UIN Walisongo Online, Semarang — Aula Auditorium II Kampus III UIN Walisongo Semarang, Sabtu (14/2/2026), menjadi saksi pengukuhan 10 guru besar dari beragam disiplin keilmuan. Namun, pidato ilmiah Prof. Dr. Abdul Muhaya, M.A., Guru Besar Tasawuf Falsafi, menghadirkan lanskap refleksi yang melampaui seremoni akademik: ia mengajak hadirin menelusuri kembali makna kebahagiaan manusia di tengah dunia yang kian hiruk-pikuk.
Mengangkat tema “Wahdat al-Syuhud: Spiritualitas dan Human Flourishing”, Abdul Muhaya membuka pidatonya dengan ilustrasi Qur’ani tentang fatamorgana (QS An-Nur: 39)—sebuah metafor bagi manusia modern yang, dalam pandangannya, kerap mengejar kebahagiaan semu. Ia menyitir fenomena disorientasi makna di era kontemporer: manusia bekerja, berlari, dan mencapai banyak hal, tetapi tak selalu tahu untuk apa semua itu.
“Tanpa fondasi nilai yang bersumber dari kebenaran nubuwah, kehidupan berubah menjadi aktivitas kosong yang berputar pada diri sendiri,” ujarnya.
Dalam kerangka itu, ia mempertemukan khazanah tasawuf klasik dengan diskursus mutakhir tentang human flourishing—konsep yang dalam filsafat Aristoteles dikenal sebagai eudaimonia, dan dalam psikologi modern dipahami sebagai keberfungsian optimal manusia secara utuh. Bagi Abdul Muhaya, kebahagiaan bukan sekadar kondisi psikologis, melainkan integrasi antara kebenaran, keyakinan, nilai, dan makna hidup yang berakar pada kesadaran tauhid.
Pidato tersebut juga menyinggung hasil Global Flourishing Study yang dipublikasikan di Nature Mental Health (2025), yang menempatkan Indonesia pada peringkat pertama dalam indeks human flourishing, melampaui sejumlah negara maju.
Menurut Abdul Muhaya, capaian itu tidak dapat dilepaskan dari karakter spiritualitas Nusantara yang historis dan inklusif. Sejak era Kapitayan, Hindu-Buddha, hingga Islam, masyarakat Indonesia mengembangkan kesadaran keberagamaan yang tidak berhenti pada ritual formal, melainkan menjelma menjadi etos sosial dan budaya.
“Spiritualitas Nusantara bertransformasi menjadi living ideology yang bersemayam dalam kesadaran kolektif bangsa,” katanya.
Kesadaran itu, lanjutnya, terartikulasikan dalam prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan termanifestasi dalam nilai kebersamaan, relasi sosial yang kuat, serta orientasi transenden yang menjiwai kehidupan sehari-hari.
Sebagai Guru Besar Tasawuf Falsafi, Abdul Muhaya menguraikan konsep wahdat al-syuhud—kesatuan penyaksian—sebagai puncak kesadaran tauhid dalam tradisi tasawuf Sunni. Berbeda dari wahdat al-wujud yang sering dipahami secara ontologis, wahdat al-syuhud menekankan dimensi pengalaman batin: seorang salik tidak menyatakan Tuhan dan makhluk menyatu, tetapi dalam pengalaman spiritualnya ia tidak menyaksikan selain Allah.
Ia merujuk Imam Al-Ghazali yang membagi tauhid dalam empat tingkatan, dari pengakuan lisan hingga penyaksian batin terdalam (khawash al-khawash). Pada tingkat tertinggi, tauhid bukan lagi konsep yang dipahami, melainkan realitas yang dihayati.
Dalam bahasa sufistik, kesadaran itu melahirkan transformasi etis: sikap ihsan, cinta ilahi (mahabbah), dan orientasi hidup yang seluruhnya terarah kepada Yang Maha Esa. “Kesadaran minallah, ilallah, billah, ma’allah, fillah, lillah,” ujarnya, “melahirkan kepuasan, makna, optimisme, arah, dan tujuan hidup.”
Menariknya, pidato tersebut tidak berhenti pada tataran metafisika. Abdul Muhaya mengaitkan pengalaman spiritual dengan temuan psikologi dan kesehatan modern. Ia menjelaskan bahwa kebahagiaan spiritual yang stabil berkontribusi pada ketenangan sistem saraf, penguatan imunitas, serta resiliensi psikologis.
WHO, katanya, sejak dekade 1980-an mulai mengakui dimensi spiritual sebagai bagian penting dari kesehatan holistik. Spiritualitas, dalam berbagai studi, terbukti meningkatkan daya tahan mental dan kualitas hidup.
Dalam analogi yang khas sufistik, ia menggambarkan struktur kejiwaan manusia sebagaimana diuraikan Al-Ghazali: qalb sebagai “raja”, akal sebagai “perdana menteri”, nafsu sebagai pengelola ekonomi dan keamanan. Ketika qalb dibimbing nilai nubuwah, harmoni diri tercipta, dan manusia mencapai keseimbangan jasad, jiwa, dan ruh.
Dalam perspektif Islam, konsep human flourishing dipadankan dengan al-sa‘adah—kebahagiaan eksistensial yang melampaui kenikmatan material. Abdul Muhaya merujuk karya Kimiya’ al-Sa‘adah Al-Ghazali dan empat perjalanan spiritual Mulla Shadra (al-asfar al-arba‘ah) sebagai jalan menuju kesempurnaan insan.
Ia juga menguraikan enam domain utama flourishing: kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik-mental, makna dan tujuan, karakter dan kebajikan, relasi sosial yang dekat, serta kecukupan material. Keenamnya, menurut dia, harus terintegrasi.
“Ketimpangan satu domain saja dapat menghambat kehidupan yang utuh,” katanya.
Dalam konteks Indonesia, sila pertama Pancasila—Ketuhanan Yang Maha Esa—dipandangnya bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan prinsip ontologis yang menjiwai bangunan nilai bangsa. Kesadaran ketuhanan menjadi basis psikologis dan spiritual bagi kebahagiaan kolektif.
Pengukuhan 10 guru besar—mulai dari bidang Tasawuf Falsafi, Teologi Islam Indonesia, Ilmu Kalam, Hukum Perdata Islam Indonesia, hingga Ilmu Komunikasi—menandai penguatan otoritas akademik UIN Walisongo di berbagai lini.
Namun, pidato Abdul Muhaya memberi kesan bahwa gelar akademik tertinggi bukanlah titik akhir, melainkan tangga tanggung jawab intelektual dan spiritual. Di tengah dunia yang sarat distraksi dan kompetisi, universitas—dan para guru besarnya—ditantang untuk merawat makna.
Di akhir pidatonya, ia menyimpulkan: kesadaran wahdat al-syuhud bukan hanya pengalaman mistik, melainkan fondasi epistemologis dan eksistensial bagi kesehatan holistik dan kebahagiaan yang berkelanjutan.
“Manusia tidak sekadar hidup,” ujarnya, “tetapi berkembang sesuai martabat dan potensi kemanusiaannya.”
Dalam suasana khidmat pengukuhan itu, refleksi tersebut terasa relevan: di tengah pencapaian akademik dan statistik kebahagiaan global, pertanyaan paling mendasar tetap sama—ke mana manusia hendak kembali, dan pada apa ia menambatkan makna.


