Berita

Menggambar Ilustrasi Lelah Tapi Mengasyikkan

Penulis : TIM HUMAS, 25 Oktober 2017, 15:18:33

Semarang - Membuat karya ilustrasi diperlukan daya kreatifivitas tinggi. Seorang ilustrator harus mampu mendialogkan teks dengan gambar yang diciptakan. “Ilustrasi yang baik ialah karya yang mampu merangsang imajinasi dan emosi pembaca.

Itulah pentingnya kerja ilustrasi,” kata ilustrator, Evi Shelvia saat menyampaikan materi tentang karya ilustrasi di Aula Kampus I UIN Walisongo, Jalan Prof Dr Hamka Ngaliyan, kemarin.

Menurut dia, karya ilustrasi yang baik tidak selalu dengan teknologi digital, tetapi bisa dilakukan dengan manual, yakni cat air yang diusap di atas kertas. Kegiatan tersebut, kata dia, ketika dilakukan secara berulang-ulang, membentuk pesan dalam sebuah gambar, itulah karya yang menarik.

Dia menjelaskan, dalam menghasilkan satu karya ilustrasi dibutuhkan waktu hingga lima bulan. “Memang melelahkan, tetapi kalau dinikmati jadi asyik. Sebab, menghasilkan karya ilustrasi merupakan dunia saya,” katanya. Evi Shelvia sendiri merupakan ilustrator ulung.

Karyanya tersebar di penjuru dunia. Banyak penerbit kelas internasional menggandeng Evi untuk menerbitkan karyanya. Buku berjudul ”The Gift of the Ladybug” (2012), merupakan salah satu karya diterbitkan di Amerika Serikat dan menjadi salah satu buku terlaris di toko online Amazon.

Olah Bakat

Kegiatan yang mengusung tema “Bincang Seni dan Workshop Ilustrasi” tersebut diikuti 70 orang. Mereka di antaranya mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang, sejumlah perupa dan ilustrator dari Jakarta dan Surabaya. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Dr Rahardjo menyatakan, pihaknya mendukung kegiatan seni di UIN Walisongo.

Dia menilai, kegiatan seni rupa ini dapat mengolah bakat mahasiswa. “Melalui aktivitas seni, mahasiswa akan mengasah ketrampilan artistik sekaligus kepekaan astetik. Hal ini akan membentuk manusia yang ideal dalam menyeimbangkan antara jiwa, akal, etika, dan moral,” paparnya.

Kegiatan ini sekaligus menandai diresmikannya Komunitas Ruang Rupa Walisongo (KRRW). Pembina Komunitas Ruang Rupa Walisongo, Abdullah Ibnu Thalhah mengatakan, KRRW merupakan organisasi yang mewadahi pemikiran seni dan bakat artistik mahasiswa Walisongo. “Awal mula munculnya komunitas ini dari kelas seni.

Kami bersama rekan-rekan mahasiswa terus belajar seni rupa akhirnya terbentuklah komunitas ini,” kata Thalhah. Dia menambahkan, selain menggelar pemeran dan ajang festival, KRRW secara berkala menggelar latihan menggambar kartun, komik, dan seni menulis Alquran. Semuanya ini dilakukan di kampus.

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Mutiara Hikmah

Q.S. Yusuf (87)

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur (terhadap karunia Allah).”


Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Sistem Informasi Remunerasi (SIREMUN) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal