UIN Walisongo Online, Semarang – Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang sukses menyelenggarakan kegiatan Rukyatul Hilal untuk menentukan awal bulan Dzulhijjah 1447 H. Acara yang berlangsung pada Minggu (17/05/2026) sejak pukul 16.00 WIB ini diawali dengan pembukaan dan rangkaian sambutan oleh Kepala Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo, Dr. Muh Arif Royyani, Lc., M.S.I., serta perwakilan dari Kemenag Provinsi Jawa Tengah, H. Ismail Khuhori, S.H.I., M.S.I. Setelah pemaparan posisi Hilal serta doa bersama, tim bergegas memulai pengamatan langsung pada pukul 17.30 WIB.
Data hisab menunjukkan posisi Hilal di lokasi pengamatan sebenarnya sudah memenuhi kriteria Imkanur-Rukyat Neo-MABIMS. Pada saat matahari terbenam pukul 17.30 WIB, tinggi Hilal Mar’i berada di angka 4° 24’ 58” (di atas standar minimal 3°), dengan elongasi geosentrik mencapai 09° 59’ 34” (di atas standar minimal 6,4°) dan fraksi cahaya Hilal sebesar 0,736%.

Guna menangkap objek dengan optimal, tim di lapangan mengerahkan empat unit teleskop yang diarahkan langsung ke posisi Hilal. Kendati demikian, faktor eksternal berupa cuaca di lokasi pengamatan berpotensi tidak mendukung. Namun berkat usaha dan kesabaran tim perukyat serta dengan bantuan lensa teleskop yang terkalibrasi dengan baik citra Hilal berhasil terekam dengan kondisi sangat tipis dan valid. Hilal terdokumentasi pada pukul 17:30:31 hingga 17:32:48 WIB sebanyak 600 citra, kemudian diolah citra dan diverifikasi menggunakan citra lebar piringan Bulan sebelumnya.
“Kali ini Idul Adha akan serentak seluruh Indonesia, tidak ada perbedaan antar-ormas karena Hilal sudah cukup tinggi. Di Sabang sekitar 7 derajat dengan elongasi hampir 11 derajat, dan Merauke sekitar 3,5 derajat dengan elongasi 9 derajat, sehingga bisa dilihat mata telanjang, dikatakan sebagai qath’i rukyat,” papar KH. Slamet Hambali.
Beliau menambahkan, tingginya posisi Hilal di ujung barat Indonesia menjadi kunci kuat untuk penentuan dalam sidang isbat nasional kelak. “Meskipun seluruh Indonesia mendung, insyaallah Sidang Isbat tetap akan menetapkan 1 Dzulhijjah jatuh pada Senin Kliwon, tanggal 18 Mei 2026,” imbuhnya menutup pemaparan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan hasil Rukyatul Hilal dapat menjadi kontribusi ilmiah dan keagamaan dalam penetapan awal bulan Hijriah secara akurat dan terpercaya.


