Kisah Warda, Wisudawan Terbaik FDK UIN Walisongo dan Pejuang Kemanusiaan di Papua

UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), menjadi momen penuh air mata bahagia di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Di antara 1.277 wisudawan yang dikukuhkan, nama Warda Rida Lailatul Mukarromah mencuat sebagai lulusan terbaik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

Warda, sapaan akrabnya, berhasil menyisihkan 211 wisudawan S1 di fakultasnya dengan catatan prestasi yang gemilang. Namun, di balik selempang predikat “Terbaik”, tersimpan kisah perjuangan seorang anak petani yang bertekad memutus rantai ketidakterpelajaran di keluarganya.

Lahir dari keluarga sederhana di sebuah desa, Warda adalah sosok pertama dalam garis keturunannya yang berhasil meraih gelar sarjana. Baginya, prestasi ini adalah “pembayaran tunai” atas keringat orang tuanya yang bekerja keras di sawah demi membiayai kuliahnya.

“Motivator terbesar saya adalah orang tua. Mengingat kerja keras mereka adalah alasan utama saya untuk tidak boleh menyerah. Gelar ini adalah pembuktian bahwa proses panjang yang kami jalani tidak sia-sia,” ujar lulusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) ini.

Intelektualitas Warda tidak hanya diuji di ruang kelas. Ia menulis artikel ilmiah berjudul “Nilai-Nilai Bimbingan dan Konseling Pranikah dalam Buku Wonderful Journeys for a Marriage Karya Cahyadi Takariawan.” Penelitian ini ia susun sebagai solusi atas tingginya angka perceraian di Indonesia, menekankan pentingnya kesiapan mental dan spiritual sebelum membina rumah tangga.

Jiwa kemanusiaannya pun teruji saat ia mengikuti KKN Misi Khusus di Fakfak, Papua Barat. Di Indonesia Timur, Warda tidak hanya mengabdi, tetapi juga belajar tentang keragaman.

“Papua memberi saya keluarga baru. Di sana, stigma negatif patah oleh keramahan dan nilai kemanusiaan yang luar biasa kuat. Itu adalah pengalaman paling berharga selama saya kuliah,” kenangnya.

Warda adalah bukti nyata bahwa organisasi bukan penghambat prestasi. Daftar organisasinya sangat panjang, mulai dari DEMA FDK, PMII, Relawan Kesejahteraan Sosial, hingga yayasan kemanusiaan seperti Langkah Baik Indonesia.

Ia memegang prinsip “kerjakan hari ini, jangan tunda”. Baginya, aktif berorganisasi justru melatih tanggung jawab yang tidak didapatkan di bangku kuliah. “Organisasi itu ruang belajar tambahan. Kuncinya hanya manajemen waktu dan konsistensi,” tegasnya.

Seperti mahasiswa lainnya, Warda pun pernah merasa lelah. Namun, ia selalu memegang teguh pesan Imam Syafi’i tentang perihnya kebodohan jika tidak sanggup menahan lelahnya belajar.

Saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan jika bisa kembali ke masa mahasiswa baru, Warda menjawab dengan haru: “Untungnya kamu tidak menyerah.”

Kini, setelah resmi menyandang gelar sarjana, Warda membidik kursi S-2 untuk melanjutkan studi atau terjun ke dunia profesional guna mengembangkan kapasitas diri. Harapannya untuk UIN Walisongo tetap satu: agar kampus Unity of Sciences ini terus mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga memiliki karakter kemanusiaan yang kuat.