UIN Walisongo Online, Pontianak — Karya ilmiah tidak boleh sekadar berhenti sebagai tumpukan pustaka di rak perpustakaan. Perguruan tinggi dituntut untuk menghadirkan riset-riset transformatif yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat serta memberikan dampak berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, M.Ag., saat hadir sebagai narasumber utama dalam kegiatan “Academic Writing dan Diseminasi Penelitian” di Gedung Pascasarjana IAIN Pontianak, Rabu (29/7/2026). Kegiatan strategis ini merupakan hasil kolaborasi antara Pascasarjana IAIN Pontianak dan Tim Peneliti Mora Air Fund UIN Walisongo Semarang.
Akselerasi Publikasi Bereputasi Internasional
Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak, Dr. Syamsul Kurniawan, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai langkah akselerasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah para mahasiswa.
“Kegiatan ini diharapkan mampu memantik motivasi seluruh sivitas akademika di Pascasarjana IAIN Pontianak agar lebih produktif menghasilkan publikasi penelitian bereputasi internasional,” tegas Dr. Syamsul Kurniawan.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Syamsul Ma’arif mengingatkan bahwa metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah belumlah cukup jika riset yang dilakukan tercerabut dari akar permasalahan riil di lapangan.
“Penelitian harus berbasis masalah dan memiliki dampak yang berkelanjutan. Hasil riset tidak boleh berhenti pada pemenuhan tugas administratif semata,” ujar Prof. Syamsul di hadapan para peserta.

Riset Konkret: Rekonstruksi Cerita Rakyat untuk Mitigasi Intoleransi
Sebagai bentuk teladan riset aplikatif, Prof. Syamsul memaparkan penelitian yang tengah dikembangkannya mengenai “Rekonstruksi Cerita Rakyat untuk Mitigasi Intoleransi pada Murid Madrasah Ibtidaiyah (MI)” . Menurutnya, luaran dari studi semacam ini tidak boleh sebatas berhenti pada artikel jurnal ilmiah semata, melainkan harus diimplementasikan secara langsung untuk merawat harmoni sosial di tingkat akar rumput.
“Cerita rakyat merupakan instrumen efektif untuk menggugah empati sosial pada anak. Pendekatan ini membantu membentuk kesadaran kepribadian sejak dini,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berpesan agar para peneliti senantiasa jujur dan bijak dalam menyajikan temuan riset. Konten yang diangkat harus menyuarakan narasi positif yang berpijak pada realitas objektif, serta memuat rujukan moralitas bersama sebagai fondasi nilai dalam membina generasi muda yang beradab dan berbudaya.
Senada dengan hal tersebut, anggota tim peneliti, Dr. Citra Rizky Lestari, M.Pd., menambahkan bahwa penelitian yang baik harus mampu mengintervensi regulasi, memberikan kontribusi pemecahan masalah, dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat luas.
Menginspirasi Generasi Peneliti Muda
Antusiasme tinggi tampak dari para peserta yang mengikuti kegiatan ini. Salah satu mahasiswa IAIN Pontianak, Syarifah Sajila, mengaku mendapatkan sudut pandang baru mengenai pentingnya keberlanjutan riset. Pengalaman tersebut bahkan menginspirasinya untuk melangkah lebih jauh ke jenjang pendidikan doktoral.
“Penelitian saya sebelumnya saat S2 berfokus pada bidang ekoteologis. Melalui kegiatan ini, saya mendapatkan banyak saran dan inspirasi berharga, khususnya mengenai kebermanfaatan, keberlanjutan, dan strategi publikasi pada jurnal bereputasi. Sekarang saya semakin yakin untuk melanjutkan studi doktoral dan menghasilkan riset yang solutif bagi masyarakat,” ungkap Syarifah penuh optimisme.
Melalui kegiatan diseminasi ini, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui kerja sama dengan LPDP lewat skema penelitian MoRa The Air Funds terus mendorong para akademisi dan peneliti untuk memanfaatkan fasilitasi riset secara optimal. Diharapkan, ke depan lahir semakin banyak karya ilmiah yang tidak hanya presisi secara metodologis, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi kemajuan bangsa.


