Pakar dari FISIPOL UGM dan FISIP Unair Isi KKL Prodi Ilmu Politik FISIP

UIN Walisongo Online, Semarang – Prodi Ilmu Politik FISIP UIN Walisongo Semarang mulai menggelar Webinar Series (1-5) selama tiga hari kedepan dalam rangka penyelenggaraan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) skema khusus dalam model “webinar series”.

Selasa (6/04/2021), merupakan hari pertama pembuakaan kegiatan webinar series. Acara ini dihadiri langsung oleh seluruh pimpinan FISIP dan panitia bersama 94 mahasiswa peserta KKL Prodi Ilmu Politik dan puluhan masyarakat umum dari berbagai daerah, baik dari kalangan mahasiswa, dosen, dan lainnya secara daring yang merupakan peserta webinar.

Pada kegiatan webinar series 1 dibuka oleh Dekan FISIP, Dr. Hj, Misbah Zulfa Elisabeth, M.Hum., sedangkan kegiatan webinar series 2 dibuka oleh WD 1 FISIP, Dr. H. Ahwan Fanani, M.Ag.

Dalam sambutannya, Dekan FISIP menyampaikan bahwa kegiatan KKL dengan sekema khusus yang diadakan melalui rangkaian kegiatan webinar ini merupakan implementasi sistem merdeka belajar yang dilaksanakan di era pandemi covid-19.

“Dalam rangka merdeka belajar, maka KKL di masa pandemi covid-19 dilakukan dengan disain webinar secara mandiri, inisiatif dan inovatif. Mahasiswa prodi ilmu politik mendapatkan kuliah pakar dalam kegiatan webinar series, sehingga diharapkan dapat membantu dan mengilhami rancangan KKN maupun tugas akhir mahasiswa yang akan dirancang kedepan.” Ujarnya.

Sedangkan WD 1 dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan webinar series ini diselenggarakan agar dapat membantu mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas dalam melihat persoalan-persoalan sosial politik yang ada di Indonesia sekarang.

“Dengan demikian, harapannya mahasiswa FISIP UIN Walisongo kedepan dapat memiliki kans dan ruang yang terbuka lebar untuk berperan dalam pentas politik nasional. sehingga kita bisa memiliki kontribusi besar bagi pembangunan bangsa Indonesia.” Terangnya.

Pada kegiatan webinar series 1 ini mengangkat tema “Penguatan Pelembagaan Partai Politik dan Relevansinya Bagi Demokrasi di Indonesia” yang menghadirkan Dr. rer pol. Mada Sukmajati (Ketua Prodi S1 Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM). Partai politik yang merupakan jantung dari demokrasi, memiliki posisi penting dalam mendorong konsolidasi demokrasi. Karena itu, penguatan pelembagaan partai politik itu penting dilakukan guna menjamin kinerja elektoral dari partai politik dan terlaksananya fungsi-fungsi partai politik dengan baik. Namun, di Indonesia saat ini, partai politik merupakan institusi politik yang mendapatkan kepercayaan publik paling rendah bersama lembaga perwakilan, yaitu DPR RI. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari buruknya kinerja partai politik di Indonesia.

“Partai politik saat ini, kencenderunganya, terintegrasi pada negara. Karena itu, alih-alih partai menjadi lembaga intermediary bagi kepentingan rakyat dan negara, malah lebih banyak menjadi corongnya negara, apalagi sumber keuangan partai politik banyak tergantung dari sumber negara,” jelas Sukmajati.

Selain itu, partai-partai di Indonesia ideologinya semakin kabur, ini khususnya terkait dengan sikap mereka dalam ranah ekonomi. Namun, terkait dengan isu-isu agama seperti isu Perda Syariah dan Miras, ideology partai-partai politik di Indonesia bisa dibedakan dan tidak bisa dipertemukan antara partai Islam dan partai nasionalis, seperti PDI Perjuangan dan PKS.

Sedangkan dalam kegiatan Webinar series 2 ini mengangkat tema “Kebangkitan Politik Aliran dan Populisme Agama: akankah menantang demokrasi di Indonesia,” yang mendatangkan Airlangga Pribandi Kusman, P.hD (akademisi FISIP Unair Surabaya).
Dalam kegiatan ini dijelaskan bahwa ruang demokrasi di Indonesia didominasi oleh kekuatan-kekuatan oligarchy power. Karena itu kekuatan politik populisme tidak dapat mendominasi kekuasaan di ranah formal negara, namu ia semakin tumbuh di ranah masyarakat sipil.

“Selama 5 tahun pemerintahan Jokowi –sekarang, kelompok populisme agama di Indonesia tidak mendominasi di ranah state power, artinya mereka lemah di level negara. Tetapi, kita tidak bisa dengan mudah menjustifikasi bahwa gerakan populisme gagal, karena mereka memiliki power di ranah masyarakat sipil. Mereka pelan-pelan mendominasi dan mempengaruhi di wilayah masyarakat sipil, seperti dalam isu-isu pendidikan, sosial media, dll. Dan ini menjadi modal sosial mereka untuk membangun kepentingan mereka dalam momen politik elektoral,” ujar Airlangga.

Dengan diselenggarakannya webinar series ke 1 & 2 Kuliah Kerja Lapangan Prodi Ilmu Politik ini telah memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dan khalayak umum terkait dengan kondisi politik dan demokrasi yang ada di bangsa Indonesia saat ini.

Kegiatan ini diakhiri dengan Tanya jawab dan closing statemen dari Dekan FISIP, Dr. Hj. Misbah Zulfa Elizabet, M.Hum dan ketua panitia webinar series, Muhammad Mahsun, M.A, yang dipandu langsung oleh para moderator yang berasal dari dosen-dosen prodi Ilmu Politik, yaitu Solkhah Mufrikhah, M.Si dan Tika Ifrida Takayasa, M.A. (Fisip/Humas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X