Lewat Mahasiswa SAA, PHDI Kota Semarang Tangkal Radikalisme dengan “Dese, Kale dan Patre”

UIN Walisongo Online; Semarang- Pada forum jurusan Studi Agama-agama (SAA) UIN Walisongo, yaitu latihan Praktikum dialog antar agama bertajuk ‘Moderasi dalam Perspektif Agama Hindu’ di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHum), Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Nengah Wirta Darmayana menghimbau mahasiswa SAA dalam beragama, Selasa (05/11/19)

Dalam forum tersebut, Nengah mengungkapkan rasa terimakasih atas undangan dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) SAA pada dirinya, sebab sudah sekian lama beliau menjadi kepala Satuan Bina Masyarakat (KASATBINMAS) tetapi UIN tetap fokus pada perdamaian antar umat beragama.

“… Saya tidak asing dengan UIN. Di samping itu saya malah bersyukur di dalamnya masih ada Fuhum dengan situasi yang sekarang ini, membahas kerukuan dan berkutat perihal agama,” ungkapnya.

Kemudian, Nengah juga menjelaskan kalau agama itu tidak bersifat statis namun _fleksibel_ dan mampu beradaptasi dengan tantangan zaman.

“Agama harus nenyesuaikan situasi kondisi saat ini. Dalam agama hindu itu ada _dese_ (lokasi), _kale_ (waktu) dan _patre_ (keadaan),” jelasnya saat diwawancarai kru web uinwalisongo.co.id. di ruang sidang dekanat Fuhum, Selasa (05/11/19).

Agamawan asal Bali ini mencontohkan seperti Agamawan Hindu di India Utara, mereka menggunakan _boga_ sebagai pakaiannya, karena memang di sana membutuhkannya dan hal itu berbeda dengan yang ada di PHDI Indonesia.

Tidak hanya itu, ia juga berharap agar mahasiswa SAA kedepannya bertugas sebagai corong perdamaian yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Harapan saya kepada mereka karena telah mempelajari agama-agama yang ada di indonesia dengan bekal oemahaman itulah mereka akan semakin mudah mengelola perbedaan dan menjadi _linkin pin_ di masyarakat untuk merubah stigma mengerucutnya radikalisme yg terjadi,” pungkasnya. (H)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X