UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi hari yang penuh haru di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Di antara 1.277 wisudawan yang memadati ruangan, nama Fajriyatun Nurul Hidayah (Ida) menggema sebagai Wisudawan Terbaik Program Pascasarjana Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM).
Pencapaian ini bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Bagi Ida, predikat ini adalah kado indah untuk kedua orang tuanya, sekaligus bukti bahwa latar belakang pendidikan keluarga bukanlah penghalang untuk meraih puncak akademik.
Ida tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai ketekunan. Ayahnya merupakan lulusan SD dan ibunya lulusan SMP. Namun, di tangan Ida, rantai pendidikan keluarga berhasil ditingkatkan setinggi langit. Ia adalah orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi hingga jenjang magister.
“Bapak dan Ibu selalu berpesan dua hal: ketekunan dan kejujuran. Dua hal itu yang saya bawa selama studi di UIN Walisongo. Predikat ini adalah amanah, pengingat bagi saya untuk tetap menjaga integritas di masyarakat nanti,” ungkap Ida dengan rendah hati.
Kualitas intelektual Ida tercermin kuat dalam tesisnya yang berjudul “Wacana Egalitarian Gender dalam The Message of The Qur’an karya Muhammad Asad: Perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough”.
Alih-alih hanya melihat isi teks, Ida membedah bagaimana tafsir modern berbahasa Inggris ini membangun cara pandang dunia terhadap relasi laki-laki dan perempuan melalui pilihan linguistik dan struktur wacana. Temuannya menunjukkan bahwa tafsir Muhammad Asad merupakan bentuk negosiasi makna yang kompleks, dipengaruhi oleh latar belakang intelektual dan sosial pemikiran Islam modern di kancah global.
Soal manajemen waktu, Ida memiliki pendekatan yang unik. Ia mengakui dirinya terkadang menjadi seorang deadliner, namun tetap memegang prinsip yang kuat: Jangan tunda apa yang bisa dikerjakan hari ini.


