UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), suasana haru dan bangga menyelimuti Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang resmi mewisuda 1.277 lulusan pada periode Februari 2026. Di antara ribuan wisudawan, sosok Khoirotulmuadiba Purifyregalia, atau yang akrab disapa Alia, mencuri perhatian sebagai salah satu lulusan terbaik dari Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST).
Perjalanan Alia menuju podium tertinggi akademik ini diwarnai dengan momen unik. Kabar mengenai keberhasilannya menjadi wisudawan terbaik pertama kali diterima oleh sang ibu melalui pesan singkat.
“Awalnya ibu mengira pesan itu penipuan,” kenang Alia sambil tersenyum. “Namun setelah dipastikan, ibu dan kakak saya sangat bahagia. Mereka selalu menjadi orang pertama yang meyakinkan bahwa saya layak atas apa yang saya perjuangkan.”
Sebagai mahasiswi IT, Alia tidak hanya bergelut dengan barisan kode (coding), tetapi juga peka terhadap isu sosial. Hal ini ia tuangkan dalam skripsinya yang berjudul “Deteksi Ulasan Palsu pada E-Commerce: Studi Kasus Shopee Menggunakan Support Vector Machine dan Random Forest.”
Ia memanfaatkan teknologi Machine Learning untuk membantu konsumen mengidentifikasi ulasan palsu secara objektif. Melalui riset ini, Alia menerapkan visi Unity of Sciences UIN Walisongo secara nyata: menggunakan ilmu komputasi sebagai alat untuk menegakkan nilai kejujuran dan keadilan dalam transaksi digital.
“Teknologi bukan sekadar alat teknis, tapi sarana memberi manfaat sosial. Dalam Islam, kejujuran adalah hal utama, dan saya mencoba menjaganya di dunia e-commerce lewat algoritma,” jelasnya.
Alia mengaku bukan tipe mahasiswa yang selalu belajar setiap hari secara kaku. Ia lebih memilih gaya belajar yang didorong oleh deadline namun dilakukan dengan fokus yang sangat tinggi. Di bidang IT yang dinamis, ia menekankan pentingnya belajar mandiri.
Tak hanya di depan layar komputer, Alia juga aktif mengasah soft skill. Ia tercatat pernah bergabung di Walisongo English Club (WEC), aktif di divisi tenis meja Saintek Sport, hingga menyelesaikan program pembelajaran UI/UX di Google Developer Student Clubs (GDSC). Baginya, organisasi adalah pelengkap akademik yang membentuk kedisiplinan tanpa harus mengorbankan IPK.
Keberhasilan Alia merupakan kado terindah bagi keluarganya. Sejak sang ayah berpulang saat ia masih duduk di bangku SMA, ibunda menjadi pilar kekuatan utama bagi Alia dan kelima saudaranya. Keteguhan sang ibu dalam membesarkan enam anak menjadi motivator terbesar Alia untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.
“Tantangan terbesar saya adalah mata kuliah teknis seperti struktur data dan desain game. Ada masa di mana usaha keras rasanya belum sebanding dengan hasil. Tapi melihat perjuangan ibu, saya memilih untuk tetap melangkah,” tutur Alia.
Setelah menyandang gelar sarjana, Alia tidak lantas berpuas diri. Ia kini tengah bersiap membidik beasiswa S2 untuk melanjutkan studi di bidang teknologi informasi. Sambil menunggu kesempatan itu, ia berencana memperdalam skill melalui pelatihan intensif dan mencari pengalaman kerja yang relevan di industri teknologi.
Kepada adik-adik tingkatnya, Alia menitipkan pesan yang menenangkan: “Masa kuliah bukan perlombaan. Setiap orang punya ritme masing-masing. Yang penting tetap berjalan, berani bertanya, dan jangan menyerah di tengah proses.”
Keberhasilan Alia membuktikan bahwa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo mampu mencetak talenta digital yang kompeten dan berintegritas. Saat ini, jalur pendaftaran SNBP dan SPAN-PTKIN 2026 telah dibuka. Segera daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari generasi inovator di Kampus Kemanusiaan dan Peradaban melalui pmb.walisongo.ac.id.


