UIN Walisongo Online, Jakarta – Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, Adeni, M.A., memaparkan hasil penelitian mengenai negosiasi otoritas keagamaan di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) dalam kegiatan Annual International Conference on Islam, Media and Digital Society (AICIMIDS) 2026, Kamis (13/8/2026), di Hotel Millenium, Jakarta.
Dalam konferensi bertema “Media, the Contemporary Muslim World and Digital Network Society: Authority, Identity and Social Transformation” tersebut, Adeni bersama Fitri, Fathimah Nadia Qurrota A’yun, dan Amelia Rahmi mempresentasikan penelitian berjudul “Negotiating Religious Authority in the Age of Artificial Intelligence: MUI’s Digital Discourses on AI.”
Penelitian ini mengkaji bagaimana Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespons perkembangan AI sekaligus menegosiasikan posisi dan otoritas keagamaan melalui wacana digital. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui analisis wacana digital terhadap materi terkait AI yang dipublikasikan pada situs resmi MUI sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Adeni menjelaskan bahwa perkembangan AI tidak serta-merta menggantikan otoritas keagamaan. Sebaliknya, kehadiran AI menciptakan kondisi baru yang membuat otoritas keagamaan perlu kembali didefinisikan, divalidasi, dan dikomunikasikan dalam lingkungan digital.
Salah satu temuan utama penelitian menunjukkan adanya batas epistemik yang dibangun MUI antara kemampuan AI dalam menghasilkan atau menemukan informasi keagamaan dengan syarat yang harus dipenuhi agar informasi tersebut dapat diakui sebagai pengetahuan keagamaan yang legitimate.
“AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti dakwah, layanan keagamaan, pembelajaran, dan produksi konten. Namun, informasi yang dihasilkan AI tidak serta-merta memiliki legitimasi keagamaan,” demikian garis besar temuan yang dipaparkan dalam penelitian tersebut.
Menurut penelitian ini, validitas informasi keagamaan yang diperoleh melalui AI tetap memerlukan pertimbangan manusia, proses verifikasi atau cross-checking, keterlibatan ulama, penggunaan referensi yang otoritatif, serta keterhubungan dengan tradisi transmisi pengetahuan keagamaan yang telah established.
Lembaga juga melakukan adaptasi yang dilakukan antara lain dengan mendorong para aktor keagamaan untuk meningkatkan kompetensi digital, berpartisipasi dalam komunikasi yang dimediasi algoritma, serta terlibat dalam perkembangan AI melalui kolaborasi dan berbagai inisiatif kelembagaan, termasuk “MUI GPT” dan “Mujahid Digital.”
Penelitian tersebut menegaskan bahwa perkembangan AI menghadirkan perubahan terhadap cara otoritas keagamaan dipertahankan dan dikomunikasikan. Otoritas keagamaan tidak hilang karena kehadiran AI, tetapi mengalami re konfigurasi terhadap kondisi bagaimana otoritas tersebut divalidasi, dikomunikasikan, dan dipertahankan di ruang digital.
Pemaparan Adeni menjadi bagian dari kontribusi akademik FDK UIN Walisongo Semarang dalam diskusi mengenai relasi antara Islam, media digital, dan perkembangan teknologi AI. Penelitian ini sekaligus memperluas kajian digital religion dan mediatization dengan melihat bagaimana institusi keagamaan melakukan dua proses secara bersamaan, yakni membangun batas epistemik terhadap AI dan melakukan adaptasi kelembagaan terhadap lingkungan komunikasi yang dimediasi AI.
Melalui penelitian tersebut, perkembangan AI dipandang bukan semata sebagai persoalan teknologi, tetapi juga sebagai tantangan epistemologis dan kelembagaan bagi institusi keagamaan. Karena itu, penguatan literasi digital, kemampuan verifikasi informasi, keterlibatan ulama, dan kesiapan institusi menjadi bagian penting dalam menjaga otoritas pengetahuan keagamaan di tengah transformasi digital.


