UIN Walisongo Online, Semarang — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Biro UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan pertemuan rutin pada Jumat (6/02/2026) bertempat di Ruang Rapat Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh para anggota DWP Biro sebagai wadah silaturahmi, penguatan peran perempuan, serta peningkatan kapasitas diri di era digital.
Ketua DWP Biro UIN Walisongo, Juwarmi Fatah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa di tengah perkembangan dunia digital yang sangat pesat, perempuan dituntut untuk semakin cerdas dan bijak dalam menyikapinya. Ia menekankan pentingnya peran perempuan sebagai inspirasi bagi suami dan anak-anak, baik dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat.

Menjelang bulan suci Ramadan, Juwarmi Fatah juga menyampaikan permohonan maaf secara pribadi dan atas nama Ketua DWP Biro apabila selama menjalankan amanah terdapat kekhilafan, seraya berharap agar ibadah yang akan dijalani dapat berlangsung dengan lancar dan penuh keberkahan. Ia mengajak seluruh anggota untuk menjadi perempuan yang berdaya secara emosional, mampu mengelola kebahagiaan, kesabaran, serta memperkuat nilai dan karakter anak di tengah tantangan zaman. Dengan pemahaman nilai yang kuat, menurutnya, proses mendampingi anak akan menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu.
Pertemuan rutin ini juga diisi dengan diskusi bertema “Empowered Women, Inspiring Home: Menjadi Ibu Bahagia di Era Digital” yang menghadirkan Tri Wahyu Muhyar Fanani sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa teknologi memang memberikan banyak kemudahan dan kecepatan dalam kehidupan, namun juga membawa tantangan yang tidak sedikit, terutama bagi kaum ibu. Harapan terhadap peran ibu di era digital semakin tinggi, mulai dari mengurus rumah tangga, bekerja, aktif di masyarakat, mendidik anak, hingga tetap tampil menarik.
Di sisi lain, Tri Wahyu Muhyar Fanani menyoroti berbagai persoalan dan kerusakan yang muncul akibat penggunaan teknologi yang tidak bijak. Perempuan sering kali dituntut untuk mampu menjalankan berbagai peran sekaligus (multitasking). Ia juga memaparkan profil perempuan dalam keluarga dan masyarakat, antara lain sebagai pendamping suami, penerus keturunan, mitra dalam mewujudkan peran orang tua yang penuh kasih sayang, serta sebagai pribadi yang mampu mengembangkan potensi diri untuk memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya literasi digital dan kebijaksanaan dalam bermedia sosial, baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Jika pada era Nabi diajarkan untuk menjaga lisan, maka di era digital menjaga lisan perlu ditambah dengan menjaga jari, menghindari pamer berlebihan, ujaran kebencian, serta praktik geotagging dan doxing yang dapat membahayakan diri dan keluarga. Upaya membentengi keluarga dari pengaruh negatif teknologi serta menciptakan kebersamaan di rumah menjadi hal yang sangat penting.
Sebagai penutup, narasumber juga membagikan konsep “Menu Bahagia Tiga Kali Sehari” sebagai langkah sederhana menjaga kesehatan mental dan spiritual di era digital, yaitu midday silence and water dengan menenangkan diri dan menjauhkan gawai sejenak, Enjoy evening by reading the Quran: menikmati waktu sore dengan membaca dan merenungkan Al-Qur’an, serta melakukan digital detox di malam hari melalui salat sunah dan zikir tanpa gangguan notifikasi gawai.
Melalui pertemuan ini, DWP Biro UIN Walisongo Semarang berharap para anggotanya dapat menjalani seluruh peran sebagai istri, ibu, dan bagian dari masyarakat dengan penuh rasa syukur, kebahagiaan, serta tetap berdaya di tengah dinamika era digital.


