Ma’had UIN Walisongo Siapkan Manual Karakter Santri

UIN Walisongo Online, Semarang – Ma’had Al Jami’ah UIN Walisongo Semarang menggelar workshop penyusunan buku manual pendidikan karakter santri berbasis moderasi beragama di Bandungan, Kabupaten Semarang pada Rabu – Kamis (08-09/07/2026). Kegiatan ini difokuskan untuk merumuskan pedoman pembinaan mahasantri baru agar proses pendidikan karakter di lingkungan Ma’had lebih terarah, kontekstual, dan selaras dengan nilai Islam moderat serta visi UIN Walisongo Semarang.

Kegiatan ini tidak sekadar membahas dokumen. Lebih dari itu, workshop ini menjadi ruang bersama untuk merumuskan arah pembinaan mahasantri baru agar Ma’had tidak hanya dipahami sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai pusat pembentukan karakter, penguatan keislaman, dan pembiasaan nilai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kepala Ma’had Al Jami’ah, Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag., M.A., menegaskan bahwa penyusunan buku manual ini merupakan bagian dari mandat UIN Walisongo Semarang dalam memperkuat moderasi beragama sejak tahap awal kehidupan mahasiswa di kampus.

“Ma’had mendapat mandat untuk menguatkan nilai moderasi beragama, terutama bagi mahasantri baru. Buku ini perlu direview secara matang agar benar-benar menjadi pedoman pembinaan,” ujarnya.

Seleksi, Pendampingan, dan Arah Pembinaan Baru

Wakil Rektor I UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Imam Yahya, M.Ag., menjelaskan bahwa program Ma’had tahun ini akan diarahkan melalui sistem seleksi. Mahasiswa baru yang memperoleh nilai di bawah passing grade wajib mengikuti program Ma’had untuk mendapatkan pembinaan intensif.

Sementara itu, mahasiswa yang berada di atas passing grade tetap memperoleh pendampingan keislaman berbasis nilai Rahmatan Lil ‘Alamin. Dengan pola ini, pembinaan tidak dilakukan secara seragam, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa.

Materi pembinaan akan mencakup kajian kitab kuning, penguatan baca-tulis Al-Qur’an, pembiasaan salat berjamaah, serta amaliah keagamaan seperti Yasin dan Tahlil. Fokusnya bukan hanya kemampuan ritual, tetapi juga kedewasaan berpikir, adab, disiplin, dan cara beragama yang sejuk di tengah masyarakat majemuk.

“Ma’had jangan sampai hanya menjadi tempat tidur. Ia harus menjadi ruang pembinaan yang terstruktur, terorganisir, dan sejalan dengan visi UIN Walisongo Semarang,” tegas Prof. Imam Yahya.

Buku Manual sebagai Peta Jalan Karakter Santri

Nurrohman, S.Ag. M.M., mengajak seluruh pengelola, pengajar, musyrif, dan musyrifah untuk mengawal program baru ini secara serius. Menurutnya, placement test menjadi instrumen penting untuk memetakan kemampuan mahasiswa dalam pemahaman keagamaan, baca-tulis Al-Qur’an, dan moderasi beragama.

Melalui buku manual yang sedang disusun, Ma’had Al Jami’ah UIN Walisongo Semarang diharapkan memiliki panduan kerja yang jelas: apa yang dibina, bagaimana prosesnya, siapa yang mendampingi, serta capaian apa yang harus terlihat pada diri mahasantri.

Workshop ini dihadiri Wakil Rektor I UIN Walisongo Semarang, Kepala Ma’had Al Jami’ah, staf pengembang, pengajar, serta musyrif dan musyrifah. Dari forum ini, Ma’had menegaskan arah barunya: membentuk mahasantri yang tidak hanya tinggal di asrama, tetapi tumbuh sebagai pribadi religius, moderat, beradab, dan siap hidup di tengah masyarakat.