Raih Doktor di UIN Walisongo, Makmur Sofyan Mustofa Tekankan Peran Pesantren dalam Kebijakan dan Lingkungan Hidup

UIN Walisongo online, Semarang – Wisuda UIN Walisongo Semarang periode Februari yang dilaksanakan pada Sabtu (6/2/2026) menjadi momen istimewa bagi Makmur Sofyan Mustofa. Wisudawan yang mendapat sorotan karena mendapat 32 ucapan dari tokoh penting ini merupakan wisudawan Program Doktor yang menorehkan kisah perjuangan panjang. Rektor UIN Walisongo Prof.Dr.Nizar, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan selamat atas capaiannya.

Dari berhenti sekolah demi membantu orang tua hingga akhirnya meraih gelar doktor.

Makmur mengungkapkan, motivasi utamanya melanjutkan studi S3 di UIN Walisongo berangkat dari kebutuhan untuk memperdalam landasan teoretis, filosofis, dan normatif keilmuan, khususnya dari perspektif keislaman dan interdisipliner. Studi doktoral dipandangnya sebagai sarana strategis untuk mengintegrasikan pengalaman praktis di bidang kebijakan publik dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang sistematis dan berkelanjutan.

“Alhamdulillah, saya pernah berhenti sekolah selama tiga tahun setelah lulus SMP untuk bekerja membantu orang tua. Dari merantau ke Jakarta, kembali mendaftar SMA, hingga akhirnya Allah memberi jalan bisa menyelesaikan studi sampai S3,” ujarnya.

Dalam disertasinya berjudul “Analisis Kebijakan Pengembangan Pesantren (Studi Perda Nomor 3 Tahun 2022 tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren di Kota Pekalongan)”, Makmur menyoroti pentingnya penguatan paradigma kebijakan dengan menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai sumber normatif dalam perumusan kebijakan publik.

Meski tidak secara langsung mengangkat isu lingkungan hidup, ia menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam memberikan solusi atas persoalan lingkungan, tidak hanya dari aspek fisik atau sarana prasarana, tetapi juga melalui pembentukan moral, etika, dan kesadaran ekologis. “Saya memandang pesantren sebagai lembaga yang kompeten dan mampu menjaga lingkungan hidup dengan sangat baik,” tegasnya.

Tantangan terbesar selama menempuh studi doktoral, menurut Makmur, adalah mengelola keterbatasan waktu dan energi. Ia mengatasinya dengan disiplin manajemen waktu, penetapan prioritas, serta sikap sabar, tawakal, dan pantang menyerah. Dukungan keluarga, dosen pembimbing, dan jejaring akademik menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi studi.

“Sering kali saat ada agenda kedinasan di Semarang saya manfaatkan untuk konsultasi dengan pembimbing dan ke perpustakaan kampus. Tidak boleh baper, apalagi marah ketika belum bisa bertemu pembimbing. Pokoknya kudu sat set,” katanya sambil tersenyum.

Makmur juga membagikan pengalamannya membagi peran sebagai mahasiswa S3 dan praktisi kebijakan. Saat mendaftar doktoral, ia masih menjabat sebagai Anggota DPRD Kota Pekalongan. Pada 2024 ia mengundurkan diri untuk maju sebagai calon Wakil Wali Kota Pekalongan. Meski belum berhasil, pada 2025 ia kemudian dipercaya menjadi Staf Ahli di Kementerian Lingkungan Hidup, sebuah peran yang semakin menguatkan relevansi keilmuan dan penelitiannya.

“Studi doktoral ini memperkuat kapasitas saya dalam menganalisis persoalan lingkungan hidup secara lebih konseptual dan komprehensif. Dengan basis akademik yang kuat, kebijakan bisa dirumuskan lebih argumentatif, berbasis nilai, dan berorientasi jangka panjang,” jelasnya.

Kepada generasi muda dan mahasiswa UIN Walisongo, Makmur berpesan agar tidak ragu melanjutkan studi hingga jenjang tertinggi. Menurutnya, studi doktoral bukan semata soal gelar, tetapi proses pembentukan karakter ilmuwan yang kritis, berintegritas, dan peduli pada kemaslahatan umat dan bangsa.

“Orang sukses bukan mereka yang selalu mulus jalannya, tetapi mereka yang tetap tekun melangkah meski menghadapi jalan yang sulit dan terjal,” pungkasnya.