Dakwah Harus Tetap Diletakkan Sebagai “Agent of Social Change”

Sudah menjadi
tugas dan tanggung jawab manusia, terutama seorang muslim untuk senantiasa menjaga
kehidupan ini agar tetap lestari dan tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil,
apalagi di era kehidupan pasca-modern yang bercirikan ilmiah-teknologis dengan
panduan rasionalisasi, profesionalisasi, obyektifitas dan pragmatisme sering
menjebak kepada pola hidup hedonisme atau memburu kenikmatan belaka tanpa
melihat nilai-nilai agama, oleh karena itu dakwah memerlukan format dan
strategi yang jitu agar memperoleh hasil yang optimal, jelas Dr Nafis MA, yang
disampaikan pada kesempatan  kuliah umum
IAIN Walisongo dalam rangka pembukaan Kuliah Semester Gasal Tahun Akademik
2010/2011 yang diselenggarakan hari Senin (30/8) lalu di Auditorium II kampus
III pukul 10.00 WIB.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa perkembangan
dan perubahan sosial, apalagi era informasi, meniscayakan
perlunya pencarian format dan konstruk dakwah yang
efektif dan operasional, baik
pada
struktur, materi, pendekatan maupun metodenya. Sejauh ini eksistensi dakwah
masih terseok-seok dalam posisi pheriferal
sebagai “the sub-ordinate culture”
dihadapan gelombang besar globalisasi dengan
komleksitas nilai dan teknologi.
Globalisasi
media yang didukung jaringan korporasi modal intemasional, misalnya, telah
menghapus batas-batas primordial, baik budaya,
sistem sosial, geografis maupun
negara.
Sebagai implikasinya, berbagai pandangan dunia dengan keberagaman cara
pandangnya bertemu secara intensif dalam satu
paket sajian; satu dengan yang lain terlibat dalam proses tarik-menarik untuk
memperoleh penerimaan para penggunanya.

 â€œDakwah
harus
tetap diletakkan sebagai agent
of social change, agent of social services
dimana
keduanya mempunyai daya rubah, baik konseptual
maupun institusional. Satu sisi,
dakwah
ditampilkan sebagai aset perubahan sosial dengan menawarkan arah, konsep
dan solusi yang tepat; pada sisi lain, dakwah akan
langsung berdialog dengan
permasalahan
pada semua aspek kehidupan dan kebutuhan manusia.
Dengan demikian akan dicapai keseimbangan doktrinal dan
tuntutan empirik”. Tegas Dosen Fakultas Dakwah itu.

Para peserta, terutama kalangan mahasiswa
terlihat sangat antusias dalam mengikuti kuliah itu, hal ini terlihat ketika
Doktor alumni UIN Suka Yogyakarta yang juga tersebut mulai menyampaikan
ceramahnya lebih dari satu jam, mereka tampak tertegun dan sesekali meresponnya
dengan sorak tepuk tangan yang meriah.

Acara ini dibuka oleh Pembantu Rektor I,
Prof Dr. H. Muhibbin, M.Ag sekaligus sebagai tanda dibukanya perkuliahan
semster gasal tahun akademik 2010/2011 dan diikuti sekitar 2.000 peserta, baik dari mahasiswa baru maupun mahasiswa lama, juga para tamu undangan
dari lingkungan IAIN Walisongo sendiri. Dalam sambutannya PR.I menghimbau
kepada para mahasiswa untuk berperilaku yang sopan, kreatif dan tidak segan
untuk menggunakan fasilitas internet yang telah disediakan kampus guna
mendapatkan pengetahuan dan informasi yang cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X