Prodi Ilmu Politik FISIP UIN Walisongo Gelar Webinar Nasional Secara Virtual

 

UIN Walisongo Online: Semarang – Prodi Ilmu Politik FISIP UIN Walisongo menyelenggarakan Webinar Nasional Ilmu Politik dengan tema “Masa Depan Politik Indonesia”. Acara yang dihelat secara virtual menghadirkan narasumber Syafiq Hasyim, Ph.D (Direktur Keilmuwan dan Kebudayaan UIII), Sirojuddin Abbas, Ph.D (Direktur Ekskutif Saiful Mujani Research & Consul), Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag (Dosen FISIP UIN Walisongo) dengan Keynote Speaker Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag, Rabu (23/09/2020).

Dalam Sambutannya Dekan FISIP UIN Walisongo Dr. Hj. Misbah Zulfa Elizabeth, M.Hum menyampaikan terkait pentingnya generasi muda memiliki entitas politik yang kuat.
“Entitas politik merupakan insan yang memilki ide dan ideologi. Insan ini nantinya akan berusaha menuangkan ide gagasan dan ideologinya kedalam sistem kehidupan kita. Entitas politik tidak hanya terbatas pada politikus saja tetapi para pemangku kepentingan, akademisi, mahasiswa dan profesi lainnya. Dalam membangun sebuah bangsa diperlukan instrument politik yang sehat serta kematangan civil society sehingga menciptakan good governance,” tutur Elizabeth.

Keynote speech Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag, menyatakan apresiasinya atas kegiatan yang diselenggarakan FISIP ini, sehingga diharapkan mampu menciptakan formula-formula yang tepat dalam berkontribusi membangun bangsa. Taufiq mengemukakan pentingnya membangun hubungan causalitas antara negara dan agama.
“Modernisasi politik di Indonesia dalam tingkat tertentu telah menimbulkan sekularisasi politik. Namun di negara yang berideologi Pancasila ini, proses itu tidak akan mengarah kepada negara sekuler. Hubungan antara agama dan negara adalah hubungan persinggungan, tidak sepenuhnya terintegrasi dan tidak pula sepenuhnya terpisah.” Terangnya

Ia menerangkan bahwa di era reformasi, modernisasi politik yang demokratis berimplikasi kepada munculnya partai-partai politik baru, termasuk partai-partai Islam. Di sisi lain, ekspresi kebebasan dalam kasus-kasus tertentu telah menimbulkan perselisihan dan konflik yang bisa mengganggu harmoni sosial dan integrasi bangsa.

“Dalam konteks inilah agama dapat memberikan kontribusi yang positif sebagai faktor integratif yang menghargai kemajemukan masyarakat dan bukan sebagai faktor disintegratif yang mendukung eksklusifisme dalam masyarakat,” pungkasnya.

Syafiq Hasyim dalam memberikan materinya menyampaikan tentang bahayanya kapitalisme, kapitalisme adalah sebuah ideologi yang berasaskan sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Karena yang paling berkembang dan menonjol dalam ideologi ini adalah modal (capital) maka, kapitalisme-lah yang dijadikan patokan dalam penyebarannya.

“Bila kita analisa mengapa kapitalisme ini yang paling menonjol dan dijadikan sebuah ideologi, karena penjajahan ekonomi kapitalis lebih memudahkan sebuah negara untuk mempengaruhi negara-negara lainnya dan mempertahankan national interest negaranya melalui penjajahan ekonomi.
Penjajahan ekonomi ini nampaknya terlihat tidak berbahaya dibandingkan dengan penjajahan kolonialisme dan imperialisme gaya lama. Namun akibat yang ditimbulkan sangat mengerikan dan sejatinya lebih berbahaya. Konstelasi Politik Internasional yang dimotori oleh Amerika Serikat, mempunyai strategi untuk melancarkan serangan dengan merusak ekonomi,” pungkas alumni Leiden University ini.

Sirojuddin Abbas menyampaikan hasil riset Saiful mujani terkait indeks kepuasan demokrasi di Indonesia sebelum dan sesudah Covid-19, Indeks Kepuasan demokrasi sebelum Covid-19 sebesar 74% kemudian turun tajam setelah adanya wabah corona menjadi 59%. Data data temuan survey nasional tersebut mengindikasikan adanya efek Covid-19 terhadap konsolidasi demokrasi di Indonesia tutur alumni Universitas California Berkeley ini.

Muhyar Fanani memberikan sudut pandang terkait agama dan politik diantaranya agama menjadi sarana untuk konsolidasi politik, agama menjadi peredam konflik politik, agama menjadi sarana pemberdayaan ummat, agama menjadi modal sosial serta agama menjadi alat diplomasi.

Acara Webinar Nasional ini didukung oleh Asosiasi Program Studi Ilmu Politik (APSIPOL) serta Forum Dekan FISIP Indonesia yang dipandu oleh Wakil Dekan II Dr. Tolkhatul Khoir, M.Ag. Kegiatan ini berlangsung meriah dihadiri secara virtual sebanyak 300 peserta mulai dari pimpinan fakultas, dosen dan mahasiswa baik dari internal UIN Walisongo maupun dari perwakilan beberapa perguruan tinggi lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X