Teologi Digital Wasathiyyah, Prof. Mudhofi Tawarkan Jalan Tengah Hadapi AI dan Polarisasi Keagamaan

UIN Walisongo Online, Semarang – Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengukuhkan 10 Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka yang dilaksanakan pada Sabtu (14/02/2026), bertempat di Auditorium II Kampus 3, Gedung Tgk Ismail Yaqub. Pengukuhan ini menjadi bagian dari penguatan keilmuan UIN Walisongo dalam merespons dinamika sosial, keagamaan, dan teknologi.

Salah satu guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. M. Mudhofi, M.Ag., sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kalam. Dalam pidato akademiknya, Prof. Mudhofi mengangkat tema “Teologi Digital Wasathiyyah: Rekonfigurasi Wacana Teologi Islam dalam Lanskap Keberagamaan Baru.” Orasi ini menyoroti perubahan mendasar relasi antara teologi Islam dan ekosistem digital yang kian kompleks.

Prof. Mudhofi menjelaskan bahwa ruang digital saat ini telah menjadi domain baru keberagamaan, di mana wacana teologi tidak hanya disampaikan melalui mimbar dan ruang akademik, tetapi juga melalui ceramah daring, kajian komunitas digital, dialog lintas iman, artikel keislaman di berbagai platform, hingga perdebatan teologis yang masif di kolom komentar media sosial. Fenomena ini ia sebut sebagai teologi digital, sebuah istilah yang berangkat dari realitas empiris perkembangan keberagamaan di era new media.

“Teologi digital bukanlah teologi yang kosong atau kehilangan dasar-dasar keyakinan Islam. Namun, struktur ruang digital dengan logika dan dinamikanya sendiri telah mendorong penyesuaian serta pengembangan konsep-konsep dasar teologi,” jelasnya.

Dalam pidato tersebut, Prof. Mudhofi juga mengulas secara kritis relasi antara teologi dan generative AI. Ia mengemukakan sejumlah tantangan, antara lain potensi AI dalam mereduksi kompleksitas persoalan teologis, mengaburkan otoritas keilmuan tradisional, membawa bias epistemologis berbasis data, hingga risiko dekontekstualisasi ajaran dan distorsi akidah. Selain itu, penggunaan AI secara masif juga berpotensi mendorong konsumsi instan pengetahuan keagamaan serta memperparah polarisasi dan konflik teologis di ruang digital.

Alumni Pondok Pesantren Kalibeberi ini menyampaikan,

“AI tidak memiliki agama, identitas teologi, maupun sisi humanisme. Klaim netralitas AI sering kali bersifat semu karena algoritma bekerja dengan logika tertentu,” tegas Prof. Mudhofi.

Sebagai respons atas kondisi tersebut, Prof. Mudhofi menawarkan gagasan teologi digital wasathiyyah sebagai pendekatan moderat untuk merawat keberagamaan di ruang digital. Pendekatan ini menekankan pentingnya penyajian wacana teologis yang inklusif, argumentatif, dan rasional, sekaligus menghindari perdebatan emosional yang kerap dipicu oleh budaya bebas berkomentar di media sosial.

Dalam konteks generative AI,  ia menegaskan bahwa manusia harus tetap menjadi agen aktif dan kritis dalam memproduksi dan menafsirkan wacana teologis. “AI tidak boleh dijadikan satu-satunya rujukan dalam persoalan teologi. Penalaran mendalam dan dimensi humanisme harus tetap dikedepankan,” ujarnya.

Prof Mudhofi menempuh pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Arab IAIN Sunan Kalijaga,  S2 Islamic Studies Pascasarjana IAIN Sumatera Utara dan  S3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo.

Pengukuhan Prof. Mudhofi bersama sembilan guru besar lainnya menegaskan komitmen UIN Walisongo Semarang dalam mengembangkan kajian keislaman yang moderat, kontekstual, dan relevan dengan tantangan zaman, khususnya dalam menghadapi perubahan lanskap keberagamaan di era digital dan kecerdasan artifisial.