Kisah Haru Brahita Adilla Diva: Tangis Bahagia Orang Tua Mengiringi Capaian Wisudawan Terbaik UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Gelaran Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang yang berlangsung di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) dipenuhi momen haru. Salah satu kisah inspiratif datang dari Brahita Adilla Diva Kusmala (Diva), mahasiswi Program Studi Gizi, Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) asal desa kecil di Kabupaten Kebumen, yang sukses menyandang predikat wisudawan terbaik.

Tangis Haru dan Bukti Pengorbanan Orang Tua

Bagi Diva, kabar kelulusannya sebagai wisudawan terbaik datang tanpa diduga. Menjalani program studi yang awalnya tidak masuk dalam rencana masa depannya, Diva tidak pernah menargetkan predikat lulusan terbaik. Namun, ketika pengumuman resmi itu tiba, kedua orang tuanya yang merupakan guru tak sanggup menahan tangis haru sembari memeluk sang putri.

Perjalanan studi Diva sepenuhnya dibiayai oleh orang tua setelah beberapa kali mencoba mendaftar beasiswa namun belum membuahkan hasil. Hal tersebut justru memicu semangat juangnya untuk membuktikan bahwa pengorbanan finansial keluarga tidak sia-sia.

“Kedua orang tua saya menangis haru karena tahu apa yang saya jalani di awal perkuliahan bukanlah rencana awal saya. Saya hanya berusaha memaksimalkan setiap kesempatan dan melakukan yang terbaik untuk membuktikan bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia,” tutur Diva.

Patahkan Stigma Dosen ‘Killer’ dan Mitos Organisasi

Selama menempuh studi, Diva menorehkan prestasi sebagai Juara 2 Infografis Ilmiah Nutrition Festival UHAMKA. Ketekunan akademiknya dibuktikan saat ia berani mengambil dosen pembimbing skripsi yang dikenal paling disegani dan ditakuti mahasiswa gizi. Lewat sikap pantang menyerah dan terus belajar dari kesalahan, Diva justru mendapatkan dukungan penuh hingga menyelesaikan tugas kerjanya dengan lancar.

Diva juga berhasil mematahkan mitos bahwa aktif berorganisasi dapat menurunkan prestasi akademik. Ia mengemban amanah nasional sebagai Wakil Sekretaris Jenderal I Ikatan Lembaga Mahasiswa Gizi Indonesia (ILMAGI). Selain memperluas relasi hingga ke tingkatan PERSAGI dan AIPGI, Diva membagi waktunya dengan mengajar les privat matematika dan bahasa Inggris.

“Kuncinya ada pada perencanaan terstruktur dan skala prioritas. Organisasi justru membuka akses informasi kompetensi gizi dari seluruh Indonesia yang tidak didapatkan di ruang kelas,” jelas mahasiswi yang terbiasa menyicil materi jauh-jauh hari ini.

Skripsi Diare Anak dan Integrasi Unity of Sciences

Kepekaan akademis Diva tertuang dalam karya skripsinya yang meneliti bahaya diare akut pada anak. Ia menyoroti bagaimana perilaku cuci tangan dan konsumsi jajanan sekolah menjadi jalur transmisi bakteri patogen yang diperparah oleh kondisi status gizi anak.

Menerapkan paradigma Unity of Sciences khas UIN Walisongo, Diva mengaitkan hasil risetnya dengan konsep konsumsi makanan yang halalan thayyiban (halal, berkualitas, dan sehat secara proses) serta hadis Nabi bahwa perut adalah salah satu sumber penyakit.

Langkah Menuju Profesi Dietisien

Dengan gelar wisudawan terbaik di tangannya, Diva memaknai capaian ini sebagai amanah besar untuk terus membawa nama baik almamater. Setelah wisuda, ia bersiap melanjutkan studi profesi Dietisien untuk mewujudkan impiannya menjadi ahli gizi klinik di rumah sakit atau kementerian terkait.

Diva menitipkan pesan hangat bagi adik-adik tingkatnya di UIN Walisongo agar tidak ragu pada potensi diri.

“Jangan pernah membandingkan lintasan belajar kita dengan orang lain. Bermimpilah, nikmati setiap proses, dan jadilah pribadi yang tetap rendah hati serta bermanfaat bagi sesama,” tutupnya penuh semangat.