UIN Walisongo Online, Semarang – Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang menerima kunjungan bertaraf internasional dari dua pakar lintas disiplin pada Selasa (01/09/2026). Kunjungan tersebut dihadiri oleh Maruf, S.H., L.L.M., Ph.D., Assistant Professor School of Law Fuzhou University, China, dan Taufik R. Nugraha, Director and Research Fellow di Centre for Air and Space Policy (CASP), sebuah lembaga riset kebijakan dan ruang angkasa yang berfokus pada kawasan regional Asia Tenggara.
Kedatangan kedua tokoh ini disambut langsung oleh Kepala Planetarium UIN Walisongo Semarang, Muh. Arif Royyani, Lc., M.S.I. Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum penting untuk melihat potensi besar kolaborasi antara ilmu sains dan hukum antariksa di Nusantara maupun di tingkat Asia Tenggara.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tur dan pertunjukan (show) di dalam Planetarium. Dalam sesi ini, dipaparkan bagaimana Planetarium UIN Walisongo berfungsi sebagai pusat implementasi Unity of Science (kesatuan ilmu pengetahuan) yang memadukan sains modern dengan nilai-nilai agama, serta perannya sebagai tempat untuk melestarikan budaya langit Nusantara.
Pertunjukan tersebut rupanya meninggalkan kesan yang sangat membekas. Maruf merasa fasilitas yang disuguhkan tidak sekadar canggih secara teknologi, tapi juga sukses mengajak pengunjungnya berimajinasi seolah sedang ikut menjelajahi luasnya alam semesta.
“Kita bisa berpikir dan berimajinasi dan lain-lain gitu. Bahwa kita sebenarnya bukan satu-satunya probably in this world ya,” ungkap Maruf.
Ia juga menambahkan, “Setelah ke sini lagi pingin naik lagi nih nanti pingin belajar space law atau mungkin belajar astronomi lagi. Jadi memang berikan kesan yang sangat bagus dan advance sekali sepertinya. Dan terima kasih juga untuk guide-nya sangat profesional ya.”
Senada dengan Maruf, Taufik bahkan mengaku sangat terharu saat menyaksikan sajian visual alam semesta. “Ternyata luar biasa canggih. Untuk show planetariumnya saya sampai meneteskan air mata karena keren sekali. Takjub. Takjub,” tuturnya.

Setelah sesi pertunjukan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan langit malam (observasi) di area Observatorium yang dimulai selepas waktu Isya, tepatnya pukul 19.00 WIB. Menggunakan fasilitas main telescope (teleskop utama) dan teleskop portabel, para tamu diajak untuk mengamati keindahan benda-benda langit secara langsung. Fokus pengamatan pada malam itu meliputi bintang Alpha Scorpius (Antares), gugus bola Messier 9, serta melihat dengan jelas detail kawah-kawah di permukaan Bulan.
Meski pengamatan berjalan lancar dan memukau, Taufik memberikan catatan kritis terkait kondisi lingkungan sekitar observatorium yang mulai terancam oleh polusi cahaya. Sebagai seorang pakar kebijakan antariksa Asia Tenggara, ia menyoroti urgensi perlindungan langit malam demi menjaga fungsi maksimal observatorium.
“Dari kondisi lapangan yang terpapar polusi cahaya yang sangat kuat di ufuk timur, dibutuhkan usulan untuk penyusunan kebijakan yang dapat mengatur kawasan dengan polusi cahaya yang tinggi sebagai langkah konkret perlindungan atas observatorium yang ada,” tegas Taufik memberikan harapannya.
Lebih jauh, Taufik juga mendorong agar Observatorium UIN Walisongo mengambil peran strategis di kancah global, khususnya dalam hal pertahanan planet (planetary defense). Mengingat strategisnya posisi Indonesia untuk mengamati langit selatan, ia berharap institusi ini dapat segera bergabung dengan jejaring internasional.
“Banyak sekali potensi yang bisa dimanfaatkan misalnya untuk planetary defense. Saya berharap sih UIN Walisongo nanti bisa juga menjadi pelopor sebagai observatorium pertama yang ikut dalam IAWN (International Asteroid Warning Network),” pungkasnya.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik bagi UIN Walisongo Semarang untuk terus mengembangkan fasilitasnya, tidak hanya sebagai pusat edukasi dan wisata ilmiah, tetapi juga sebagai ujung tombak riset astronomi, pelestarian langit malam, dan pertahanan antariksa di Asia Tenggara.


