Antara Kitab Kuning dan Jurnal Ilmiah: Kisah Rasya’ Alfirdaus, Santri Penghafal Al-Qur’an yang Menjadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub menjadi saksi bisu pengukuhan 1.277 wisudawan UIN Walisongo Semarang. Di tengah kemeriahan Wisuda Sarjana ke-99 ini, satu nama mencuri perhatian lewat dedikasinya menyeimbangkan dua dunia: pesantren dan kampus. Ia adalah Rasya’ Alfirdaus, wisudawan terbaik dari Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM).

Bagi Rasya’, predikat “Wisudawan Terbaik” bukanlah sekadar gelar administratif. Ini adalah jawaban atas doa dan disiplin panjang yang ia jalani sebagai santri di Ponpes Madrasatul Quran Al-Aziziyyah sekaligus mahasiswa di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban.

Ketangguhan akademik Rasya’ terbukti dari cara ia menyusun tugas akhirnya. Alih-alih baru memulai di akhir semester, Rasya’ sudah menyusun draf artikel ilmiahnya sejak semester 4 saat mengambil mata kuliah Semantik Al-Qur’an.

Artikelnya yang berjudul “Makna Qaşd as-Sabīl dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Toshihiko Izutsu” berhasil membedah kerumitan makna istilah tersebut dengan pendekatan linguistik modern.

“Saya menemukan bahwa perbedaan makna suatu istilah tidak selalu berarti kontradiksi, melainkan bagian dari sistem semantik yang saling berhubungan,” jelas Rasya’.

Melalui riset ini, ia mempraktikkan visi Unity of Sciences UIN Walisongo dalam bentuk Humanisasi Ilmu-ilmu Agama—menjadikan kajian Al-Qur’an lebih kontekstual dan mampu menjawab problem sosial kekinian.

Menjadi santri sekaligus mahasiswa tentu bukan perkara mudah. Rasya’ harus mematuhi aturan ketat pesantren sambil tetap menjaga performa akademik. Mengenai ketakutan mahasiswa akan organisasi yang dapat menurunkan IPK, Rasya’ memiliki pesan tegas.

“Banyak mahasiswa gagal akademik karena prinsip yang terbalik. Mahasiswa masuk organisasi karena kuliah, bukan masuk kuliah karena organisasi. Kuliah itu utama, organisasi adalah penunjang.”

Kabar membanggakan ini langsung ia sampaikan kepada sang ayah. Ekspresi bangga terpancar jelas saat sang ayah membagikan berita kesuksesan putra dari keluarga sederhana ini kepada para guru dan keluarga besar. Nilai-nilai agamis yang ditanamkan mendiang ibunya dan keteguhan ayahnya menjadi bahan bakar utama bagi Rasya’ untuk terus melangkah.

Target Rasya’ selanjutnya tidak main-main. Ia membidik beasiswa untuk melanjutkan studi S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sambil tetap mengabdi di pesantren. Baginya, belajar adalah spirit yang ia serap dari para gurunya.