UIN Walisongo Online, Semarang – Gedung Prof. Tgk. Ismail Yaqub (Auditorium 2) Kampus 3 menjadi saksi bisu momen bersejarah bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang pada Selasa (31/3/2026). Dalam suasana syahdu Idulfitri, digelar acara Pisah Sambut Rektor dan Halalbihalal Keluarga Besar UIN Walisongo Semarang, sebuah momentum estafet kepemimpinan yang penuh kehangatan dan optimisme.
Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh besar, di antaranya Dr. K.H. Ahmad Daroji, M.Si. selaku sesepuh, Ketua Senat Akademik Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A., jajaran Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta seluruh civitas akademika yang memadati ruangan.

Rektor periode 2024–2026, Prof. Dr. Nizar, M.Ag., mengawali sambutan dengan suasana cair. Sambil berkelakar tentang kesamaan hobi menyanyi antara Rektor baru dan Ketua Senat, beliau menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas segala kekurangan selama masa kepemimpinannya.
Dalam pesan emosionalnya, Prof. Nizar menekankan bahwa jabatan Rektor adalah awal perjalanan sejarah yang besar.
“Amanah di pundak Prof. Musahadi tidak ringan. Jadilah pemimpin yang tidak hanya didengar, tapi dirasakan kehadirannya,” pesan Prof. Nizar.
Ia meyakinkan Rektor baru bahwa seluruh civitas akademika siap bahu-membahu dalam ikhtiar memajukan kampus hijau ini.
Memasuki prosesi sambutan utama, Rektor UIN Walisongo periode 2026–2030, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pendahulu, mulai dari Prof. Nizar, Prof. Imam Taufiq, hingga rektor-rektor sebelumnya. Beliau menegaskan bahwa apa yang dinikmati UIN Walisongo Semarang hari ini adalah hasil estafet perjuangan luar biasa.
Menyadari beratnya tanggung jawab di tengah keterbatasan posisi struktural dan melimpahnya kader potensial, Prof. Musahadi meminta dukungan penuh dan doa dari para sesepuh serta civitas akademika.

Dalam narasinya, beliau menetapkan tiga concern utama (3 Pilar) yang akan menjadi kompas arah gerak UIN Walisongo empat tahun ke depan.
Pertama, harmonisasi, menyatukan seluruh potensi yang ada, mulai dari struktur kelembagaan hingga iklim kampus, guna menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan institusi.
Kedua, inovasi, menekankan pentingnya kreativitas di era yang berubah cepat. Tanpa inovasi, institusi dipastikan akan tertinggal.
Ketiga, akselerasi, memanfaatkan media baru dan ruang harmoni untuk melakukan percepatan di segala bidang.
“Insyaallah, empat tahun ke depan UIN Walisongo Semarang akan menjadi jauh lebih baik,” tegasnya optimis.
Menutup rangkaian acara, KH. Ubaidillah Shodaqoh, menyampaikan Hikmah Idulfitri yang menyentuh. Beliau mengingatkan bahwa fondasi alam semesta dan dunia pendidikan adalah Mahabbah (Cinta).
“Kita mengajar dasarnya cinta kepada mahasiswa, dan anak-anak kita belajar dasarnya adalah cinta kepada ilmu. Kata kuncinya adalah fa ahbabu, berbelas kasihlah,” tutur Kiai Ubaid.
Beliau mengajak seluruh hadirin untuk berdamai dengan diri sendiri, lingkungan, dan kolega. Menurutnya, kedamaian hati inilah yang akan bertransformasi menjadi energi dahsyat bagi kemajuan agama dan bangsa.
Momentum pisah sambut ini bukan sekadar pergantian wajah pimpinan, melainkan penguatan komitmen kolektif. Dengan visi harmoni, inovasi, dan akselerasi yang dibalut rasa cinta (mahabbah), UIN Walisongo Semarang bersiap melangkah lebih jauh sebagai mercusuar peradaban.


