Berita

Akhir Zaman, Aneh-aneh Saja

Penulis : Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag., 12 Oktober 2016, 10:42:24

Kisah tentang sesuatu yang dianggap ajaib selalu saja muncul ke permukaan. Mungkin sekedar untuk mengalihkan kekosongan jiwa atau kepengapan hidup, sehingga ada sesuatu yang dijadikan sebagai pelampiasan. Barangkali sejak dahulu sudah muncul hal-hal yang ajaib tersebut, dalam berbagai sudut kehidupan. Ada kisah orang yang mampu melakukan sesuatu yang secara akal sehat mustakhil dilakukan, namun seolah dia dapat melakukannya.

Ketika kita mendengar Dimas Kanjeng yang kemudian ditangkap atas tuduhan pembunuhan dan dugaan penipuan, juga muncul kisah ajaib seputar kehidupannya yang diceritakan dan dipercaya oleh sebagian pengikutnya. Sayangnya belangnya kemudian kedapatan, karena ternyata diantara pengikutnya ada yang kemudian menggunakan akal sehatnya.  Sesungguhnya kalau kita lihat kisahnya, sangat tidak masuk di akal waras.

Bagaimana mungkin kalau dia sanggup mendatangkan atau menggandakan uang banyak, bahkan juga makanan, motor dan lainnya, namun dalam kenyataannya para “muridnya” atau  diakui sebagai santrinya ternyata harus membayar uang pangkal atau disebut sebagai maharnya. Untuk apa mahar tersebut, kalau bukan untuk motivasi mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu seolah dia itu dapat mendatangkan uang dan lainnya.

Hal yang justru menjadi sangat ajaib dalam kasus Dimas Kanjeng tersebut ialah seorang berpendidikan tinggi, lulusan luar negeri, dan bahkan menjadi salah seorang ketua MUI pusat yang kehilangan akal sehatnya dan kesengsem dengan kelihaian Dimas Kanjeng tersebut.  Soal kemampuannya yang dikatakan hebat tersebut sesungguhnya tidak mengherankan, tetapi sekali lagi yang justru mengherankan ialah terpikatnya seorang professor kepada penipu tersebut.

Kisah semacam Dimas Kanjeng tersebut sudah cukup banyak dan sudah menelan korban cukup banyak pula, tetapi anehnya umat dan masyarakat masih saja dengan mudah dibuat tidak berdaya untuk mempercayainya. Berbagai kasus yang mirip dengannya yang bermotivasi  mendapatkan keuntungan seolah menjadi seorang dukun atau apapun namanya, tetapi seolah mempunyai kekuatan gaib tertentu sehingga dapat melakukan sesuatu yang tidak normal.

Namun ujung-ujungnya akan ketemu, yakni adanya penipuan. Untungnya kemudian muncul  orang yang menyadari hal tersebut dan kemudian melaporkan kejadian yang dialami dan juga  dialami oleh banyak orang kepada aparat penegak hukum. Hanya memang patut disayangkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap hal-hal tersebut tidak menyeluruh, sehingga masih banyak masyarakat yang dapat dengan mudahnya dikibuli oleh pihak-pihak tertentu.

Demikian juga saat ini kita digegerkan oleh kisah orang yang naik haji secara misterius di Rembang. Kita secara nalar tidak akan dapat menerimanya sebagai sebuah kenyataan, karena tidak ada bukti apapun. Kalau kemudian dikaitkan bahwa Tuhan akan mampu melakukan apapun yang dikehendaki Nya, maka kita juga yakin, tetapi untuk kasus-kasus seperti itu kita tidak perlu mengaitkannya dengan kekuasaan Tuhan segala. Mungkin kita juga tidak perlu mempersoalkannya lebih jauh, asalkan tidak dijadikan sebagai cara untuk memperoleh keuntungan tertentu.

Kejadian semacam itu juga pernah diceritakan oleh orang lain, sebab saya juga mempunyai tetangga yang pernah melakukan hal seperti itu, namun sayangnya kemudian ketahuan bahwa ceritanya tersebut bohong belaka. Pengakuan dirinya pergi haji ke tanah suci dan ketika pulang juga membawa banyak oleh-oleh khas Arab, seperti jajanan kurma, kismis dan sejenisnya, tidak lupa dia juga membeli surban dan beberapa minyak wangi khas Arab.

Para tetangga pada awalnya juga percaya bahwa dia itu benar-benar pergi haji karena ada bukti oleh-oleh yang didapatkannya, namun beberapa waktu kemudian kedoknya terbongkar, karena ternyata dia hanya pergi ke Ampel Surabaya dan untuk beberapa waktu hanya berada di sana, dan sama sekali tidak pergi ke tanah suci. Soal oleh-olehnya juga diperoleh di sekitar Ampel tersebut, yang memang banyak dijajakan oleh-oleh khas tanah suci.

Niatnya untuk membohongi tersebut ialah hanya ingin disebut sebagai haji semata, meskipun sesungguhnya dia belum mampu melaksanakannya ke tanah suci. Untungnya memang tidak ada motivasi untuk menipu orang lain yang merugikan, sehingga kasus tersebut kemudian ditutup dan masyarakat tidak mempermasalahkan lebih jauh. Namun sesungguhnya hal tersebut dapat dijadikan pelajaran bahwa memang kondisi seseorang dan masyarakat sekitar akan dapat mempengaruhi perilaku seseorang tersebut.

Kita juga tidak tahu motivasi pak Kasirin, tukang pengayuh becak di Rembang dan mengaku melakukan haji bersama dengan rombongan yang ternyata  tidak ada satupun diantara rombongan yang mengetahuinya, dan pengakuan telah bertemu dengan pembimbing di Mekah, juga setelah dikonfirmasi dengan pembimbing yang namanya disebut, ternyata juga tidak  dibenarkan. Tetapi sejauh ini memang tidak ada indikasi untuk melakukan penipuan yang dapat merugikan pihak lain.

Mungkin masih banyak lagi kisah serupa yang menghiasi daerah-daerah lain yang tidak tercover oleh kita dan juga oleh media. Namun semakin maraknya hal-hal yang  tidak masuk akal seperti itu, seharusnya menyadarkan kepada kita semua, khususnya para tokoh dan ulama, untuk lebih memperhatikan masyarakat dalam hal pembinaan. Kita tentu sangat prihatin dengan adanya hal-hal aneh seperti itu, terlepas dari apapun motivasinya.

Seharusnya semakin ke sini, masyarakat akan semakin dapat berpikir rasional dan tidak mudah disuguhi dengan hal-hal aneh yang tidak masuk akal, namun dalam kenyataannya justru semakin banyak saja, karena himpitan hidup yang semakin mendesak dan berat dipikul.  Sementara itu perhatian pemerintah dalam mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat  kurang berimbang, sehingga mereka merasa harus mencari sendiri penyelesaian persoalannya, termasuk kalau harus melakukan kebohongan atau bahkan penipuan.

Kalau orang sudah berani melakukan penipuan dan kebohongan, kemudian prakteknya tersebut diketahui oleh orang lain, maka nafsunya akan mendorong agar mereka yang mengetahui prakteknya tersebut, yang diperkirakan akan merugikannya, disingkirkan, termasuk kalau harus dibunuh misalnya. Apa yang selama ini sudah terjadi selalu saja bermotif hampir sama. Saat ini apa yang dilakukan dan dituduhkan kepada Dimas Kanjeng ialah tuduhan pembunuhan atas pengikutnya sendiri.

Barangkali yang dibunuh tersebut ialah pihak yang sudah mengetahui kedoknya, sehingga dianggap akan membahayakan keberadaan serta menggugurkan seluruh reputasi yang dibangunnya dengan penipuan tersebut. Lalu pembunuhan merupakan jalan keluar yang dianggap  sebagai penyelesaian yang aman. Namun dia rupanya lupa bahwa perbuatan jahat tersebut lambat laun akan tercium juga dan akan membawanya kepada kondisi yang lebih menyudutkannya.

Khusus untuk kasus pergi haji yang misterius dan tidak diketahui oleh orang lain tersebut, kita serahkan persoalannya kepada mereka sendiri, dan masyarakat tidak perlu tergiur dan kemudian ingin mendapatkan sebagimana yang didapatkan olehnya. Kita harus bersikap rasional dan tidak mudah digoda oleh hal-hal gaib dan tidak masuk akal, sebab hal tersebut justru akan semakin menenggelamkan diri kita dari kesadaran yang dibutuhkan untuk dapat melakukan sesuatu yang baik.

Kalau misalnya dia yakin dengan pengakuannya tersebut biarlah dimilikinya sendiri, asalkan kemudian tidak dijadikan sebagai modus untuk mengeruk keuntungan pribadi. Kalau masyarakat kemudian membiarkannya, tentu kasus tersebut akan menjadi reda dan mengjhilang dengan sendirinya, namun kalau kemudian selalu diekspose yang ditambah dengan hal yang bukan-bukan, maka persoalannya akan semakin besar dan membuat masyarakat semakin terganggu.

Semoga masyarakat kita menyadari posisi tersebut dan kemudian tidak larut dalam memikirkan hal-hal aneh yang terjadi di tengah masyarakat kita yang sedang mengalami banyak masalah.  Kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT, seraya kita terus melakukan hal terbaik dan masuk diakal. Semoga. (12/10/2016)

:: Kolom-kolom harian Prof Dr H Muhibbin MAg dapat dibaca di http://muhibbin-noor.walisongo.ac.id

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Mutiara Hikmah

Mutiara Al-Ghazali

Hiduplah sebagaimana yang kau sukai  tetapi ingat bahwasanya engkau akan mati, cintailah pada sesiapa yang engkau kasihi tetapi jangan lupa bahwasanya engkau akan berpisah dengannya dan buatlah apa yang engkau kehendaki tetapi ketahuilah bahwasanya engkau akan menerima balasan yang setimpal dengannya

Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal