RMB UIN Walisongo Meramu Instrumen Moderasi Beragama bersama Tokoh Lintas Agama 

UIN Walisongo: Semarang – Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang mengumpulkan sejumlah tokoh berbagai agama dalam Focus Group Discussion pada Senin (18/11) di Hotel Grandhika. Acara ini diikuti oleh Anggota Rumah Moderasi Beragama dan sejumlah dosen UIN Walisongo Semarang, sepuluh orang tokoh Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) Kota Semarang dan lima orang perwakilan Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Jawa Tengah.

Mukhsin Jamil, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan dalam sambutannya menilai FGD ini penting dalam upaya pengarusutamaan moderasi beragama, merespon banyaknya potensi konflik yang timbul sebagai dampak perkembangan informasi dan teknologi.

Rencananya, instrumen yang sedang disusun oleh Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang akan diujikan ke mahasiswa dan selanjutnya diharapkan dapat digunakan masyarakat umum.

Dalam rangka menemukan titik temu konsep moderasi dari berbagai agama, lima isu aktual dibahas dalam FGD. Peserta dibagi menjadi lima kelompok untuk mendiskusikan masing-masing satu tema. Kelompok pertama membahas karikatur Nabi Muhammad dan pembunuhan guru yang terjadi di Perancis dengan Imam Yahya, Ketua Rumah Moderasi Beragama UIN Walisongo sebagai pemantik. Kelompok kedua dipimpin Ahmad Muthohar mendiskusikan Revolusi Akhlak yang digemakan Habib Rizieq.

Tema kelompok tiga terkait dengan kemenangan Joe Biden pada pemilihan presiden Amerika Serikat dan dampaknya terhadap umat beragama secara global. Ahmad Sahidin memandu diskusi mengenai hal ini. Ruswan memimpin kelompok keempat membahas perubahan ideologi pemerintahan Sudah yang berubah dari Islam menjadi sekuler. Sementara kelompok terakhir diketuai Karnadi mendiskusikan sikap keberagamaan di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Kelima kelompok diajak untuk mendiskusikan akar permasalahan dari isu-isu tersebut, respon umat beragama dan solusi terhadap potensi konflik yang ditimbulkan.
Pihak tim instrumen Moderasi Beragama dari UIN Walisongo menyatakan bahwa acara ini merupakan langkah grounded research sebagai langkah awal pembuatan instrument.

Pemilihan beberapa tema tersebut dijadikan sebagai cross discourse analysis untuk menjaring pola instrument dalam hal worldview dan sikap keagamaan untuk nantinya dimatangkan dalam bentuk instrumen moderasi beragama yang bisa dijadikan sebagai alat ukur sikap keberagamaan masyarakat secara luas. (RMB/Humas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X