Relawan Lingkungan UIN Walisongo, Undip dan Seinan University Tanam Ribuan Mangrove di Pesisir Pantai Mangunharjo

UIN Walisongo Online; Semarang- Ratusan relawan lingkungan dari HMJ Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo, Psikologi  undip, kolaborasi internasional bersama relawan dari Seinan university  yang berjumlah 10 orang dan satu orang dari  Nice NGO Japan sebagai pemimpinnya bernama Saya. Mereka melakukan kegitan tanam 5000 bibit mangrove dari jenis Rhizopora dan memungut sampah di pantai pesisir Mangunharjo Mangkang Wetan Kecamatan Tugu kota Semarang.

Relawan dari Jepang  tinggal di Mangunharjo selama 10 hari dari tanggak 20 hingga 30 Agustus 2019, Jelas Riyan Ketua IIWC. Sebelum acara dimulai mereka saling berkenalan untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris masing –masing. Ternyata salah satu mahasiswa semester 3 dari UIN walisongo asal dari Kalimantan cakap memimpin teman-temannya untuk langsung berkomunikasi bahasa Inggris dengan teman –terman dari Jepang.

Mereka adalah mahasiswa dari berbagai jurusan, antara lain dari jurusan management juga jurusan bahasa inggris. Mereka rela melakukan kegiatan kepedulian lingkungan di Indonesia yang tujuannya adalah membantu menanam mangrove untuk mengatasi abrasi pantai  dan garbage untuk kebersihan lingkungan  dari sampah. Qonita, salah satu mahasiwa dari UIN bertanya pada salah satu relawan tentang bagaimana mengelola sampah di Jepang.

Yurika salah satu dari realawan dari Jepang menjawab, “pengelolaan sampah di tempat kami, kami dididik sejak kecil usia dini diajarkan bagaimana mengelola sampahnya sendiri. Jadi di negara kami Jepang sudah terbentuk sejak usia dini dan tidak ada orang membuang sampah sembarangan seperti di sungai selokan atau di tempat lain.”

Sungai di Indonesia yang kotor menunjukkan rendahnya kualitas air dyang berdampak pada biota di dalamnya dan masyarakat sekitar pengguna sungai. Air adalah sumber kehidupan, adapun berwarna, berbau karena ada sesuatu yang masuk di dalamnya yaitu sampah/ limbah.

Lantas, bagaiman cara membersihkan sungai? Masih dapat dilaksanakan apabila ada kesadaran bersama untuk kepedulian terhadap lingkungan.  Contohnya, Sungai Bringin  yang panjangnya 29 Km dengan lebar rata rata 6 meter  dapat menjadi tempat wisata air asal dari hulu sampai hilir dibuat komitmen bersama bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah terakhir.

Perlu juga  ditindak lanjuti dengan DANA peraturan desa atau daerah bahwa barangsiapa melanggar ada hukumannya, yang kesemua itu harus menjadi kesepakatan dengan muyawarah dan mufakat dari beberapa elemen yang terlibat bersama pemerintah membuat peraturan yang disepati bersama tentang pengelolaan sampah dan program sungai bersih.

Perlu dicatat bahwa  walaupun dengan biaya mandiri, relawan dari Jepang rela datang ke sini melakukan kegitan kepedulian terhadap lingkungan, karena mereka  memahami  bahwa persoalan lingkungan tidak terbatas oleh wilayah suatu Negara.

Selama tinggal di Semarang, mereka di support oleh IIWC ( Indonesia International Work Camp) dan PKBI ( Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia). Sebaliknya jika ada relawan dari Indonesia yang akan melakukan kegitan serupa semisal di Jepang atau di Eropa, maka NGO  akan memfasilitasi selama tinggal di sana.

Dalam waktu dekat IIWC dari PKBI akan memberangkatkan relawan ke Perancis. Bagi yang berminat silahkan kunjungi web IIWC dan PKBI Semarang yang beralamat di Jl . Jimbawan (sebelah barat Kerkop atau kuburan Belanda di Kalibanteng Semarang).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X