UIN Walisongo Online, Semarang — Di balik megahnya Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Sabtu (7/11/2026), tersimpan sebuah kisah perjuangan yang mengharukan sekaligus membanggakan. Digelarnya Wisuda Program Doktor (S.3) ke-44, Program Magister (S.2) ke-69, dan Sarjana (S.1) ke-102 menjadi saksi bisu atas pencapaian gemilang seorang pemuda asal Tegal bernama Muhamad Husni Mubarok.
Husni, sapaan akrabnya, berhasil dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sekaligus tingkat Universitas. Sebuah pencapaian luar biasa bagi seorang pemuda yang merintis kuliahnya dari keterbatasan, kerja keras paruh waktu, dan tekad baja.
Ketulusan Doa Orang Tua dan Prinsip “Hasil Tidak Mengkhianati Usaha”
Siapa sangka, predikat wisudawan terbaik bukanlah target utama yang dipatok Husni sejak awal menginjakkan kaki di kampus. Putra dari seorang ayah yang bekerja sebagai petani dan ibu yang berjualan jajanan di pasar ini hanya memegang satu prinsip hidup sederhana: hasil tidak akan mengkhianati usaha.
“Perasaan saat pertama kali mendengar sebagai wisudawan terbaik tentunya terharu dan senang, karena awalnya bukan target. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin untuk lulus dan mengerjakan tugas dengan baik,” ungkap Husni.
Orang pertama yang ia kabari tentu saja kedua orang tuanya. Kabar bahagia tersebut disambut isak tangis bangga dari sang ibu dan ayah, yang merasa bahwa melihat anaknya lulus saja sudah menjadi kebahagiaan besar, apalagi dinobatkan sebagai yang terbaik.
Bagi Husni, gelar wisudawan terbaik bukan sekadar angka atau ajang merasa lebih hebat dari orang lain. Ia memaknai gelar ini sebagai bentuk tanggung jawab moral yang besar.
“Keberhasilan sejati bukan hanya ketika kita berhasil menjadi yang terbaik di kampus, tetapi ketika kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan serta masyarakat,” tuturnya bijak.
Bangkit dari Titik Nadir: Hampir Mundur Demi Kerja, Berkah Temuan Skripsi
Perjalanan kuliah Husni tidak selalu berjalan mulus. Pada awal masa perkuliahan, ia sempat menghadapi tantangan berat—mulai dari keterbatasan fasilitas seperti laptop usang hingga kendala mobilitas tanpa kendaraan pribadi di kota orang.
Tekanan mental itu sempat membuatnya ingin menyerah, bahkan mendaftar kerja dan sempat mengikuti seleksi CPNS di tengah jalan. Namun, nasihat bermakna dari orang-orang sekitar, mulai dari pengemudi ojek hingga rekan-rekan kuliahnya, membuatnya sadar bahwa ia sudah berada di tengah jalan dan harus menyelesaikannya.
Di bidang akademik, Husni membuktikan kapasitasnya melalui skripsi berjudul “Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus pada Perusahaan yang Tercatat di Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2021-2025)”. Penelitian ini memberikan temuan menarik bahwa nilai sebuah perusahaan tidak melulu berhubungan langsung dengan variabel-variabel keuangan konvensional saja, membuka ruang eksplorasi lebih luas bagi peneliti selanjutnya.
Sebagai mahasiswa FEBI di kampus bervisikan Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences), Husni selalu berupaya menyelaraskan antara ilmu umum dan ilmu agama. Ia percaya bahwa kedua ilmu tersebut sama pentingnya untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.
Kuliah Sambil Kerja Paruh Waktu: Mematahkan Mitos “Organisasi Bikin IPK Anjlok”
Kesibukan akademik tidak membuat Husni menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang). Ia aktif di berbagai wadah, mulai dari organisasi daerah Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) hingga JQH el-Febis. Uniknya, di tengah kesibukan kuliah dan organisasi, Husni juga melakoni pekerjaan part-time sebagai kru katering, Wedding Organizer (WO), dan tim rebana demi mencari pengalaman sekaligus menambah uang saku dan biaya tugas.
Banyak mahasiswa takut berorganisasi karena khawatir IPK turun. Namun, Husni mematahkan mitos tersebut.
“Ikut organisasi justru membantu menaikkan kualitas diri asalkan kita bisa membagi waktu dan ingat tujuan utama yaitu kuliah. Jangan menyia-nyiakan kesempatan selama di kampus,” pesan pemuda yang pernah dipercaya dosen menjadi pengawas ujian kelas lain ini.
Langkah Besar Selanjutnya dan Inspirasi untuk Adik Tingkat
Kini, setelah merampungkan studinya, Husni berencana untuk terjun ke dunia kerja terlebih dahulu guna mencari pengalaman dan mengumpulkan biaya sebelum nantinya berniat melanjutkan studi ke jenjang magister, demi meringankan beban kedua orang tuanya.
Sebelum menutup perbincangan, Husni menitipkan pesan bermakna bagi adik-adik tingkatnya di UIN Walisongo Semarang.
“Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan selama masa perkuliahan. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, aktif berorganisasi, dan jangan takut gagal. Ingatlah bahwa kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang mempersiapkan diri agar kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan agama.”
Ia juga menyampaikan harapan tulus untuk almamaternya, agar UIN Walisongo Semarang semakin maju, unggul, melahirkan generasi berakhlak mulia, serta senantiasa menjaga nilai-nilai keilmuan, kemanusiaan, dan moderasi beragama.
Kisah Muhamad Husni Mubarok membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk menorehkan prestasi tertinggi. Dari ladang dan pasar menuju panggung kehormatan kampus, Husni telah menginspirasi banyak pihak bahwa ketekunan, doa, dan restu orang tua adalah kunci utama kesuksesan sejati.


