Raih Doktor Bersama di Tengah Tiga Balita dan Duka,  Ini Kisah Couple Goals  UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Di tengah riuh perayaan wisuda Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sabtu, 7 Pebruari 2026, dua nama melangkah ke panggung dengan kisah yang jauh melampaui seremoni akademik. Ana Zahrotun Nihayah dan Lathif Hanafir Rifqi, pasangan suami istri sekaligus dosen, resmi menyandang gelar doktor secara bersamaan—setelah melewati tahun-tahun penuh tekanan akademik, pengasuhan tiga anak balita, hingga kehilangan orang tua tercinta.

Keduanya menjadi bagian dari 1.277 wisudawan pada Wisuda Periode Februari 2026 yang meliputi Wisuda Doktor (S3) ke-41, Magister (S2) ke-66, dan Sarjana (S1) ke-99, yang digelar di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Keputusan menempuh studi doktoral secara bersamaan diambil dalam situasi yang tidak ideal. Saat itu, usia ketiga anak mereka masih sangat kecil yaitu Aghitsna Lathifa Maliki, Zafran Lathif Maliki dan Mayumi Sumiko Lathifa Maliki masing-masing 4 tahun, 2 tahun, dan 1 tahun.                                                                    

“Saat itu bisa dibilang kami cukup nekat. Namun kami memandang studi doktoral sebagai kebutuhan primer sebagai akademisi, meskipun penuh tantangan.  Kami memiliki keyakinan bahwa tantangan ini dapat kami hadapi dengan baik selama dijalani bersama,” kata Ana.

Dalam studi doktoralnya, keduanya mengangkat tema besar religiusitas dalam konteks ekonomi Islam. Ana menulis disertasi berjudul “Pengembangan Model Religiusitas Perusahaan sebagai Pemoderasi Pengaruh Kinerja Keberlanjutan terhadap Sustainable Financing pada Bank Umum Syariah di Indonesia.” Sementara Rifqi mengkaji “Peran Religiusitas sebagai Variabel Moderasi dalam Menentukan Tingkat Pendapatan Pekerja Muslim di Indonesia.”

Kesamaan rumpun keilmuan membuat diskusi akademik menjadi bagian dari keseharian mereka.

“Kami satu bidang, ekonomi Islam dan perbankan syariah. Sejak kuliah di Universitas Gadjah Mada dulu kami sudah terbiasa berdiskusi, dan itu sangat membantu dalam pengerjaan disertasi,” ujar Rifqi.

Di tengah tekanan tersebut, duka datang bertubi-tubi. Kedua orang tua mereka wafat  yaitu Badrun (alm)-2023H. Syukur Maliki (Alm)-2025 saat proses penyusunan disertasi masih berlangsung.

 “Mengerjakan disertasi benar-benar menguras energi dan emosi. Beberapa kali kami merasakan tekanan ketika semester berganti, tetapi progres belum signifikan karena sibuk tridharma dan urusan keluarga,” ungkap Rifqi.

“Wafatnya kedua bapak sangat memengaruhi motivasi kami, karena merekalah pihak yang paling berharap kami bisa menyelesaikan studi doktoral ini. Namun kami berusaha menguatkan diri dengan berpikir positif dan meyakini bahwa almarhum tetap berbahagia dengan kelulusan kami,” lanjut Ana.

Dalam situasi tersebut, peran pasangan menjadi kunci ketahanan. Keduanya bahkan merancang strategi akademik sejak awal dengan memilih promotor dan kopromotor yang sama yaitu Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag.(Promotor) dan Prof. Dr. H. Muhlis, M.Si. (CoPromotor) yeng membantu selesainya disertasi tepat waktu.

 “Kami memang menargetkan untuk lulus bersama. Alhamdulillah, promotor dan kopromotor sangat mengapresiasi rencana tersebut dan memberikan bimbingan yang sangat baik,” kata Rifqi.

“Kami banyak mengerjakan disertasi di tengah malam ketika anak-anak sudah tidur. Pada tiga semester terakhir, hampir seluruh waktu libur kami fokuskan untuk penyelesaian disertasi,” ujar Rifqi. Bahkan saat liburan keluarga, laptop tetap dibawa. “Kami memandangnya sebagai pilihan yang harus dikorbankan demi tujuan jangka panjang,” tambahnya.

Kelulusan doktor bersama ini memiliki makna tersendiri bagi keduanya.

 “Kami diterima sebagai ASN di UIN Walisongo secara bersamaan pada tahun 2019. Pencapaian doktor bersama ini terasa seperti mengulang kembali perjalanan tersebut,” kata Ana.

 “Semoga ini menjadi pengingat bahwa mimpi besar membutuhkan perjuangan, kesabaran, dan kebersamaan,” ujarnya.

 “Studi S3 adalah salah satu jalan menuju kesuksesan, bukan satu-satunya. Keputusan ini harus dikomunikasikan secara matang dan dianalisis secara rasional. Studi doktoral sangat menguras energi, emosi, waktu, dan sumber daya, sehingga tidak bisa dijalani hanya karena ikut tren,” tutup Ana.

Kisah Ana dan Rifqi menjadi potret bahwa gelar akademik tertinggi bukan sekadar hasil kecerdasan intelektual, melainkan juga buah dari keteguhan, pengorbanan, dan keberanian untuk bertahan—bersama.