Tak Cukup Niat Baik, Prof Fahrurrozi Serukan Tata Kelola Profesional di Lembaga Islam dalam Pengukuhan Guru Besar UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Pengukuhan 10 guru besar UIN Walisongo Semarang, Sabtu (14/2/2026), tidak hanya menjadi penanda pencapaian akademik, tetapi juga momentum refleksi atas arah pengembangan keilmuan Islam. Di antara para profesor yang dikukuhkan, Prof. Dr. Fahrurrozi, M.Ag., Guru Besar Manajemen Pendidikan Islam, menggarisbawahi pentingnya tata kelola pendidikan yang profesional, adaptif, dan berorientasi masa depan.

Dalam pidato ilmiahnya di Auditorium II Kampus III, Fahrurrozi menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan kompleks: perubahan sosial yang cepat, kemajuan teknologi digital, serta tuntutan mutu dan akuntabilitas publik yang semakin tinggi.

“Manajemen pendidikan Islam tidak bisa lagi dijalankan secara konvensional. Ia membutuhkan sistem yang terencana, transparan, dan berbasis kinerja,” ujarnya.

Menurut Fahrurrozi, manajemen pendidikan Islam memiliki kekhasan karena bertumpu pada nilai-nilai spiritual dan etika keislaman. Namun, nilai tersebut tidak boleh dipahami sebagai pengganti profesionalisme.

Ia menekankan pentingnya integrasi antara nilai religius dan prinsip manajemen modern—mulai dari perencanaan strategis, pengelolaan sumber daya manusia, hingga evaluasi berbasis mutu. Tanpa sistem yang kuat, lembaga pendidikan Islam berisiko tertinggal dalam kompetisi global.

“Nilai spiritual harus menjadi fondasi, tetapi tata kelola yang baik adalah instrumen untuk mewujudkannya,” katanya.

Dalam konteks itu, ia mendorong penguatan kepemimpinan transformasional di lembaga pendidikan Islam. Pemimpin, menurutnya, tidak cukup menjadi administrator, melainkan agen perubahan yang mampu membaca arah zaman dan menggerakkan seluruh sumber daya organisasi.

Fahrurrozi juga menyoroti era disrupsi digital yang mengubah pola belajar, relasi guru-siswa, hingga sistem evaluasi pendidikan. Lembaga pendidikan Islam, katanya, harus responsif terhadap inovasi teknologi tanpa kehilangan identitas nilai.

Transformasi digital, lanjutnya, tidak hanya menyangkut penggunaan perangkat teknologi, tetapi juga perubahan budaya organisasi. Transparansi, kolaborasi, dan akuntabilitas publik menjadi kata kunci.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia—guru, tenaga kependidikan, dan pengelola lembaga—sebagai faktor penentu keberhasilan manajemen pendidikan Islam.

Pengukuhan Prof. Fahrurrozi bersama sembilan guru besar lainnya—dari Tasawuf Falsafi, Teologi Islam Indonesia, Ilmu Kalam, hingga Ilmu Komunikasi—mencerminkan penguatan multidisipliner UIN Walisongo dalam menjawab tantangan zaman.

Namun, bagi Fahrurrozi, gelar guru besar bukanlah titik puncak, melainkan amanah untuk terus mengembangkan inovasi keilmuan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Ia menutup pidatonya dengan penegasan bahwa manajemen pendidikan Islam harus berorientasi pada mutu, keberlanjutan, dan kemaslahatan umat.

“Lembaga pendidikan Islam,” ujarnya, “harus menjadi pusat pembentukan generasi yang unggul secara intelektual, matang secara spiritual, dan profesional dalam berkarya.”

Di tengah dinamika global yang bergerak cepat, pesan itu terasa relevan: pendidikan Islam hanya akan kokoh jika ditopang manajemen yang kuat—bukan sekadar niat baik, tetapi sistem yang bekerja secara terukur dan berkelanjutan.