Berita

Kebangkitan Komunis?

Penulis : Prof. Dr. H. Muhibin, M.Ag., 20 September 2017, 08:25:09

Beberapa hari yang lalu ada keributan di yayasan LBH Jakarta, persoalannya ialah masyarakat menduga bahwa di dalam gedung tersebut sedang berlangsung diskusi tentang sejarah PKI tahun 1965 yang diduga pula  akan  membelokkan sejarah seolah PKI itu tidak bersalah dan  kemudian menginginkan  masyarakat Indonesia meminta maaf kepada keluarga  PKI yang saat ini masih ada.  Sudah barang tentu kalau misalnya kegiatan tersebut memang benar dalam upaya untuk membela dan membenarkan keberadaan PKI tentu kita semua menjadi resah.

Panitia sendiri memang membenarkan  bahwa di dalam sedang ada seminar dan diskusi tentang sejarah  1965, namun tentu tidak akan mengakui bahwa itu dalam upaya membangkitkan kembali PKI yang sudah dilarang.  Kita memang dapat memahami bahwa  kalau yang berdiskusi tersebut anak-anak muda yang tidak mengenal sejarah sesungguhnya dan lalu dicekoki dengan masalah HAM, tentu mereka akan dengan senang hati membela keberadaan PKI tersebut, karena  telah dilarang keberadaannya di negeri kita tercinta ini.

Nah, persoalan mendasarnya ialah  mengapa anak-anak muda tersebut tidak mau mempelajari sejarah bangsanya sendiri yang pernah dikhianati oleh PKI, yang telah membantai dengan begitu kejinya kepada tujuh jenderal kita dan  di daerah-daerah telah membantai para kiyai dan santri yang sebelumnya sama sekali tidak mengetahui apa-apa.  Beruntung kemudian Tuhan masih menyelamatkan kita bangsa Indonesia, dan rakyat kemudian melakukan perlawanan hingga PKI dan seluruh antek-anteknya  lenyap.

Atas dasar pengalaman tersebut kemudian bangsa ini sadar untuk membuat sebuah kesepakatan bahwa PKI tidak boleh berada di bumi pertiwi ini untuk selama lamanya.  Catatan sejarah hitam tersebut masih sangat segar diingatan kita dan  bahkan darah mereka juga masih  terasa segara mengalir di bumi pertiwi ini, lalu mengapa ada  anak-anak bangsa sendiri yang tega dengan sikap yang bertentangan dengan itu semua, hanya karena atas nama HAM yang mereka sendiri kita yakin juga tidak mengetahui secara detail apa itu maksud sebenarnya dari HAM tersebut.

Kembali kepada kegiatan yang diprotes oleh warga tersebut bahwa dalam kenyataannya kegiatan seminar tersebut ternyata tidak mendapatkan ijin dari kepolisian.  Ini tentu menambah deretan dosa mereka bahwa  apa yang menjadi watak PKI masih juga diwarisi oleh mereka, yakni akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan, meskipun tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.  Seharusnya kegiatan semacam itu yang melibatkan banyak orang dari berbagai kalangan, harus mendapatkan ijin dari kepolisian terlebih dahulu.

Memang kita harus lebih waspada kepada semua  hal yang muaranya ialah ingin membangkitkan kembali PKI di negeri ini, apapun bentuknya.  Kita sudah sangat paham dengan segala macam tindakan PKI yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh tujuan yang diinginkan. Kalaupun misalnya kegiatan tersebut bukan untuk tujuan itu, melainkan hanya ingin ada keadilan  diantara seluruh masyarakat, tentu juga harus dipertanyakan, keadilan macam apa yang diinginkan, kalau itu terkait dengan organisasi terlarang PKI.

Masih banyak persoalan bangsa yang sangat perlu mendapatkan penanganan, termasuk pendidikan, kemiskinan, pengangguran dan juga  kesenjangan sosial.  Namun  masalah-masalah tersebut rupanya  sudah ditinggalkan oleh para aktivis, dan mereka lebih menginginkan  kegiatan yang ada sponsornya, karena dengan itu berarti mereka akan mampu untuk memerankan diri sebagai agen dan  sekaligus juga pelaksananya.  Tentu kita akan tahu bagaimana kelanjutannya.  Itulah yang terjadi pada saat ini dimana banyak kegiatan yang dilakukan hanya untuk tujuan bisnis dan bukan ideologis.

Sudah barang tentu kita sangat prihatin dengan   kondisi yang  dapat dilihat secara kasat mata tersebut, hanya persoalannya ialah aparat kita terlalu banyak pekerjaan sehingga  hal-hal penting seperti itu terkadang lepas dan kalaupun mereka sudah waspada dan tidak memberikan ijin pun kegiatan akan tetap berjalan tanpa ada hambatan.   Mungkin kegiatan yang ada di yayasan LBH jakarta tersebut menjadi salah satu yang kemudian diketahui oleh masyarakat, coba kalau misalnya lepas, pastinya akan berjalan dengan mulusnya.

Secara umum kita memang tidak akan menyetujui  dengan alasan apapun kalau misalnya PKI hidup kembali di negeri kita, karena ceritanya sudah selesai dan tidak perlu lagi diungkit, karena mendengar saja tentang nama tersebut hati ini akan kembali sakit mengenang kekejaman mereka dahulu.  Memori kita masih terlalu segar dengan semua pengkhianatan mereka dan kekejaman yang begitu tidak manusiawi yang pernah mereka lakukan.

Untuk urusan ini kita memang sudah bulat untuk tidak akan pernah memaafkan mereka dengan mengijinkan  mereka hidup kembali.  Mungkin  kalau dinalar, hal tersebut terasa tidak rasional apalagi kalau kemudian ada yang mengaitkan bahwa Tuhan sendiri saja maha pengampun, masak kita yang makhluk Nya sama sekali tidak memberikan ampunan.  Kita harus tahu bahwa Allah Swt sendiri akan mau mengampuni semua dosa yang dilakukan manusia, terkecuali dosa syirik dan Tuhan sama sekali tidak pernah mengampuninya.

Nah, kalau kemudian kita dibandingkan dengan Tuhan tersebut, kita juga  boleh menganalogkan dengan dosa syirik tersebut.  Mereka PKI memang sama sekali tidak mengakui keberadaan Tuhan sebagai Yang Maha Segalanya, dan itu sudah cukup untuk tidak memaafkan mereka, apalagi kalau kita mengenang  kekejaman yang dilakukan, bahkan melebihi iblis sekalipun. Karena itu pantas bagi kita bangsa Indonesia untuk tidak mengijinkan kembalinya PKI ke muka bumi ini untuk selama lamanya, tanpa pembatasan  waktu.

Jika saat ini kita sudah mengetahui sendiri bahwa ada upaya untuk mempengaruhi anak-anak muda kita agar mau memaafkan mereka dan rupanya anak-anak kita  ada yang mudah terpancing dengan semuanya itu, maka kita harus menanamkan pengertian kepada mereka mengenai  apa dan siapa PKI itu dan sekaligus juga  menyodorkan  sejarah yang sesungguhnya telah terjadi dan menimpa kepada bangsa ini, terutama kepada para jenderal kita yang dibantai tanpa rasa kemanusiaan sama sekali.

Kalau kita melupakan sejarah kita sendiri, terutama yang terkait dengan PKI, pastilah suatu saat nanti PKI akan dapat kembali lagi ke bumi pertiwi dan bangsa kita akan mengalami nasib yang tragis  bahkan mungkin lebih dari yang pernah dialami oleh pendahulu kita. Karena itu  kita sudah diingatkan oleh sejarah yang sedang kita mainkan bahwa kita harus menganggap peting  sejarah itu, dan sekolah-sekolah harus mementingkan persoalan sejarah, bukan hanya dianggap sebagai persoalan masa lalu  dan tidak penting untuk kita.

Mari kita ingatkan kepada seluruh generasi muda kita agar membaca sejarah yang sesungguhnya sehingga mereka akan dapat merasakan betapa sakitnya bangsa ini saat dikhianati oleh PKI. Dengan ikut merasakan apa yang dialami oleh pendahulu kita tersebut, mereka akan  dapat kita harapkan  tetap menjaga NKRI  sebagai  sebuah hal yang maha penting untuk tetap dijaga dan dirawat.

Jangan sampai ada  pihak manapun yang berusaha merebutnya dan kemudian menjadikan  kita bangsa ini menjadi penonton dan jongos di negeri sendiri.  Kita wajib mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan isyarat kepada kita agar kita tetap menjaga negara kita dari semua hal yang bertentangan dengan asal negara kita, termasuk PKI yang mungkin dapat menjelma  menjadi sesuatu yang menarik pada awalnya, tetapi pahit di akhirnya. Semoga.

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Mutiara Hikmah

Q.S. Yusuf (87)

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur (terhadap karunia Allah).”


Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Sistem Informasi Remunerasi (SIREMUN) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal