UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), suasana khidmat menyelimuti Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub dalam gelaran Wisuda Periode Februari 2026 UIN Walisongo Semarang. Di antara 1.277 wisudawan, terselip sebuah kisah inspiratif dari Nurul Fajriatussaadah, mahasiswi Program Studi S2 Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).
Nurul berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik jenjang Magister, sebuah pencapaian yang sempat ia anggap mustahil namun kini menjadi kado terindah bagi kedua orang tuanya di kampung halaman.
Lahir sebagai anak perempuan pertama di sebuah desa pelosok dengan akses pendidikan terbatas, Nurul tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani dengan penghasilan tidak tetap, dan ibunya adalah seorang guru ngaji.
“Banyak yang meragukan dan mencemooh ketidakmungkinan saya melanjutkan pendidikan. Namun melalui beasiswa sejak S1 hingga S2, semua keraguan itu berubah menjadi tangisan haru,” ungkap Nurul dengan mata berkaca-kaca.
Saat mengirimkan foto mengenakan selempang “Wisudawan Terbaik” kepada orang tuanya, reaksi sang ayah begitu menyentuh. “Benar kan, doa saya dikabulkan,” ujar sang ayah, sosok yang paling optimis terhadap kemampuan Nurul sejak awal.
Prestasi Nurul tidak didapatkan dengan santai. Selama menempuh studi S2, ia harus melakukan “Manage Realita”—membiayai kebutuhan hidup mandiri tanpa membebani orang tua. Nurul melakoni dua pekerjaan sekaligus secara part-time dan Work From Home (WFH).
“Hari kuliah saya belajar dari pagi sampai sore, lalu lanjut kerja. Akhir pekan saya ambil tugas freelance. Prinsip saya, semua tugas harus selesai sebelum deadline. Saya tidak belajar setiap hari, tapi saat belajar, saya pastikan waktunya berkualitas,” tuturnya mengenai manajemen waktu.
Kualitas intelektual Nurul teruji dalam tesisnya yang membedah perbedaan kinerja bank syariah di Indonesia dan Malaysia. Melalui visi Unity of Sciences UIN Walisongo, ia mengintegrasikan angka-angka ekonomi dengan nilai moral syariah.
Temuan pentingnya menunjukkan bahwa kehadiran Dewan Pengawas Syariah (DPS) bukan sekadar formalitas, melainkan memberikan sinyal positif bagi kinerja bank syariah melalui pengawasan etika dan prinsip syariah yang ketat.
Meski meraih gelar terbaik, Nurul tetap rendah hati. Baginya, gelar tersebut bukanlah penentu masa depan, melainkan amanah untuk terus berkontribusi. Ia berpesan kepada adik-adik tingkatnya untuk tidak terpaku pada angka IPK semata.
“Berikan yang terbaik dalam setiap hal. Manfaatkan peluang sekecil apa pun, bahkan yang hanya 0,01 persen, karena itu bisa jadi nilai tambah yang besar. Jalankan peranmu dengan maksimal, maka hasil akan mengikuti,” pungkasnya.


