UIN Walisongo Online, Semarang – Walisongo Career Center (WCC) UIN Walisongo Semarang menghadirkan alumni sekaligus Founder DipajangID, Muhammad Syafiun Najib, dalam Pembekalan Calon Wisudawan di Auditorium II Kampus III, (6/11/2026). Ia membagikan kisah menghadapi PHK, merintis bisnis, dan menemukan jalan setelah wisuda.
Kegiatan bertajuk “Setelah Wisuda, Tidak Ada yang Benar-Benar Siap: Cerita tentang Pilihan, Kegagalan, PHK, dan Keberanian untuk Terus Berjalan” tersebut mengajak calon wisudawan memahami berbagai kemungkinan perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Pengalaman narasumber diharapkan memberikan perspektif mengenai dunia kerja, kewirausahaan, serta pentingnya kemampuan beradaptasi menghadapi ketidakpastian.
Ketua Walisongo Career Center, Nasrul Fahmi Zaki Fuadi, M.Si., menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari hubungan mahasiswa dengan almamater. Sebaliknya, momentum tersebut menjadi awal perjalanan baru bagi lulusan untuk mengimplementasikan kompetensi, menjaga nama baik institusi, dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Wisuda menutup masa studi Anda, bukan hubungan Anda dengan almamater,” tegas Nasrul.

Ia mengajak para calon wisudawan untuk tetap menjalin hubungan dengan UIN Walisongo melalui WCC dan memanfaatkan berbagai layanan pengembangan karier. Layanan tersebut meliputi informasi lowongan kerja, pelatihan dan workshop, konseling karier, review CV, simulasi wawancara, hingga pengembangan jejaring alumni.
Nasrul juga menekankan pentingnya partisipasi alumni dalam mengisi Tracer Study. Data tersebut menjadi instrumen evaluasi kurikulum, peningkatan mutu lulusan, pengukuran kinerja universitas, serta pendukung proses akreditasi program studi dan institusi. Karena itu, keterlibatan alumni tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan karier pribadi, tetapi juga bagi peningkatan kualitas institusi.
Memasuki sesi utama, Muhammad Syafiun Najib membagikan perjalanan hidupnya dalam merintis dan mengembangkan DipajangID, sebuah usaha yang bergerak di bidang produk kaligrafi dan dekorasi rumah bernuansa Islami. Bisnis tersebut mulai dirintis pada 22 Desember 2018 dari sebuah gudang kecil berukuran 2,5 x 2 meter di rumah kontrakan.
Perjalanan Syafiun setelah menyelesaikan kuliah pada akhir 2019 tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ia sempat menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari desainer grafis di sebuah agensi, guru ekstrakurikuler di SMP, hingga petugas katering. Namun, pada Juli 2020, ia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi COVID-19.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan hidupnya. Situasi yang tidak mudah justru mendorong Syafiun untuk lebih serius menekuni usaha yang telah dirintis sejak masih menjadi mahasiswa. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa membangun usaha bukan hanya tentang keberanian memulai, melainkan juga kemampuan mempertahankan dan mengembangkannya.
“Memulai ternyata jauh lebih mudah daripada mempertahankan,” ungkap Syafiun.

Ia menceritakan bahwa DipajangID yang awalnya dikerjakan sendiri perlahan berkembang dengan melibatkan tim dan membangun ekosistem bisnis yang lebih luas. Proses tersebut menuntut kemampuan untuk terus beradaptasi, terutama dalam aspek bisnis, pemasaran, desain, produksi, dan pemanfaatan teknologi.
Menurutnya, perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan membangun usaha. Kemampuan membaca peluang dan menyesuaikan diri dengan perkembangan menjadi salah satu faktor penting agar bisnis dapat bertahan dan berkembang.
Syafiun juga mengajak calon wisudawan untuk tidak menganggap ketidakpastian setelah lulus sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Ia mengakui bahwa dirinya pun pernah berada dalam situasi belum mengetahui secara pasti akan menjadi apa setelah menyelesaikan pendidikan.
“Tidak apa-apa jika kalian belum tahu akan menjadi siapa. Saya juga pernah berada di posisi itu,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa calon wisudawan tidak harus menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk memulai sesuatu. Keberanian mencoba, kesediaan belajar dari kegagalan, dan konsistensi menjalani proses merupakan bagian penting dalam menemukan arah kehidupan.
Melalui kegiatan ini, WCC UIN Walisongo berupaya memberikan perspektif yang lebih realistis kepada calon wisudawan dalam menghadapi kehidupan pascakampus. Pengalaman Syafiun menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari perjalanan yang lurus dan terencana. Perubahan arah, kegagalan, bahkan kehilangan pekerjaan dapat menjadi momentum untuk menemukan peluang dan membangun sesuatu yang baru.
WCC UIN Walisongo mengajak mahasiswa dan alumni untuk terus memanfaatkan berbagai layanan pengembangan karier melalui laman wcc.walisongo.ac.id dan Instagram @wcc.official. Dengan demikian, hubungan antara universitas dan alumni diharapkan tidak berhenti setelah wisuda, tetapi terus tumbuh melalui kolaborasi, pengembangan jejaring, dan kontribusi bagi masyarakat.


