Seminar Nasional Psikologi 2019; Ada Apa di Ruang Maya?, Paradigma Unity Of Sciences Melenturkan Cara Pandang Memperkuat Ukhuah

Suana ruang seminar nasional di auditorium II kampus III UIN Walisongo

UIN Walisongo Online; Semarang- Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang adakan kegiatan Seminar Nasional bertajuk “Ada Apa di Ruang Maya?; Memanfaatkan ruang maya untuk menemukan jati diri, menjawab tantanganmu di era digital”, kegiatan yang secara resmi dibuka oleh Dekan FPK Prof Dr H Syamsul Maarif MAg ini berlangsung di auditorium II kampus III UIN Walisongo, Kamis (3/10).

Kegiatan Seminar nasional ini hadirkan empat narasumber yaitu Dr H Junaidi Abdillah MSI selaku dosen FSH UIN Walisongo, M. Zein Permana selaku dosen Fapsi UNJANI Founder Filosofi Ruang Hati dan Founder HEI Academy, Fathia Izzati selaku Conten Creator singer dan Adismara Putri Pradiri selaku Founder Platform Psikologi “Riliv”.

Prof Syamsul Maarif Dekan FPK didampingi Arifin WD III FPK

Menurut Prof Syamsul Maarif dekan FPK saat berisambutan, menurutnya; Konflik global belum berakhir, permainan menggunakan isu agama dan separatisme yang berujung pada radikalisme, masih sering dimunculkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Ini sungguhan, bukan “rekayasa” & fitnah. Selain sensitif dan murah meriah, isu ini mempunyai efek destruktif dan “daya ledak” tak kalah ngerinnya dengan perang. Sebagai exstra ordinary crime, radikalisme perlu dilawan dengan menampilkan generasi penuh cinta damai (peacefull jihad).

Gelombang perubahan sikap dan perilaku generasi milenial akibat pengaruh negatif digital begitu nyata; mengalienasi keintiman dan merobek nalar “kekancan” (friendshiply). Sehingga struktur masyarakat kacau tak beraturan, hilang moralitas, tak punya tatakrama dan kehilangan jatidiri.

Maka, mengembalikan cultural identity melalui transmisi pengetahuan baik di sekolah, masyarakat dan dunia maya sangat diperlukan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memperkuat paradigma integrasi keilmuan.
Paradigma unity of science (wihdatul ulum), bisa menjadi solusi alternatif–dengan pendekatan yang bersifat multiple approach–memungkinkan masyarakat, terutama generasi muda, mempunyai imun kuat mengantisipasi, mengcounter dan bersikap kritis terhadap berbagai informasi yang membanjiri dunia maya.Sehingga generasi muda akan siap menghadapi dunia maya dengan penyebaran konten-konten informasi, bermanfaat, dan bermutu di dunia sosmed dengan cara pandang yang integratif. Kemampuan dialogis kritis menfasilitasi generasi muda menjadi “duta damai” mensuport amar ma’ruf nahi munkar dan mewacanakan karakter yang simpatik, penuh cinta, serta persahabatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X