400 Siswa MAN Demak “Serbu” Fakultas Kedokteran UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Senin (27/04/2026) di Aula 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang terasa berbeda dari biasanya. Ratusan seragam putih abu-abu memenuhi ruangan, tawa dan bisik-bisik antusias bercampur dengan aroma semangat anak muda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan kampus kedokteran. Tak kurang dari 400 siswa dan 30 guru MAN Demak hadir dalam kunjungan edukatif yang ternyata menyimpan banyak kejutan — mulai dari pengakuan mengharukan sang kepala sekolah, bocoran biaya kuliah dokter, hingga penampilan tak terduga dari sang dekan yang menutup presentasinya dengan sebuah lagu.

Acara dibuka dengan lantunan Ayat Suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Walisongo, menghadirkan suasana khidmat sebelum rangkaian acara bergulir. Hadir dalam kesempatan ini Kepala Admisi UIN Walisongo Sayyidatul Fadlilah, M.Pd., Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Cipta Pramana Sp.OG., serta Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M.Biomed, AAM yang memimpin jalannya acara dengan penuh semangat.

Namun sebelum para tamu dari pihak kampus berbicara, semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di podium dengan senyum yang sulit disembunyikan — H. Nur Kamsan, S.Ag., M.Pd., Kepala MAN Demak. Ia mengungkapkan bahwa kedatangannya ke UIN Walisongo hari ini terasa jauh lebih dari sekadar kunjungan resmi. Keluarga besar MAN Demak, ia ceritakan, adalah alumni UIN Walisongo angkatan 1990 dari berbagai fakultas — Tarbiyah, Syariah, dan sejumlah fakultas lainnya. Bagi mereka, menginjakkan kaki di kampus ini bukan hal asing, melainkan perjalanan pulang ke rumah lama. “Datang ke UIN Walisongo ini seperti reuni kembali dengan almamater,” ucapnya. “Perubahannya luar biasa — yang dulu terlihat sepi, sumpek, dan angker, kini telah bertransformasi menjadi kampus yang modern.” Pengakuan itu disambut hangat oleh seluruh hadirin, termasuk para siswa yang tampak semakin penasaran dengan kampus yang berdiri megah di hadapan mereka.

Nur Kamsan kemudian menjelaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar wisata edukatif biasa. Ada misi yang lebih besar yang dibawa rombongan MAN Demak: memberikan gambaran nyata kepada para siswa tentang dunia studi lanjut, khususnya di Fakultas Kedokteran UIN Walisongo. Lebih dari itu, ia menyebutkan harapannya agar kunjungan ini menjadi titik awal lahirnya MoU — Memorandum of Understanding — antara MAN Demak dan UIN Walisongo, demi terjalinnya kerjasama yang lebih terstruktur dan konkret ke depannya.

Dan jika ada satu nama yang disebut dalam forum itu hingga membuat dada para siswa MAN Demak berdesir, itu adalah Muhammad Almaz Maulida. Alumni MAN Demak ini ternyata telah berhasil menembus Fakultas Kedokteran UIN Walisongo dan tercatat sebagai bagian dari angkatan pertama fakultas tersebut. Nur Kamsan menyebutnya bukan sekadar nama, melainkan bukti hidup bahwa mimpi menjadi dokter lulusan UIN Walisongo bukan hal yang mustahil bagi siswa MAN Demak. “Almaz akan menjadi role model bagi adik-adik kelasnya,” ujarnya, “untuk memacu semangat mereka masuk ke Fakultas Kedokteran UIN Walisongo.”

Giliran berikutnya adalah milik Dr. dr. Sugeng Ibrahim, M.Biomed, AAM, Dekan Fakultas Kedokteran UIN Walisongo, yang naik ke podium dengan langkah mantap. Ia memulai sambutan dengan memperkenalkan seluruh staf dan dosen Fakultas Kedokteran yang hadir — satu per satu diminta maju ke depan, menciptakan kesan bahwa para siswa sedang diperkenalkan langsung kepada calon dosen mereka kelak. Atmosfer pun berubah menjadi lebih personal, lebih dekat, seolah jarak antara dunia SMA dan dunia kedokteran tiba-tiba terasa bisa dijangkau.

Dr. Sugeng kemudian memberikan motivasi yang mengalir hangat kepada ratusan siswa di hadapannya, sebelum masuk ke informasi yang paling banyak ditunggu-tunggu: gambaran nyata tentang jalur masuk, sistem perkuliahan, dan tentu saja — biaya. Ia mengungkapkan bahwa calon mahasiswa yang diterima melalui jalur reguler tidak dikenakan uang gedung sama sekali, sebuah kabar yang tentu membuat banyak orang tua menarik napas lega. Pengecualian hanya berlaku bagi 15 kursi jalur mandiri yang tetap dikenakan uang gedung. Adapun biaya UKT per semester ditetapkan sebesar Rp49.000.000 — angka yang besar, namun disertai penjelasan tentang sistem perkuliahan berkualitas tinggi yang berjalan di baliknya.

Tentang sistem perkuliahan itu sendiri, gambaran lebih hidup justru datang di penghujung acara, ketika sesi testimoni mahasiswa digelar. Dipandu oleh MC sekaligus brand ambassador UIN Walisongo yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran, satu per satu mahasiswa berbagi cerita nyata tentang kehidupan akademik mereka. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah penjelasan tentang metode Problem-Based Learning atau PBL — sebuah pendekatan di mana mahasiswa tidak sekadar duduk menghafal teori, melainkan dihadapkan langsung pada permasalahan klinis nyata, kemudian mendiskusikannya dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi dosen, dan mempresentasikan hasil pemikiran mereka di depan kelas. Bagi para siswa MAN Demak yang baru pertama mendengarnya, metode ini terdengar asing sekaligus menggoda — jauh berbeda dari cara belajar yang selama ini mereka kenal.

Namun dari seluruh rangkaian acara yang padat dan berbobot itu, ada satu momen yang mungkin paling tak akan terlupakan oleh 400 siswa yang hadir. Di ujung presentasinya, setelah memaparkan data, fasilitas, dan jalur masuk, Dr. Sugeng Ibrahim melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam susunan acara resmi mana pun: ia mempersembahkan lagu 9 Nyawa yang dipopulerkan Risky Febian, putra komedian Sule. Aula yang tadinya hening penuh konsentrasi seketika mencair. Tepuk tangan dan tawa riuh memenuhi ruangan, dan para siswa MAN Demak pulang dengan satu kesan yang pasti: Fakultas Kedokteran UIN Walisongo bukan hanya soal buku tebal dan jas putih — ia juga punya jiwa.