Dikukuhkan Guru Besar UIN Walisongo, Prof. Fatkuroji Dorong Madrasah Kuasai Strategi Pemasaran Digital

UIN Walisongo Online, Semarang — Di tengah persaingan lembaga pendidikan yang semakin terbuka, madrasah kerap masih dipersepsikan sebagai pilihan kedua. Pandangan itu, menurut Prof. Dr. Fatkuroji, M.Pd., harus segera diubah melalui strategi pemasaran pendidikan yang terencana, profesional, dan berbasis mutu.

Pesan itu ia sampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Manajemen Pemasaran Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang, Sabtu (14/2/2026), dalam rangkaian pengukuhan 10 guru besar di Auditorium II Kampus III.

“Persoalan utama madrasah bukan semata kualitas, tetapi bagaimana kualitas itu dikelola dan dikomunikasikan secara efektif,” ujarnya.

Fatkuroji menyoroti kenyataan bahwa sebagian masyarakat masih memandang madrasah identik dengan pendidikan keagamaan semata, dengan ekspektasi terbatas pada penguasaan sains dan teknologi. Persepsi tersebut, meski tidak sepenuhnya tepat, berpengaruh terhadap preferensi orang tua dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya.

Padahal, menurut dia, banyak madrasah telah bertransformasi dengan mengintegrasikan ilmu umum dan keagamaan secara seimbang, bahkan mengembangkan program unggulan seperti tahfidz Al-Qur’an, penguatan karakter Islami, hingga inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

Di sinilah pentingnya manajemen pemasaran jasa pendidikan. Madrasah, katanya, harus memahami bahwa layanan pendidikan adalah jasa yang bersifat tidak berwujud (intangible), sangat bergantung pada kualitas proses, sumber daya manusia, serta pengalaman belajar peserta didik.

“Kepercayaan publik dibangun melalui kualitas layanan yang konsisten dan terukur,” tegasnya.

Dalam kerangka teoretisnya, Fatkuroji menguraikan pentingnya penerapan bauran pemasaran pendidikan 7P: product, price, place, promotion, people, physical evidence, dan process.

Produk pendidikan, menurutnya, tidak hanya berarti kurikulum formal, tetapi juga jaminan mutu lulusan yang berakhlak, berprestasi, dan kompeten. Kebijakan biaya (price) harus proporsional dengan kualitas layanan. Lokasi (place) yang strategis serta lingkungan belajar yang kondusif memperkuat daya tarik lembaga. Promosi (promotion), khususnya berbasis digital, menjadi instrumen penting dalam membangun citra.

Sementara itu, tiga unsur tambahan—people, physical evidence, dan process—menjadi penentu pengalaman layanan. Profesionalisme guru dan tenaga kependidikan, fasilitas yang memadai, serta proses pembelajaran yang interaktif dan relevan, membentuk kepuasan peserta didik dan orang tua.

Fatkuroji merujuk berbagai kajian yang menunjukkan bahwa kualitas layanan (service quality), pengalaman pengguna (customer experience), dan reputasi institusi (institutional reputation) menjadi determinan utama daya saing lembaga pendidikan di era global.

Ia juga menekankan urgensi pemasaran berbasis digital. Media sosial, situs web interaktif, dan kampanye daring memungkinkan madrasah menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus membangun narasi keunggulan secara autentik.

Transformasi digital, katanya, bukan sekadar alat promosi, tetapi instrumen strategis dalam membangun positioning lembaga. Madrasah harus mampu menampilkan diferensiasi program, prestasi siswa, serta nilai-nilai Islam sebagai identitas unik yang tidak dimiliki sekolah umum.

“Madrasah perlu membangun brand yang kuat, kredibel, dan relevan dengan kebutuhan generasi digital,” ujarnya.

Lebih jauh, Fatkuroji menegaskan bahwa strategi pemasaran pendidikan bukanlah komersialisasi pendidikan. Sebagai lembaga nirlaba, madrasah tetap berorientasi pada pelayanan dan kepuasan pemangku kepentingan.

Kepercayaan masyarakat, menurutnya, dibangun melalui transparansi pengelolaan, kolaborasi dengan komite dan alumni, serta konsistensi dalam menunjukkan prestasi akademik dan non-akademik.

Ia juga membuka ruang inovasi pendanaan, seperti wakaf produktif dan donasi komunitas, sebagai alternatif penguatan keberlanjutan lembaga tanpa mengorbankan mutu.

Pengukuhan Prof. Fatkuroji bersama sembilan guru besar lainnya—dari Tasawuf Falsafi, Teologi Islam Indonesia, Ilmu Kalam, hingga Ilmu Komunikasi—menegaskan komitmen UIN Walisongo dalam memperkuat tradisi akademik lintas disiplin.

Namun, sebagaimana ditekankan Fatkuroji, gelar guru besar bukanlah akhir perjalanan ilmiah. Ia adalah amanah untuk terus mengembangkan gagasan yang berdampak bagi kemajuan pendidikan Islam.

Di tengah kompetisi yang semakin ketat, pesan itu terasa relevan: madrasah tidak cukup hanya bermutu, tetapi harus mampu mengelola mutu tersebut secara strategis, komunikatif, dan berkelanjutan—agar menjadi pilihan utama masyarakat, bukan sekadar alternatif.