UIN Walisongo Online, Semarang — Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang dipenuhi rasa khidmat, haru, dan kebanggaan yang mendalam pada perhelatan Wisuda Program Doktor (S3) ke-44, Magister (S2) ke-69, dan Sarjana (S1) ke-102 yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 November 2026. Di antara ribuan wisudawan yang hadir, sorotan khusus tertuju pada sosok inspiratif dari Fakultas Psikologi dan Kesehatan. Adalah Aninda Ma’rufatus Tsaniyah, mahasiswi asal Pati dari Program Studi Psikologi, yang sukses menorehkan tinta emas sebagai salah satu wisudawan terbaik berkat ketekunan, konsistensi, dan dedikasi luar biasanya selama menempuh masa perkuliahan.
Lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana di Pati di mana kedua orang tuanya bekerja sebagai petani, Aninda tumbuh dengan penanaman nilai kerja keras dan kesederhanaan. Ayah dan ibunya tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, namun perjuangan serta dukungan penuh merekalah yang menjadi bahan bakar utama bagi Aninda untuk merajut masa depan melalui dunia pendidikan. Menyadari bahwa kesempatan kuliah merupakan sebuah anugerah yang tidak dirasakan oleh orang tuanya, ia mendedikasikan seluruh energinya untuk menjalani setiap semester dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
Perjalanan Aninda menuju kursi wisudawan terbaik bukanlah sebuah target yang dipatok kaku sejak semester awal perkuliahan. Ia tidak pernah membayangkan akan meraih predikat tertinggi tersebut; fokus utamanya hanyalah merampungkan setiap materi, menuntaskan tugas, dan menjalani ujian sebaik mungkin. Kebiasaan mencicil tugas sedikit demi sedikit dan menyusun jadwal terstruktur menghindarkannya dari kepanikan deadliner, sehingga ia mampu memberikan hasil terbaik dari setiap tanggung jawab akademik yang diembannya.
Dalam menempuh pendidikan tingginya di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban, Aninda memilih untuk mencurahkan seluruh waktu dan fokusnya secara penuh pada bidang akademik, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta magang. Meski tidak mengikuti organisasi formal, ia mematahkan anggapan bahwa prestasi hanya lahir dari jalur tertentu. Baginya, kunci utama keberhasilan terletak pada kemampuan mengenali diri, menetapkan skala prioritas, dan menjaga konsistensi dalam menjalankan kewajiban utama sebagai seorang mahasiswa.
Keunggulan akademis Aninda juga tercermin dalam tugas akhir skripsinya yang mengangkat topik psikologi kontemporer bertajuk Pengaruh Pola Asuh Otoriter dan Harga Diri terhadap Fear of Intimacy pada Perempuan Dewasa Awal di Kota Semarang. Penelitian yang melibatkan 385 responden ini mengkaji hambatan kedekatan emosional pada perempuan muda yang dipengaruhi oleh pola pengasuhan masa lalu serta penilaian diri. Mengintegrasikan ilmu psikologi dengan nilai-nilai keislaman sebagai bentuk penerapan visi Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences) UIN Walisongo, ia menemukan bahwa pola asuh yang hangat dan responsif sangat krusial dalam membentuk hubungan interpersonal yang sehat bagi generasi muda.
Di balik pencapaian gemilang tersebut, Aninda tentu tidak berjalan sendirian. Dukungan emosional yang kuat hadir dari keluarga, sang kakak yang menjadi role model ketekunan, serta lingkaran persahabatan hangat bersama sahabat-sahabat karibnya yang dinamai wabi-sabi—yakni Biaya, Zizah, Epika, Ima, dan Hasna—yang senantiasa saling menguatkan di tengah dinamika perkuliahan. Ketika kali pertama mendengar pengumuman sebagai wisudawan terbaik, rasa terkejut dan syukur yang luar biasa langsung ia curahkan kepada keluarga tercinta.
“Menurut saya, gelar Wisudawan Terbaik bukan sekadar tentang angka, IPK, atau pencapaian akademik. Lebih dari itu, gelar ini menjadi pengingat bahwa setiap proses yang saya jalani, termasuk kesulitan, keraguan, dan rasa lelah selama kuliah, memiliki makna dan membawa saya sampai di titik ini,” ungkap Aninda penuh haru.
Seluruh biaya kuliah Aninda ditanggung sepenuhnya oleh orang tua tercinta, sebuah amanah besar yang ia bayar lunas melalui prestasi membanggakan hari ini sebagai wujud rasa terima kasih atas segala pengorbanan mereka. Selepas menyelesaikan studi sarjana psikologi ini, ia berencana untuk melangkah ke dunia profesional guna mengaplikasikan ilmunya, khususnya dengan menaruh minat mendalam pada bidang psikologi anak dan pendampingan anak berkebutuhan khusus (ABK) berdasarkan pengalaman magang yang telah ia tekuni.
Kisah perjuangan Aninda Ma’rufatus Tsaniyah meninggalkan pesan inspiratif yang mendalam bagi seluruh civitas akademika UIN Walisongo dan generasi muda Indonesia. Bahwa untuk meraih kesuksesan, seseorang tidak harus selalu menjadi yang paling istimewa sejak awal, melainkan cukup dengan menghargai setiap proses, menjaga konsistensi, dan bertanggung jawab penuh atas jalan hidup yang telah dipilih.


