UIN Walisongo Online, Semarang — Perhelatan Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang yang digelar di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) melahirkan potret inspirasi berkelas dari jenjang tertinggi akademik. Adalah Dr. Nasikhin, lulusan Program Doktor (S-3) Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo asal Batang, yang berhasil menyandang predikat wisudawan terbaik.
Kabar Bahagia Lewat Sang Istri dan Keseimbangan Taqorrub Ilallah
Momen unik nan menyentuh mewarnai pengumuman predikat terbaik yang diraih Dr. Nasikhin. Menariknya, ia justru baru mengetahui kabar membahagiakan tersebut melalui sang istri tercinta. Hal ini terjadi lantaran sejak awal proses pendaftaran wisuda, ia mendaftarkan nomor kontak istrinya. Rasa syukur tak terhingga dilantunkannya atas kejutan dan amanah besar yang dipercayakan almamater.
Sebagai penerima beasiswa yang membagi waktunya antara profesi dosen, pengusaha, dan kepala keluarga, Dr. Nasikhin membeberkan kunci sukses utamanya dalam menyelesaikan jenjang doktoral. Bagi pria kelahiran 10 Februari 1998 ini, manajemen waktu bukanlah sekadar agenda akademis, melainkan sebuah bentuk perpaduan antara skala prioritas dan spiritualitas.
“Manajemen waktu bagi saya adalah manajemen prioritas dan manajemen taqorrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Pasrahkan hidup ini pada Allah karena Dia yang Maha Mengatur. Cukup jadi orang baik saja, maka takdir baik akan selalu mengikuti kita,” tutur Dr. Nasikhin.
Pandangan Riset: AI Adalah Sahabat yang Harus Dikendalikan
Dalam Disertasinya di Pascasarjana UIN Walisongo, Dr. Nasikhin mengangkat urgensi adaptasi teknologi modern di tengah arus disrupsi global. Menurutnya, institusi pendidikan Islam dan para lulusannya tidak boleh alergi terhadap perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Ia menegaskan bahwa AI bukan musuh yang harus ditakuti, melainkan sahabat yang harus dikuasai dan dikendalikan. Menguasai teknologi AI merupakan sebuah keharusan agar lulusan perguruan tinggi Islam tidak tertinggal dalam persaingan era digital. Gagasan ini sejalan dengan spirit integrasi Unity of Sciences yang memadukan ikhtiar ilmiah dan ketakwaan spiritual.
Pesan Bijak: Jauhi Ghibah, Kejar Bahasa Asing, dan Teladani Dosen Senior
Pengalaman yang paling membekas bagi Dr. Nasikhin selama berkuliah di UIN Walisongo adalah petuah mendalam dari para dosennya tentang pentingnya menjaga lisan dari membicarakan keburukan orang lain (ghibah). Kebiasaan membuka aib orang lain dinilainya hanya akan membuang waktu dan mengikis produktivitas untuk mengembangkan potensi diri.
Ia juga membagikan pesan bernas bagi para mahasiswa generasi muda di UIN Walisongo agar memanfaatkan masa muda dengan belajar secara maksimal, menguasai bahasa asing secara aktif, serta menghindari hubungan atau aktivitas yang tidak produktif.
“Gunakan waktu muda untuk belajar sebanyak-banyaknya dan persiapkan kemampuan bahasa asing yang bagus. No drama, jangan buang-buang waktu untuk hal yang tidak penting karena itu potensi merusak diri. Peluang untuk meraih beasiswa luar negeri akan jauh lebih terbuka jika kalian aktif berbahasa asing sejak muda,” tegasnya.
Di akhir pesannya, Dr. Nasikhin menaruh harapan besar agar UIN Walisongo yang sudah memiliki fasilitas sangat baik terus mempertahankan iklim akademis yang hangat. Ia menyoroti pentingnya komitmen kehadiran dan pendampingan emosional dosen kepada mahasiswa, merujuk pada keteladanan para guru senior seperti Prof. Erfan, Dr. KH. Zuhad, dan Prof. Muchayya yang senantiasa hadir mendampingi serta menginspirasi karakter mahasiswanya.
Setelah menuntaskan gelar doktornya, Dr. Nasikhin berfokus untuk terus mengabdi dan menjalankan amanah pekerjaannya, seraya berdoa untuk keberkahan dalam membina keluarga.


