Berita

Selamat Hari Santri

Penulis : Prof. Dr. H. Muhibin, M.Ag., 24 Oktober 2017, 08:32:32

Barangkali  saat ini seluruh santri merasakan kebahagiaan yang lebih ketimbang  sebelumnya, karena meskipun sudah dua kali dapat memperingati hari santri, akan tetapi kali ini rupanya menjadi lain dari sebelumnya.  Semua unsur masyarakat semangat untuk melakukan  peringatan hari santri, baik melalui kegiatan jalan sehat, santunan, perlombaan, dzikir dan doa bersama, sampai dengan melaksanakan upacara bendera bersama.  Keterlibatan masyarakat juga semakin kentara dan  hampir seluruh elemen masyarakat melibatkan diri dalam peringatan tersebut.

Bahkan mereka yang sesungguhnya bukan santri juga ikut-ikutan dalam memeriahkan hari santri tersebut.  Mungkin hanya orang-orang yang  tidak rela dengan munculnya hari santri saja yang masih tetap tidak peduli dengan peringatan hari santri tersebut.  Mungkin didasari oleh  keadaan bahwa pada saat akan ditetapkannya hari santri, mereka selalu menolaknya dengan berbagai alasan yang dibuat buat, dan pada saat ini tentu mereka akan merasa malu jika harus ikut merayakannya.

Sesungguhnya tidak ada yang  perlu dirasakan malu dan sejenisnya, karena hari santri saat ini sudah menjadi  ketetapan dan keputusan nasional, sehingga merupakan milik semua anak bangsa.  Kita memang tidak mengetahui secara persis hati mereka dengan peringatan kali ini.  Bisa  dan sangat mungkin bahwa mereka juga merasakan bangga karena  syiar Islam  sangat tampak, tetapi bisa saja mereka tetap menolaknya karena dilatar belakangi oleh sejarah lahirnya hari santri tersebut dimana mereka  menolaknya.

Jika kita mengingat sejarah perjuangan para kiyai dan ulama beserta para santri saat itu tentu kita akan sangat  tidak berkeberatan dengan diberikannya  hari santri nasional, meskipun sangat disayangkan bahwa sejarah tersebut saat ini kabur dan mungkin juga disengaja untuk dihilangkan. Itu  disebabkan bahwa  perjuangan para ulama dan santri tersebut sangat luar biasa dan siapapun yang hidup pada saat itu tidak mungkin akan melupakannya.  Bahkan presiden Soekarno sendirilah yang saat itu mendatangi kiyai Hasyim Asy’ari untuk meminta fatwa dalam menghadapi kedatangan pasukan Inggris.

Kiyai kharismatik tersebut pada akhirnya membuat resolusi jihad yang mampu mengobarkan semangat perlawanan kepada  tentara asing tersebut dan terus berjuang demi tanah air yang telah memberikan  banyak hal kepada mereka.  Saat itulah  muncul juga  pernyataan yang juga sangat heroik dan  memberikan keyakinan kepada para ulama dan santri untuk terus mempertahankan tanah airnya untuk mengusir orang asing yang akan menjajah negaranya, yakni bahwa cinta tanah air itu merupakan bagian dari iman.

Bahkan di kalangan umat muslim setelah itu pernyataan tersebut seolah sudah menjadi ajaran Islam yang diyakini datang dari nabi Muhammad saw.  Meskipun demikian kalau keyakinan bahwa hubbul wathon minal iman sebagai sebuah keyakinan muslim Indonesia tidak salah dan bahkan kita dapat mendukungnya.  Itu disebabkan jika penjelasannya  runtut dan  dapat dipertanggung jawabkan, maka  membela Negara yang sudah dihuni sejak lahir dan memberikan kenyamanan hidup serta kemudahan lainnya, maka itu sudah  cukup kuat untuk mengatakan bahwa semua itu menjadi sebuah kewajiban.

Santri bukanlah hanya mereka yang masih berada di pondok pesantren dan mengaji semata, melainkan termasuk juga mereka yang sudah lulus dan bermasyarakat dengan terus menjalankan ajaran Islam secara konsisten serta tetap menghargai dan menghormati kepada para ulama dan kiyai.  Bahkan secara lebih umum lagi mereka yang sudah mendapatkan gelar kiyai saja masih  dapat dikatakan sebagai santri, karena memang seperti itulah  kondisinya.  Dengan demikian seorang kiyai sekaligus juga dapat disebut sebagai santri.

Pada zaman  dahulu  keberadaan santri memang  selalu dipinggirkan atau dicibir dalam pembicaraan umum, karena posisinya yang memang tidak nyaman.  Santri selalu saja dikonotasikan sebagai sosok yang sangat jorok, tidak tahu menjaga kebersihan, ketinggalan informasi dan bodoh serta yang paling menyakitkan ialah santri itu identik dengan gudik atau penyakit gatal.  Namun demikian kita tidak mampu untuk mengkonter mereka karena secara umum kondisi santri saat itu memang demikian.  Kalaupun mereka sangat hafal dengan riwayat bahwa kebersihan itu merupakan bagian dari iman, tetapi  keadaan senyatanya itu berbeda seratus delapan puluh derajat.

Pantas saja julukan tersebut kemudian dialamatkan kepada santri secara umum, meskipun  pasti ada sebagian santri yang tetap menjaga diri dari kebersihan dan selalu dalam keadaan sehat.  Sementara itu untuk julukan bodoh juga tidak selamanya benar, karena pada saat itu para santri yang sudah lulus dari pesantren juga sangat hebat, khususnya dalam persoalan  agama.  Hanya saja ada kekurangannya, bahwa kebanyakan mereka hanya mengkaji ilmu agama saja yang juga tidak relevan dengan kehidupan nyata di masyarakat.

Dalam persoalan agama, mereka memang jago, tetapi dalam persoalan lainnya yang bersifat duniawi, mereka sangat tertinggal dan bahkan  mungkin malah tidak dapat nyambung.  Sekali lagi itu pada umumnya, karena ada pula santri yang  mampu dan bahkan lebih hebat daripada kaum lainnya dalam bidang keduniaan.  Lebih-lebih kalau sudah memberikan label gudikan itu pasti sudah  diiyakan oleh semuanya, karena pada kenyataannya hampir seluruh santri selalu saja mengidap penyakit gatal-gatal tersebut.  Penyebab utamanya ialah karena kurang dalam menjaga kebesihan.

Mereka lebih mementingkan persoalan sah atau tidaknya sesuatu, termasuk persoalan air, karena itu mereka sama sekali tidak memperhatikan persoalan kebersihan dan kesehatannya. Pantas saja kemudian mereka mendapatkan julukan yang tidak enak tersebut.  Namun saat ini  kalau masih ada  penyebutan santri gudiken, kita tentu akan tersinggung, karena aspek kebersihan dan kesehatan di pesantren-pesantren sudah lebih baik dan tentu standar kebersihannya juga dapat dipertanggung jawabkan.

Bukti yang paling mudah ialah bagaimana  santri saat ini hampir tidak ada yang gudikan.  Demikian juga kalau zaman dahulu jika ada seorang santri yang sakit mata (beleken) yang dibawa  saat dia  pulang kampung, lalu dia datang ke pesantren, maka dalam waktu sekejap seluruh santri akan mengidap penyakit yang sama, karena tempat berwudulunya  sama dan dipakai oleh semua santri.  Tetapi saat ini hampir tidak ada yang kondisinya demikian, mungkin aja  satu dua yang tetap masih menjaga kebersihan dan kesehatan.  Saat ini tempat wudlunya  mengalir lewat kran dan sejenisnya.

Sebagai santri kita memang harus menunjukkan diri bahwa kita sudah berubah secara drastis, baik dalam hal kebersihan, menjaga kesehatan,  mempelajari semua ilmu yang ada dan juga kehidupan yang sama sekali tidak dapat dikatakan sebagai jorok.  Kita juga harus menampilkan diri sebagai sosok yang  tidak kalah dibandingkan mereka yang bukan santri, termasuk dalam prestasi keilmuan dan lainnya.  Saat ini kita memang sudah dapat menyaksikan betapa banyak santri yang sudah berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan menduduki  beberapa pos penting di negeri ini.

Nah, untuk terus memberikan kepercayaan kepada santri kepada masyarakat, kiranya wajib bagi kita untuk terus menjaga diri dan  membekali diri dengan berbagai ilmu dan ketrampilan, sehingga kita tidak menjadi beban pihak lain, melainkan justru kita mampu menciptakan sesuatu yang diperuntukkan bagi orang lain.  Dengan diperingatinya hari santri nasional saat ini, kiranya juga penting bagi kita untuk menunjukkan kemampuan dan kapasitas santri kepada publik melalui berbagai media yang memungkinkan.

Mari kita sukseskan hari santri nasional kali ini dengan berbagai aktifitas positif yang memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara kita.  Biar orang lain akan ngomong apapun tentang santri, tetapi kita berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi negara dan bangsa.  Sejarah dilupakan bahkan sengaja dihilangkan juga  tidak masalah, karena santri mengabdi  tulus bukan untuk diberikan penghargaan atau sejenisnya.

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Mutiara Hikmah

Q.S. Yusuf (87)

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur (terhadap karunia Allah).”


Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Sistem Informasi Remunerasi (SIREMUN) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal