat edaran Dirjen Pendis tersebut akan diganti dengn yang lebih memudahkan dosen untuk mendapatkan pangkat guru besar, tanpa mengurangi kualitas yang diinginkan.  Kita masih terus berupaya untuk itu dengan memberikan berbagai argumentasi yang  mendukung, terutama praktek yang dijalankan dilingkungan kementerian pendidikan nasional, meskipun sampai sekarang belum berhasil.  Namun kita sangat yakin, bahwa pada saatnya nanti, hal tersebut akan dapat menjadi kenyataan.

          Untuk memberikan peluang yang lebih besar agi para dosen agar dapat naik pangkat dan jabatan sebagaimana yang kita sarankan dan dorong tersebut, tentu beberapa sarana untu itu harus juga kita persiapkan dan berikan, terutama jurnal yang terakreditasi.  Dulukita mempunyai tiga jurnal yang terakreditasi, tetapi saat ini tinggal hanya satu buah.  Karena itu kita dorong juga pengelolaan jurnal yang kita miliki agar ada keinginan untuk terakreditasi.  Artinya kalau ada keinginan dari para pengelolanya untuk meningkat status jurnal tersebut, tentu mereka akan berusaha dan mencari cara bagaimana agar jurnal yang ditanganinya bisa terakreditasi.

          Banyak cara yang dapat dilakukan, seperti mengikuti atau bahkan mengadakan training tentang pengelolaan jurnal, dan tentu dukungan dari seluruh dosen agar mau dan dapat membuat karya ilmiah dengan pola dan atau out line yang dibuat oleh pengelola.  Semua itu semata-mata hanya dalam kerangka konsistensi tulisan, dan buan mencampuri subtansi isi karya ilmiah tersebut.

          Kedepan kita juga akan terus meningkatkan pendanaan jurnal tersebut dalam arti yang luas, termasuk publikasinya.  Sebab ada kesan dan barangkali memang kesan tersebut juga ada benarnya, bahwa selama ini jurnal kita hanya dicetak dan kemudian ditumpuk dalam almari, dan tidak pernah diupayakan untuk dipublikasikan  melalui berbagai media yang memungkinkan.  Akibatnya sebaik apapun kualitas tulisan atau karya ilmiah tersebut, menjadi kurang atau bahkan sama sekali tidak bermanfaat.

          Untuk itu  masalah ini  akan menjadi perioritas garapan kita kedepan.  Artinya  bahwa publikasi  itu harus menjadi prioritas utama, tentu tidak saja dalam hal karya imiahnya, seperti jurnal, buku, dan lainnya, tetapi juga seluruh aktifitas kita sebagai lembaga pendidikan tinggi sangat perlu untuk dipublikasikan melalui berbagai media, terutama melalui web kita, disampaing media lainnya, seperti surat kabar, tabloid dan lainnya.

          Kita berdoa semoga seuruh keinginan kita untuk lebih memberdayakan sumber daya manusia, terutama para dosen tersebut akan membawa perubahan besar bagi institusi kita dan pada akhirnya akan memberikan manfaat yang maksimaal pula bagi pengembangan umat dan Islam secara keseluruhan.  Amin.

Daftar Artikel Rektor
Ide dan pemikiran penulis dapat diakses melalui : http://muhibbin-noor.walisongo.ac.id

Mutiara Hikmah

Mutiara Al-Ghazali

Hiduplah sebagaimana yang kau sukai  tetapi ingat bahwasanya engkau akan mati, cintailah pada sesiapa yang engkau kasihi tetapi jangan lupa bahwasanya engkau akan berpisah dengannya dan buatlah apa yang engkau kehendaki tetapi ketahuilah bahwasanya engkau akan menerima balasan yang setimpal dengannya

Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal