UIN Walisongo Online, Semarang – Sabtu (7/2/2026), Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub menjadi saksi bisu pengukuhan 1.277 wisudawan UIN Walisongo Semarang. Di tengah kemegahan prosesi Wisuda Doktor (S3) ke-41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99 ini, satu nama mencuri perhatian dengan narasi perjuangannya yang luar biasa: Muhammad Muhaimin Thohri.
Lulusan Program Studi Ilmu Falak, Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) ini tidak hanya berhasil menyelesaikan studinya, tetapi juga dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik. Bagi pria yang akrab disapa Thohri ini, gelar tersebut adalah buah dari konsistensi ikhtiar langit dan kerja keras di bumi.
Siapa sangka, Thohri mengawali masa kuliahnya dengan tantangan batin yang besar. Berlatar belakang pendidikan pondok pesantren dengan kajian keagamaan yang kental, ia sempat merasa salah jurusan saat pertama kali menghadapi materi Ilmu Falak yang sangat teknis, penuh perhitungan astronomi, dan logika matematis.
“Awalnya saya kesulitan memahami sisi teknis Ilmu Falak. Namun, saya yakinkan diri bahwa selama mau berusaha, semua bisa dipahami. Perlahan, kebingungan itu berubah menjadi ketertarikan mendalam karena Ilmu Falak memadukan keilmuan Islam klasik dengan pendekatan sains modern,” kenang Thohri.
Ketelitian Thohri dalam memadukan teks klasik dan astronomi tertuang dalam skripsinya yang berjudul “Analisis Konsep Matla’ dalam Kitab Al-Ma’āyīr Al-Fiqhiyyah Wal-Falakiyah fī I’dādi At-Taqāwīm Al-Hijriyyah”.
Ia menyoroti isu krusial dalam penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia. Temuannya menunjukkan adanya ruang dialog yang masih terbuka antara pendekatan tekstual fiqh klasik dengan kebijakan praktis nasional. Riset ini menjadi bukti nyata penerapan visi Unity of Sciences (Kesatuan Ilmu) di UIN Walisongo, di mana agama dan sains tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam memberikan solusi bagi umat.
Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya yang sering terjebak pola Sistem Kebut Semalam, Thohri adalah pribadi yang sangat disiplin. Aktif di berbagai organisasi seperti CSSMoRA, JQH El-Fasya, hingga BINORA, tidak membuatnya lalai secara akademik.
“Saya bukan tipe deadliner. Saya menyempatkan belajar setiap hari meskipun sedikit. Konsistensi kecil yang terus-menerus itu jauh lebih efektif daripada belajar mendadak saat ujian,” ungkapnya.
Baginya, predikat wisudawan terbaik bukanlah sekadar angka IPK di atas kertas, melainkan sebuah amanah moral. “Masyarakat memiliki ekspektasi bahwa kita harus menjadi contoh dalam sikap dan kontribusi nyata,” tambah putra dari seorang guru PNS dan ibu rumah tangga ini.
Setelah lulus dengan beasiswa penuh dari Kemenag di jenjang S1, Thohri kini membidik beasiswa untuk melanjutkan studi S2 Ilmu Falak. Ia ingin terus mendalami disiplin ilmu yang menuntut ketelitian tinggi ini agar bisa memberi manfaat lebih luas bagi pengambilan keputusan keagamaan di tingkat nasional.
Kepada adik-adik tingkatnya, Thohri menitipkan pesan sederhana namun mendalam: “Tetap semangat dan jangan menyia-nyiakan kesempatan. Tidak semua orang bisa merasakan bangku perkuliahan. Proses yang kalian jalani hari ini akan menentukan masa depan kalian.”
Keberhasilan Thohri menjadi bukti bahwa UIN Walisongo Semarang mampu mencetak sarjana yang kompeten dalam mengintegrasikan agama dan sains. Saat ini, jalur pendaftaran SNBP dan SPAN-PTKIN 2026 telah dibuka. Mari bergabung dengan Kampus Kemanusiaan dan Peradaban. Informasi selengkapnya kunjungi pmb.walisongo.ac.id.


