Media Sosial untuk Jaga Keutuhan Bangsa

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar dalam penggunaan media sosial di dunia. Karena itu sikap bijak sangat diperlukan dalam kehidupan bernegara. Media sosial bisa punya dua sisi. Satu sisi sangat positif dan sisi lain bisa negatif. Bekerjasama dengan Ditjen IKP Kominfo RI, Pimpinan Pusat Keluarga Alumni UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Forum Dialog dan Literasi Media dengan tema Bijak Bersosial Media Jaga Keutuhan Bangsa. Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kampus 1 UIN Walisongo Semarang (23/11) ini menghadirkan pembicara Prof Dr Widodo Muktiyo (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik), Dr Rumadi Ahmad (Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM) dan KH Nafis Junalia (akademisi)

Dalam amatan Widodo Muktiyo, media sosial telah menciptakan masyarakatnya sendiri. Media ini memiliki keterkaitan dalam kehidupan nyata. “Dunia internet demikian dasyatnya, dengan adanya media sosial semua bisa terjadi. Mari kira lihat bahwa internet merupakan salah satu alat untuk meningkatkan derajat keimanan kita. Melalui internet kita dapat memberitakan segala macam kejadian, dan dalam setiap event yang kita siarkan harus mengandung pengetahuan yang positif.”

Sebagai anak muda milineal, generasi muda harus paham mana berita baik, mana berita hoax. “Temuan isu hoax paling banyak ditemukan adalah politik. Hoax merupakan kekacauan informasi yang sering dipahami sebagai misinformasi dan disinformasi,” ujar Widodo.

Prof Widodo Muktiyo saat menyampaikan materinya.

Wakil Rektor I Rektor UIN Walisongo, Dr HM Mukhsin Jamil MAg dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada 3 hal yang terjadi dengan adanya internet dan makin dipertajam dengan media sosial, yang pertama yaitu deteritorialisasi, yaitu hilangnya batas-batas geografis dan politis. Kedua deotorisasi, meleburnya tradisi-tradisi diberbagai belahan dunia. “Jaman sekarang, tidak heran bila kita temukan di desa, nama-nama anak yang merupakan perpaduan dari budaya timur dan barat seperti Muhammad Milosevic.” Ujarnya. Dan yang ketiga adalah komersialisasi. “Medsos menjadi media komersial, siapapun bisa menjajakan produk apa saja melalui media sosial, dan banyak terjadi persaingan di dalamnya.”

Sebelumnya Ketua Kalam UIN Walisongo, H Lukman Hak8m MSi menyampaikan pengantar tentang acara ini. “Saat ini semua orang pasti memiliki telepon genggam. Yang tersambung dengan internet lebih dari 150juta nomor. Tidak jarang diantara jumlah tersebut memanfaatkan medsos untuk membuat kegaduhan ataupun ujaran kebencian. Tugas kitalah untuk memanfaatkan media sosial untuk pentingan yang barokah, sehingga kita dapat membantu negeri kita tetap damai.” Terang Lukman.

Kegiatan FGD ini dihadiri oleh sekitar 150 orang yang terdiri dari para pimpinan di lingkungan UIN Walisongo, para alumni UIN Walisongo Semarang serta mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X