UIN Walisongo Kukuhkan 2.655 Guru Profesional: Tembus Batas, Sinyal, dan Jarak

UIN Walisongo Online, Semarang — Perjalanan menjadi seorang pendidik profesional tidak selalu dimulai dari ruang kelas yang tenang dan nyaman. Bagi sebagian besar peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Tahap 4 Tahun 2025 LPTK UIN Walisongo Semarang, gelar profesi tersebut harus ditebus melalui perjuangan berat melawan sinyal internet yang tidak stabil, pemadaman listrik, kendala kesehatan, hingga jarak geografis yang membentang jauh dari daerah asal menuju kampus.

Pada Sabtu, 27 Juni 2026, perjuangan panjang itu berbuah manis. UIN Walisongo Semarang resmi mengukuhkan sebanyak 2.655 peserta PPG sebagai guru profesional. Momentum sakral ini digelar secara hybrid, di mana 500 peserta hadir langsung secara luring di kampus, sedangkan sisanya mengikuti seluruh rangkaian prosesi secara daring. Para lulusan tersebut berasal dari berbagai lini strategis pendidikan Islam, mulai dari Guru Kelas RA (GKRA), Guru Kelas MI (GKMI), Pendidikan Agama Islam (PAI), Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, Bahasa Arab, Fikih, hingga Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Acara pengukuhan ini menjadi titik temu krusial antara perjuangan personal para guru, visi besar perguruan tinggi dalam mencetak pendidik unggul, serta arah kebijakan nasional untuk mendongkrak mutu pendidikan madrasah di Indonesia.
Kisah Manusiawi di Balik Lembar Sertifikat Pendidik

Di balik pengalungan samir dan penyerahan Surat Keputusan (SK) Kelulusan, tersimpan kisah-kisah perjuangan yang menyentuh hati. Demi mendapatkan jaringan internet yang stabil saat ujian daring, tidak sedikit guru yang rela berpindah dari pelosok desa ke wilayah perkotaan. Luar biasanya lagi, beberapa guru tetap gigih menyelesaikan seluruh tahapan PPG meski dalam kondisi hamil, menderita sakit, atau sembari tetap mendampingi keluarga dan mengajar peserta didik di tempat tugas masing-masing.

Secara simbolis, delapan perwakilan peserta dari berbagai bidang studi maju untuk menerima SK kelulusan. Kehadiran mereka mewakili ribuan guru lainnya yang telah sah membuktikan diri. Kisah-kisah ini menegaskan bahwa sertifikat pendidik bukanlah sekadar dokumen administratif, melainkan sebuah simbol ketekunan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi dengan keadaan.

Rektor: Guru Adalah Penjaga Peradaban, Bukan Sekadar Pengajar

Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., menempatkan pengukuhan ini dalam konteks peradaban yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa profesionalisme seorang guru tidak cukup hanya dibuktikan selembar sertifikat. Di era modern ini, guru memiliki peran besar sebagai penjaga peradaban, pembentuk karakter, dan motor penggerak perubahan sosial.

“UIN Walisongo berkomitmen penuh untuk menyiapkan guru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral dan kuat secara karakter. Saat ini, guru dihadapkan pada tantangan teknologi, disrupsi informasi, perubahan sosial, serta persoalan generasi muda yang kian kompleks. Karena itu, lulusan PPG harus mampu menghadirkan pembelajaran yang bermutu, inklusif, dan berkeadilan,” tegas Prof. Musahadi.

Ia juga menambahkan bahwa guru masa kini tidak boleh sekadar mentransfer pengetahuan atau mengikuti perubahan, melainkan harus menginspirasi, menanamkan nilai-nilai luhur, dan turut menjadi penentu arah perubahan itu sendiri. Langkah besar program PPG ini berhasil diwujudkan berkat kolaborasi erat melalui pembiayaan APBN dan APBD antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.

Sinergi Kebijakan: Guru Sejahtera, Profesional, dan Adaptif

Pesan penguatan juga selaras dengan arah kebijakan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI. Dalam cetak biru peningkatan mutu pendidikan madrasah, terdapat tiga agenda utama yang menjadi pilar: guru harus disejahterakan, diperkuat kompetensinya, dan didukung penuh melalui layanan digital guna memudahkan pengembangan profesi.

Sinergi ini krusial karena kualitas pendidikan sebuah bangsa berbanding lurus dengan mutu para gurunya. Peserta didik mustahil mencapai kompetensi tinggi jika gurunya tidak diberi ruang dan dukungan yang memadai untuk terus berkembang. Oleh sebab itu, program peningkatan kualifikasi, sertifikasi, serta keprofesian berkelanjutan berbasis digital kini terus dikebut oleh ekosistem pendidikan.

Sebagai ujung tombak pembelajaran, guru hari ini dituntut adaptif menghadapi kebutuhan siswa yang makin beragam—mulai dari penguatan literasi, numerasi, pendidikan inklusif, kemampuan digital, hingga implementasi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata.

Pengukuhan di UIN Walisongo Semarang hari ini menjadi pengingat bahwa sejatinya pendidikan tidak hidup di atas kertas kebijakan atau dokumen semata. Pendidikan itu hidup dan berdenyut di dalam ruang-ruang kelas melalui guru yang mengajar dengan sabar, menegur dengan bijak, serta menanamkan harapan baru. Kini, 2.655 guru profesional baru siap kembali ke daerah masing-masing, membawa tanggung jawab baru sebagai bagian dari gerakan panjang untuk memperbaiki mutu pendidikan Indonesia.