OASE PTKIN III Resmi Dibuka, Menag Dorong Integrasi Sains dan Agama untuk Kemajuan Peradaban

UIN Walisongo Online, Yogyakarta – Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) III resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., di Gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (4/11/2026).

Mengusung tema “Tumbuh dan Berkembang Bersama Prestasi”, OASE PTKIN III berlangsung pada 3–7 November 2026. Pembukaan ditandai dengan pengucapan sumpah peserta dan dewan juri sebagai bentuk komitmen untuk menjaga integritas, transparansi, sportivitas, dan keadilan selama kompetisi berlangsung.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa OASE menjadi ruang strategis untuk memperkuat integrasi agama, sains, dan teknologi. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berintegritas dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ia menegaskan, OASE tidak semata-mata menjadi ajang untuk memperebutkan gelar juara. Lebih dari itu, kompetisi ini menjadi ruang pertemuan gagasan, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan potensi dan talenta terbaik mahasiswa PTKIN dari seluruh Indonesia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amien Suyitno, M.Ag., mengungkapkan bahwa OASE merupakan kompetisi yang memiliki perjalanan panjang dalam mendorong peningkatan prestasi mahasiswa PTKIN.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan OASE pertama berlangsung di Aceh pada 2021 di tengah pandemi Covid-19. Saat itu, kompetisi dilaksanakan secara daring menyesuaikan kondisi dan keterbatasan yang ada. Selanjutnya, OASE kedua digelar di DKI Jakarta pada 2023, sebelum penyelenggaraan ketiga tahun ini di Yogyakarta.

Dirjen Pendidikan Islam juga mengapresiasi perkembangan PTKIN yang semakin kompetitif dan mampu menunjukkan kualitasnya sejajar dengan perguruan tinggi umum. Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa PTKIN memiliki kapasitas untuk mengembangkan pendidikan yang mengintegrasikan keilmuan agama dan ilmu pengetahuan modern.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan orasi ilmiah mengenai pentingnya membangun tradisi keilmuan dan menghidupkan kembali kejayaan peradaban Islam melalui penguasaan sains dan teknologi.

Menag menegaskan bahwa Islam memiliki tradisi panjang dalam menghargai ilmu pengetahuan. Semangat pengembangan sains dan teknologi, menurutnya, telah tumbuh sejak masa Rasulullah SAW. Hal tersebut tercermin dari keterbukaan terhadap gagasan, kreativitas, serta berbagai inovasi yang lahir dari para sahabat dan generasi muda pada masa itu.

Ia juga menyinggung sejumlah peristiwa dalam sejarah Islam yang menunjukkan bagaimana pengetahuan, kreativitas, dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Muslim.

Di tengah perkembangan zaman, Menag mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Mahasiswa PTKIN diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan inovasi untuk menjawab berbagai tantangan masa depan.

Lebih lanjut, Nasaruddin menekankan bahwa kemajuan sains perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang tidak dilandasi nilai moral dan spiritual berpotensi kehilangan arah dalam pemanfaatannya.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Alaq ayat 1, Iqra’ bismi rabbik. Menurutnya, kata iqra’ merepresentasikan semangat membaca, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, sedangkan bismi rabbik menegaskan pentingnya mengintegrasikan seluruh aktivitas keilmuan dengan nilai-nilai ketuhanan.

“Makanya dalam Al-Qur’an disebut iqra’ bismi rabbik. Iqra’ adalah cara kerja sains dan teknologi, sedangkan bismi rabbik adalah integrasi dengan agama,” pesannya.

Melalui penyelenggaraan OASE PTKIN III, Kementerian Agama berharap lahir generasi mahasiswa yang unggul dalam bidang keagamaan, sains, dan riset. Kompetisi ini sekaligus menjadi momentum bagi PTKIN untuk memperkuat budaya akademik, meningkatkan daya saing, serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban bangsa.