UIN Walisongo Online, Boyolali – Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui Pelatihan Literasi Digital Pertanian bagi Remaja Masjid di Desa Sumber, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, pada Sabtu–Minggu (12–13/9/2026). Mengusung tema “Membangun Generasi Muda Cerdas, Kreatif, dan Inovatif di Era Digital Pertanian”.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi generasi muda dan masyarakat Desa Sumber untuk mengenal pemanfaatan teknologi digital dalam pengembangan sektor pertanian. Tujuan kegiatan ini mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian melalui pemanfaatan teknologi digital, pengolahan potensi lokal, hingga pemasaran produk pertanian melalui media digital.
Kegiatan ini diikuti oleh 50 remaja masjid dan dibuka oleh Sekretaris Desa Sumber, Sabikhis. Dalam sambutannya, ia memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Desa Sumber, mulai dari sumber mata air, lahan pertanian, hingga potensi ekonomi desa yang didukung oleh keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ia menyampaikan bahwa potensi yang dimiliki Desa Sumber perlu terus dikembangkan dengan melibatkan generasi muda. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi desa agar semakin dikenal masyarakat luas.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, M. Alfandi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu aplikasi dari fungsi Tri Dharma Peguruan Tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Selanjutnya disampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya untuk membuka ruang bagi generasi muda Desa Sumber agar dapat terlibat lebih jauh dalam pengembangan pertanian. “Kami ingin mewadahi para remaja agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi digital, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk mengembangkan potensi yang ada di desa. Salah satunya melalui pengembangan kelompok tani yang nantinya dapat memanfaatkan teknologi dan literasi digital dalam kegiatan pertanian,” ungkapnya.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Media Literacy Center (MLC) UIN Walisongo dan dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, dengan materi yang berkaitan dengan literasi digital, inovasi pertanian, serta pemasaran produk pertanian melalui media digital.

Narasumber pertama, Dra. Amelia Rahmi, M.Pd., menyampaikan materi “Urgensi Literasi Digital Pertanian bagi Remaja Masjid Pedesaan.” Ia mengajak peserta untuk melihat berbagai persoalan dan bahan yang ada di sekitar sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai guna. Menurut Amelia, literasi digital dalam bidang pertanian tidak hanya berkaitan dengan penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan generasi muda untuk mencari, memahami, mengembangkan, dan membagikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Pemateri kedua disampaikan oleh Drh. Anggoro Widi Kurniawan, Penyuluh Pertanian dari Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, dengan tema “Inovasi Smart Farming bagi Generasi Milenial”. Dalam pemaparannya, Anggoro menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian dengan cara yang lebih beragam. Generasi muda tidak harus selalu terlibat dalam pekerjaan pertanian secara konvensional, tetapi juga dapat mengambil peran melalui teknologi, pemasaran, pengelolaan informasi, hingga promosi produk pertanian.
“Pertanian saat ini tidak hanya tentang bekerja di sawah. Anak muda bisa mengambil peran melalui teknologi, pemasaran, dan berbagai inovasi digital. Potensi pertanian yang ada perlu dikembangkan bersama, salah satunya melalui kelompok tani yang dapat menjadi wadah bagi para remaja,” jelasnya.
Selanjutnya, materi “Strategi Digital Marketing Produk Pertanian” disampaikan oleh Hj. Fathimah Nadia Qurrota A’yun, M.Sos. Ia mengajak para peserta, khususnya generasi muda, untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana membangun branding dan memasarkan produk pertanian. Menurutnya, berbagai aktivitas pertanian dapat dikemas menjadi konten yang menarik, mulai dari proses menanam, cara merawat tanaman, manfaat tanaman, proses pengolahan hasil pertanian, hingga produk yang dihasilkan masyarakat. “Media sosial dapat menjadi ruang untuk mengenalkan potensi pertanian Desa Sumber. Anak muda dapat mulai membuat konten sederhana, membangun branding, kemudian mengembangkan strategi pemasaran agar produk pertanian lebih mudah dikenal,” tuturnya.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga aktif berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan mengenai peluang serta kendala yang dihadapi generasi muda dalam mengembangkan potensi pertanian melalui media digital. Salah satu remaja peserta menyampaikan bahwa sebenarnya terdapat potensi dan ketertarikan untuk membuat konten digital, tetapi masih terbatas pada wadah dan pendampingan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi generasi muda di Desa Sumber perlu didukung dengan ruang belajar dan pendampingan yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat bersama Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali juga mendorong pembentukan kelompok tani bagi remaja masjid Desa Sumber. Kelompok tersebut diharapkan menjadi wadah bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan inovasi, serta memanfaatkan teknologi digital dalam bidang pertanian. Drh. Anggoro Widi Kurniawan selaku penyuluh pertanian dan M. Alfandi selaku ketua tim pengabdian menyatakan kesiapan untuk mendampingi dan membantu pengembangan kelompok tersebut.
Salah satu peserta, Nurohim, mengaku mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. “Alhamdulillah, Minggu berfaedah. Dapat ilmunya, dapat reward-nya,” ujarnya. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang berharap literasi digital dapat menjadi salah satu pintu bagi generasi muda Desa Sumber untuk ikut mengembangkan potensi pertanian di daerahnya.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan melalui pembentukan kelompok tani remaja, pendampingan, produksi konten digital, serta pengembangan pemasaran produk pertanian. Dengan demikian, generasi muda Desa Sumber dapat menjadi bagian dari penggerak pertanian yang cerdas, kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.


