UIN Walisongo Online, Semarang – Di balik toga dan senyum bahagia prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub, terdapat kisah perjuangan seorang perempuan muda bernama Aisyah—nama satu kata yang sederhana, tetapi menyimpan perjalanan akademik luar biasa.
Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Kesehatan itu menjadi salah satu wisudawan terbaik UIN Walisongo Semarang. Di lingkungan keluarga ia akrab dipanggil Isa, sementara teman sekolah dan kampus mengenalnya sebagai Ais.
Predikat tersebut bukan sekadar capaian akademik bagi Aisyah. Ia adalah sarjana pertama dalam keluarga besar sekaligus anak desa yang berhasil membuka jalan baru bagi generasinya.
“Rasanya sangat bangga dan terharu. Saya berasal dari desa dan menjadi sarjana pertama di keluarga besar. Gelar ini saya persembahkan untuk orang tua atas seluruh pengorbanan yang telah mereka berikan,” ujarnya penuh haru.
Sejak awal kuliah, Aisyah memang menargetkan capaian terbaik. Pengalaman mampu menyelesaikan pendidikan SMA hanya dalam dua tahun membuatnya ingin terus memaksimalkan proses akademik di jenjang perguruan tinggi. Namun baginya, perjalanan menjadi wisudawan terbaik tidak pernah berdiri sendiri.
“Saya berada di titik ini tidak lepas dari doa dan dukungan orang tua. Ucap terima kasih tak terhingga untuk Bapak dan Ibu tersayang,” tuturnya.
Orang Tua yang Tak Paham Dunia Akademik, tetapi Selalu Paling Bangga
Ada cerita menarik saat Aisyah pertama kali menerima kabar dirinya menjadi wisudawan terbaik. Orang pertama yang ia kabari justru bukan keluarga, melainkan sosok yang ia sebut sebagai “orang yang telah berkomitmen untuk menuju halal”.
Lewat pesan singkat, ia menerima respons hangat: “Congrats, you’re very the best, you deserve get it.”
Awalnya Aisyah ingin merahasiakan kabar itu dari orang tuanya agar menjadi kejutan saat wisuda. Namun ia akhirnya memilih memberi tahu lebih awal agar mereka bisa mempersiapkan diri datang ke Semarang. Kebahagiaan sederhana itu begitu membekas baginya, terlebih karena sang ibu belum pernah menginjakkan kaki di Kota Semarang.
“Buat Ibu, momen wisuda ini jadi pengalaman pertama ke Semarang. Saya senang bisa memberikan pengalaman baru untuk Bapak dan Ibu,” katanya.
Meski tidak memahami istilah akademik atau dunia kampus secara detail, senyum bahagia orang tua saat video call menjadi bentuk dukungan paling berarti.
“Mereka mungkin tidak banyak mengerti tentang dunia akademik, tapi respons bahagia mereka sudah sangat cukup untuk mewakili kegembiraan hati,” tambahnya.
Lulus Tanpa Skripsi, Tembus Publikasi Ilmiah Sinta 2
Sisi menarik lain dari perjalanan Aisyah adalah keberhasilannya menyelesaikan studi melalui jalur non-skripsi berbasis publikasi artikel ilmiah—sesuatu yang sejak semester empat sudah menjadi target pribadinya.
Artikel ilmiah yang ia tulis berjudul “Dibalik Kecanduan Media Sosial pada Remaja: Pengaruh Stres Akademik dan Kecemasan Sosial dengan Regulasi Emosi sebagai Mediator.”
Melalui riset tersebut, Aisyah menyoroti fenomena meningkatnya kecanduan media sosial pada remaja, terutama bagaimana tekanan akademik dan kecemasan sosial memengaruhi perilaku tersebut melalui regulasi emosi.
“Remaja sering menjadikan media sosial sebagai alat untuk meredakan stres dan memenuhi kebutuhan sosial ketika mereka mengalami tekanan akademik atau kecemasan sosial,” jelasnya.
Penelitian itu menemukan bahwa regulasi emosi menjadi mediator penting yang menjelaskan mengapa stres akademik dan kecemasan sosial dapat meningkatkan kecanduan media sosial.
Proses menuju kelulusan pun tidak mudah. Jurnal tempat artikelnya dipublikasikan sempat berada pada masa reakreditasi sehingga membuatnya cemas. Ia bahkan telah menyiapkan jalur skripsi sebagai cadangan jika publikasi tidak selesai tepat waktu.
“Awalnya saya submit di jurnal Sinta 3, tetapi saat published jurnalnya naik akreditasi menjadi Sinta 2. Itu perjalanan panjang dan penuh kesabaran,” katanya.
Konsisten Belajar, Aktif Bermusik hingga Jadi Tour Leader
Di balik capaian akademiknya, Aisyah bukan tipe mahasiswa yang hanya berkutat di kelas. Selama kuliah, ia aktif di UKM Musik UIN Walisongo, menjadi private teacher, bekerja sebagai tour leader biro pariwisata, hingga melakukan kolaborasi penelitian bersama dosen. Menurutnya, organisasi tidak pernah menjadi penghalang prestasi selama seseorang memahami kebutuhan diri dan mampu mengatur prioritas.
“Organisasi tidak membuat IPK turun selama akademik tetap menjadi prioritas dan kita mampu mengatur waktu,” ujarnya.
Ia mengaku termasuk tipe mahasiswa yang belajar setiap hari, memiliki target harian, dan menghindari budaya deadliner.
“Dengan perencanaan yang baik dan tidur cukup, semuanya lebih teratur dan tetap fresh menjalani aktivitas,” katanya.
Anak Desa yang Ingin Mengubah Ketertinggalan
Di balik capaian itu, Aisyah menyimpan cerita yang begitu personal. Ia tumbuh di keluarga sederhana. Sang ibu tidak mengenyam pendidikan formal, sedangkan ayahnya tamat sekolah dasar. Kuliahnya pun terbantu oleh beasiswa KIP-K karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Ia belajar mandiri sejak kecil dan aktif mencari informasi, termasuk soal beasiswa yang pertama kali dikenalkannya oleh guru SMP.
“Saya ingin menjadi pemacu awal untuk meninggalkan ketertinggalan dalam keluarga,” ujarnya.
Impian merantau yang sejak kecil ia simpan akhirnya membawanya ke UIN Walisongo—kampus yang, menurut pengakuannya, justru tidak pernah ada dalam daftar impian awal.
“UIN Walisongo tidak pernah ada di wishlist saya. Tapi Tuhan membawa saya belajar di sini, bertumbuh, dan ternyata mengantarkan saya menjadi wisudawan terbaik,” tuturnya.
Mengejar Mimpi Menjadi Psikolog
Selepas wisuda, Aisyah memiliki mimpi besar: menjadi psikolog. Untuk mewujudkannya, ia bercita-cita melanjutkan pendidikan profesi, meski untuk sementara waktu harus bekerja lebih dulu demi menopang langkah berikutnya. Bagi adik tingkatnya di UIN Walisongo, ia berpesan sederhana namun tegas: tetapkan tujuan sejak awal.
“Set tujuan sejak awal, tulis, ingat setiap hari. Sesuaikan langkah dengan tujuan agar lebih terarah dan konsisten,” pesannya.
Kisah Aisyah menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari fasilitas besar. Kadang, ia tumbuh dari rumah sederhana di desa, dari orang tua yang tidak mengenal dunia akademik, tetapi tak pernah lelah percaya pada pendidikan anaknya.


