Sampoerna University dan UIN Walisongo Kolaborasi Riset Pemantau Aktivitas Lambung Saat Puasa

UIN Walisongo Online — Sampoerna University dan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menjalin kolaborasi riset melalui nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani Senin (19/10/2026). Pada hari yang sama, kedua kampus menggelar monitoring dan evaluasi serta diskusi kelompok terarah (FGD) bersama ahli klinis di Sampoerna University, Jakarta, untuk membahas riset alat pemantau aktivitas lambung selama puasa.

Riset itu berjudul “Pengembangan dan Validasi Sistem Electrical Impedance Tomography (EIT) Portabel untuk Pemantauan Aktivitas Neurogastrik selama Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting”. Penelitian ini berjalan dalam program MoRA the Air Funds. Ketua tim risetnya adalah Rektor UIN Walisongo Semarang Musahadi.

Kegiatan berlangsung pukul 08.00–16.00 WIB dan diikuti 20 peserta dari tim riset kedua kampus. Moderator FGD adalah Susilawati. Hadir pula Wakil Rektor Bidang Akademik Sampoerna University Surya Danusaputro Liman, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sampoerna University Iwan Setiawan, dan Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Farid Triawan. Dari UIN Walisongo hadir Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Abdul Karim dan Afif Noor.

Berlaku lima tahun

Dalam naskah MoU, kerja sama berlaku lima tahun sejak ditandatangani dan dapat diperpanjang atas kesepakatan kedua pihak. Ruang lingkupnya mencakup pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta bidang lain yang disepakati. Pelaksanaannya akan dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama. Kedua pihak juga sepakat memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kerja sama paling sedikit sekali setahun.

Musahadi dalam pembukaan berharap kerja sama ini memperluas peluang kolaborasi pengembangan teknologi, publikasi ilmiah bersama, pertukaran pengetahuan dan keahlian, serta penelitian lanjutan. Menurut dia, kerja sama ini membuka ruang bagi inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan tantangan ke depan.

Surya Danusaputro Liman berharap kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk mendorong inovasi teknologi kesehatan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan peningkatan kualitas penelitian multidisiplin di Indonesia.

Pencitraan tanpa radiasi

Dalam sesi pemaparan, peneliti Panji Nursetia Darma menjelaskan, EIT adalah metode pencitraan noninvasif yang tidak memakai radiasi pengion seperti sinar-X. Alat ini mengalirkan arus listrik bolak-balik berintensitas rendah melalui elektroda di permukaan tubuh, lalu mengukur tegangan yang dihasilkan. Data itu diolah dengan algoritma untuk membentuk citra sebaran impedansi listrik di dalam tubuh.

Dalam riset ini, EIT portabel dipakai untuk mengamati perubahan impedansi di area perut yang berkaitan dengan kondisi lambung dan jaringan di sekitarnya. Tim membandingkan pola sinyal sebelum, selama, dan setelah periode puasa.

Tim riset menyebut, hasil riset menunjukkan konsumsi makanan tinggi lemak menurunkan konduktivitas, sedangkan kebiasaan mengonsumsi alkohol memengaruhi perubahan konduktivitas lambung. Dalam simulasi pengisian lambung, semakin banyak air isotonik, konduktivitas cenderung menurun.

Tim juga menegaskan batas teknologi ini. EIT tidak mengukur aktivitas saraf secara langsung. Perubahan impedansi saja tidak cukup untuk memastikan perubahan itu berasal dari aktivitas saraf atau gerakan lambung tertentu. Karena itu, sinyal EIT perlu dikaitkan dengan indikator fisiologis lain dan divalidasi ahli klinis.

Soal pembanding dan data

Dalam FGD, Heni Sumarti menanyakan perbedaan EIT untuk otak dan lambung serta pilihan metode pembanding. Tim riset menjelaskan, pilihan pembanding bergantung pada sasaran validasi. Elektrogastrografi (EGG) cocok jika fokusnya aktivitas listrik lambung, sedangkan ultrasonografi (USG) untuk perubahan isi, gerakan, atau pengosongan lambung. Elektroensefalografi (EEG) dapat ditambahkan untuk melihat interaksi otak dan lambung.

Terkait perbandingan dengan EEG, tim menyatakan keunggulan EIT terletak pada kemampuannya memperkirakan sebaran impedansi jaringan dalam bentuk citra. Untuk mengukur aktivitas listrik neuron, EEG tetap lebih sesuai dan lebih mapan secara klinis.

Abdul Karim menanyakan tahap pengolahan data. Tim menjawab, pengukuran sejauh ini baru melibatkan sekitar 10 hingga 20 orang, dan merekrut responden dalam jumlah besar tidak mudah. Jika sampel bertambah, penambangan data dapat dipakai. Untuk data EEG yang jumlahnya ribuan, pengolahan memakai deep learning.

Abdul Karim juga menanyakan batasan responden anak yang memiliki ketakutan berlebih. Tim menjawab, batasan perlu ditetapkan berdasarkan tingkat ketakutan, kemampuan mengikuti prosedur, kondisi psikologis, serta keamanan dan kenyamanan selama pengukuran. Anak tidak otomatis dikeluarkan dari penelitian karena merasa takut. Perlu dibedakan antara rasa takut ringan yang bisa diatasi dan ketakutan berat yang mengganggu atau berisiko.

Di sela acara, Iwan Setiawan menyebut Sampoerna University telah bekerja sama dengan mitra produk kecerdasan buatan di Amerika Serikat. Ia membuka peluang bagi mahasiswa atau relasi yang ingin berkolaborasi dengan tema tersebut.