Kearifan Lokal Samin di Tangan Magister: Kisah Darsini, Wisudawan Terbaik UIN Walisongo yang Padukan Spiritualitas dan Resolusi Konflik

UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi hari yang bersejarah bagi 1.277 wisudawan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Di tengah riuh rendah kebahagiaan di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub, mencuat satu nama yang mencuri perhatian: Darsini.

Lulusan program Magister Ilmu Agama Islam ini dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda Periode Februari 2026. Namun, bagi Darsini, gelar “terbaik” hanyalah sebuah bonus dari proses tanggung jawabnya sebagai penerima beasiswa BIB (Beasiswa Indonesia Bangkit).

Apa yang membuat pencapaian Darsini istimewa adalah tesisnya yang berani mengangkat nilai lokal yang sering disalahpahami. Berjudul “Nrimo dan Ngalah sebagai Mekanisme Transformasi Konflik Masyarakat Samin Klopoduwur Blora dalam Menghadapi Konflik Industri Semen”, Darsini memberikan angin segar dalam studi resolusi konflik.

Di saat banyak pakar fokus pada program institusional yang kaku, Darsini justru mendalami bagaimana sikap batin masyarakat Samin mampu mengelola konflik industri di Pegunungan Kendeng.

“Saya melihat nrimo dan ngalah bukan sebagai kepasrahan buta, melainkan lived values atau kecerdasan mental. Ini adalah praktik sosial konkret yang menjaga keharmonisan saat menghadapi tekanan eksternal,” ungkap Darsini.

Perjalanan akademik Darsini di jenjang S2 ini adalah sebuah lompatan besar. Berangkat dari latar belakang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) saat S1, ia harus berjibaku dengan teori-teori sosiologi dan resolusi konflik modern yang asing baginya.

Tantangan ini justru menjadi ruang baginya untuk menerapkan visi Unity of Sciences (UoS) UIN Walisongo. Darsini berhasil melakukan “spiritualisasi ilmu modern”, di mana nilai etis Islam berdialog dengan kearifan lokal Samin dan teori resolusi konflik modern.

Banyak mahasiswa terjebak dalam jadwal yang kaku, namun Darsini memilih pendekatan yang fleksibel. Strategi Early Start, untuk materi sulit, ia mulai mengerjakan jauh-jauh hari agar punya ruang eksplorasi. The Power of Deadline, untuk tugas ringan, ia mengaku sering mendapat “energi kreatif” saat mendekati tenggat waktu.

Darsini menyebut dua tokoh besar sebagai mentor spiritual dan intelektualnya. Ia mengagumi Gus Baha karena kemampuannya mendakwahkan agama dengan santai dan sederhana. Sementara itu, sosok Prof. Ahmad Syafi’i Maarif melalui karya “Memoar Seorang Anak Kampung” telah membentuk pandangannya yang egaliter terhadap fenomena keagamaan di Indonesia.

Namun, di atas semua tokoh besar itu, sosok ibunya adalah motivator utama. “Hal-hal baik yang datang kepada saya adalah lantaran doa dan rida dari Ibu,” tuturnya haru.

Pasca-wisuda, Darsini berencana untuk langsung terjun ke dunia kerja di mana pun ia bisa bermanfaat. Ia juga bertekad memaksimalkan teknologi digital untuk menyebarkan ilmu agama secara sederhana dan menyenangkan, agar tidak terkesan mengintimidasi.

Wisuda periode ini, yang meliputi Wisuda Doktor (S3) ke-41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99, menjadi bukti bahwa UIN Walisongo terus melahirkan akademisi yang tidak hanya cerdas di atas kertas IPK, tapi juga peka terhadap kearifan lokal dan persoalan kemanusiaan.