Menuju Unity of Sciences, UIN Walisongo Susun TOT

Salatiga – Agar semua mata kuliah sesuai Paradigma Unity of Sciences (Wahdal al-‘Ulum) atau sering disebut dengan kesatuan antara ilmu agama dan umum,  maka UIN Walisongo Semarang mengadakan Workshop Metodologi Pembelajaran (TOT).  Menurut Drs Khoirul Anwar MAg, selaku ketua Pokja Akademik UIN Walisongo menganggap perlu adanya penyempurnaan dalam mata kuliah, termasuk metodologinya agar sejalan dengan cita-lembaga.  
“Saat ini kita belum sempurnakan dalam mata kuliah” tegas Khoirul Anwar saat memberikan sambutan dalam pembukaan workshop yang digelar Jum’at (28/11) petang di di Hotel Le BringinKota Salatiga.
Melalui gawe yang digawangi Pokja Akademik UIN Walisongo ini, diharapkan kualitas  dosen akan terus meningkat dengan baik sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, oleh karena itu peserta yang terdiri dari para dosen UIN Walisongo diminta untuk serius dalam mengikuti keseluruhan acara untuk  mendapatkan desain mata kuliah dan silabus yang sesuai paradigma baru. 
“Follow up dari kegiatan ini bapak ibu dosen peserta tidak hanya memahami. Tetapi juga bisa mentransformasi pengetahuan kepada dosen-dosen lain di lingkungan masing-masing,” imbuhnya. Dia juga mengharapkan para peserta workshop ini nanti bisa jadi volunteer kepada dosen masing-masing”.
Dalam kesempatan yang sama Dr Muhyar Fanani, dosen fakultas Ushuluddin UIN Walisongo, memaparkan hasil kerja yang sudah dilakukan Pokja Akademik. Dia menjelaskan bahwa paradigma Unity of Sciences (Wadah al-‘Ulum) mengandung lima prinsip, yakni integrasi, kolaborasi, dialektika, prospektif dan pluralistik.
“Jika UIN Yogyakarta dalam humanisasi ilmu-ilmu keislaman lebih maju, dan UIN Malang lebih maju dalam spiritualisasi sainstek, maka UIN Walisongo menjalankan keduanya itu, ditambah revitalisasi local wisdom, dimana local wisdom merupakan ciri khas Islam Nusantara sebagaimana ketika para walisongo berdakwah” terang Muhyar.
Dia juga menghimbau para peserta workshop harus bisa membuat kurikulum sesuai profil lulusan UIN Walisongo, yaitu menjadi insan kamil (manusia sempurna), dimana insan kamil menurutnya mempunyai lima ciri yang disebut Panca Kamil, yakni, berbudi pekerti luhur, berwawasan kesatuan ilmu pengetahuan, perprestasi dalam akademik, berkarir secara profesional dan berkhidmah kepada masyarakat. (H-1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X