UIN Walisongo Online, Semarang – Sosok tenang dan konsisten melekat pada M. Nabih Z. A., wisudawan terbaik Program Magister (S2) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora dalam Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang digelar pada Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Menariknya, pencapaian ini bukan kali pertama bagi Nabih. Sebelumnya, ia juga pernah menyandang predikat wisudawan terbaik saat menempuh studi sarjana.
Bagi Nabih, keberhasilan meraih predikat serupa di dua jenjang pendidikan bukan sekadar capaian akademik, tetapi bukti dari konsistensi yang dirawat sejak awal perjalanan kuliah.
“Alhamdulillah, saat S1 saya juga memperoleh predikat wisudawan terbaik, dan pada jenjang S2 ini kembali dipercaya memperoleh penghargaan yang sama. Ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah,” ungkapnya.
Berbeda dengan pengalaman saat S1 yang terasa mengejutkan, pada jenjang magister ini Nabih justru mengaku telah menargetkan dirinya sejak semester awal untuk kembali menjadi wisudawan terbaik. Karena itu, ia menjaga ritme belajar, disiplin akademik, dan kesungguhan dalam proses penelitian secara konsisten.
“Ketika S1 dulu saya sangat terkejut karena tidak pernah membayangkannya. Di S2 ini rasanya berbeda, lebih terarah, lebih terencana, tetapi tetap penuh rasa syukur,” katanya.
Konsisten Belajar, Bukan Deadliner
Di tengah stereotip mahasiswa yang akrab dengan sistem kebut semalam, Nabih memilih jalan berbeda. Ia mengaku bukan tipe deadliner, melainkan mahasiswa yang membangun kebiasaan belajar secara rutin setiap hari.
Baginya, studi Al-Qur’an dan tafsir membutuhkan ketekunan, pembacaan literatur yang mendalam, serta analisis yang tidak bisa dikerjakan secara instan.
“Saya lebih nyaman belajar secara konsisten sedikit demi sedikit setiap hari. Dengan begitu, pemahaman menjadi lebih mendalam dan proses akademik terasa lebih stabil,” ujarnya.
Kebiasaan inilah yang menurutnya membantu menjaga kualitas akademik sekaligus meminimalkan tekanan berlebihan saat menghadapi tugas maupun penyusunan tesis.
Mengkaji Tuduhan Zina di Era Digital
Salah satu sisi menarik perjalanan akademik Nabih tampak dari tesis yang ia garap. Mengangkat judul “Penafsiran Kontekstual Ayat Tuduhan Zina dan Relevansinya dengan Hukum Positif Indonesia (Pendekatan Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed)”, penelitian Nabih mencoba menjawab problem sosial yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini: tuduhan tanpa bukti, fitnah, pencemaran nama baik, hingga penyebaran informasi di ruang digital.
Melalui pendekatan tafsir kontekstual, Nabih menelaah QS. an-Nūr ayat 4 dengan mempertimbangkan konteks sejarah sekaligus relevansinya terhadap masyarakat modern. Ia menemukan bahwa syarat menghadirkan empat saksi dalam tuduhan zina bukan semata ketentuan hukum yang kaku, tetapi merepresentasikan prinsip kehati-hatian yang sangat tinggi dalam menjaga kehormatan seseorang.
“Intinya, ayat tersebut menekankan perlindungan martabat manusia agar seseorang tidak mudah dituduh tanpa bukti yang kuat,” jelasnya.
Penelitian ini juga menjadi contoh penerapan visi Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences) di UIN Walisongo. Dalam tesisnya, Nabih mempertemukan studi tafsir Al-Qur’an dengan hukum positif Indonesia, khususnya terkait perlindungan kehormatan individu, asas praduga tak bersalah, dan etika komunikasi di era digital.
Forum Diskusi yang Membentuk Tradisi Intelektual
Meski tidak aktif dalam organisasi formal saat menempuh S2, Nabih justru menemukan ruang intelektual yang membentuk perjalanan akademiknya melalui forum mahasiswa bernama Lingkar Diskusi Bayyana. Forum tersebut menjadi tempat mahasiswa berdiskusi mengenai buku, teori, metodologi tafsir, hingga isu-isu kontemporer dalam studi Al-Qur’an.
“Tradisi intelektual tidak hanya dibangun di ruang kelas formal, tetapi juga tumbuh dari budaya diskusi yang kritis dan dialogis,” katanya.
Di forum itu, Nabih merasa belajar banyak tentang pentingnya membuka perspektif, mempertajam analisis, dan membangun budaya akademik bersama rekan mahasiswa.
Terinspirasi Keluarga dan Sosok Teladan
Di balik keberhasilannya, Nabih tidak melupakan peran keluarga sebagai sumber dukungan utama. Orang pertama yang menerima kabar keberhasilannya adalah keluarga, yang menurutnya selalu menjadi sumber doa dan motivasi sejak awal.
Ia juga menyebut dua figur penting dalam hidupnya, yakni pamannya, Dr. K.H. Chariri Shofa, M.Ag., sebagai role model keilmuan, serta ayahnya, Prof. Dr. M. Mudhofi, M.Ag., yang menjadi motivator utama dalam membangun integritas dan kecintaan terhadap pendidikan.
Tak hanya itu, Nabih juga mengapresiasi dukungan calon pendampingnya, Leni Nur Azizah, yang menurutnya turut memberi semangat dan kepercayaan diri selama menjalani proses akademik.
Ingin Lanjut S3 dan Mengajar
Selepas menyelesaikan studi magister, Nabih menargetkan langkah berikutnya: melanjutkan pendidikan doktoral apabila mendapat kesempatan beasiswa, termasuk melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Namun, jika kesempatan studi belum datang, ia ingin terlebih dahulu mengembangkan pengalaman mengajar di perguruan tinggi, khususnya pada bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
“Pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi tentang bagaimana ilmu itu dijaga, dikembangkan, dan memberi manfaat,” ujarnya.
Kepada mahasiswa UIN Walisongo, Nabih berpesan agar tidak takut memiliki target besar dan tetap konsisten menjalani proses.
“Pencapaian akademik yang baik bukan hanya soal kecerdasan, tetapi soal disiplin, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang setiap hari,” pesannya.
Bagi Nabih, predikat wisudawan terbaik bukanlah garis akhir, melainkan pengingat bahwa ilmu harus diiringi tanggung jawab moral untuk terus belajar, menjaga integritas, dan memberi kebermanfaatan bagi masyarakat.


