Artikel Rektor

MERAJUT MIMPI UNTUK FAKULTAS SYARIAH KEDEPAN

Penulis : Prof. Dr. H. Muhibbin, M.Ag, 01 Maret 2011,

Saat ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk melakukan aktifitas  dalam upaya merancang mimpi untuk empat tahun kedepan.  Karena sebagaimana kita tahu bahwa tahun ini merupakan tahun anggran baru bagi empat fakultas di lingkungan IAIN Walisongo Semarang.  Dikatakan sebagai tahun anggaran baru karena  para pimpinan fakultas baru saja mengalami pergantian pada akhir tahun 2010 dan saat inilah merupakan tahun pertama bagi mereka, sehingga sangat wajar kalau semua pimpinan fakultas mengadakan rapat kerja untuk menyusun rencana empat tahun kedepan, dengan melibatkan semua unsure yang ada di fakultas.

          Barangkali beberapa fakultas telah menjalankan raker tersebut, namun yang jelas untuk fakultas Syariah, baru melaksanakannnya  pada hari Jumat hingga Minggu, tanggal 25-27 Pebruari 2011, dengan mengahdirkan seluruh pimpinan dan pejabat, para dosen senior, para guru besar dan  pihak lain yang dianggap mampu memberikan kontribusi pemikiran untuk fakultas kedepan.

          Keinginan para  pimpinan fakults untuk merumuskan mimpi fakultas empat tahun kedepan, memang perlu diberikan apresiasi dan didukung oleh semua pihak.  Karena pada dasarnya pimpinan fakultas ada niat baik untuk membangun dan mengembangkan fakultas dengan melibatkan seluruh elemen fakultas, sehingga rumusan yang nantinya dihasilkan akan merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga besar fakultas untuk mewujudkannya, dan bukan hanya menjadi tanggung jawab para pimpinan saja.

          Awalnya memang ada target yang jelas untuk merumuskan mimpi mimpi fakultas setidaknya untuk empat tahun kedepan, namun pada saat pemikiran telah mulai bergulir, ternyata cukup banyak pemikiran yang saling berbeda dalam menangkap kondisi saat ini dan kondisi mendatang, dalam kaitannya dengan kenyataan bahwa pada saat ini proses konversi IAIN ke UIN telah berjalan, yang tentunya akan ada berbagai perubahan di dalamnya, termasuk yang nantinya berkaitan dengan keberadaan fakultas Syariah.

          Memang benar bahwa perubahan IAIN ke UIN bukan hanya sekedar perubahan status, melainkan harus ada alasan-alasan yang jelas dan dapat diterima oleh semua pihak.  Salah satu alasan mendasarnya ialah dalam rangka integrasi ilmu yang saat ini masih dipandang dan dipahami oleh sebagian besar orang secara dikotomis.  Artinya bahwa sebagian besar umat, termasuk umat Islam masih memandang adanya dua ilmu yang berbeda yaitu ilmu agama dan ilmu umum.  Seolah-olah Islam itu hanya  membahas persoalan agama saja, sementara itu ilmu yang dianggap "umum" itu bukan menjadi focus kajian Islam.

Padahal kita semua tahu dan juga meyakini bahwa Islam itu merupakan agama yang tidak saja memberikan perhatian kepada urusan akhirat saja, melainkan juga memberikan perhatian yang sama untuk urusan yang berkaitan dengan dunia. Bahkan kalau kita mau mengkaji al-Quran, tentu kita akan menemukan sumber keilmuan yang mendasari keseluruhan ilmu yang ada, termasuk yang saat ini digolongkan sebagai ilmu "umum".

Disamping itu dengan perubahan IAIN ke UIN tentunya juga dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat.  Artinya bahwa dengan perubahan tersebut, tentunya Universitas yang kita kelola akan dapat mengembangkan dan membina berbagai prodi yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat.  Program-program studi yang nantinya dikembangkan tersebut tentunya akan dapat memberikan jawaban atas tuntutan dan keinginan masyarakat.

Kembali kepada keinginan fakultas Syariah untuk merumuskan mimpi empat tahun kedepan terswebut ternyata banyak pikiran yang saling berbeda dalam menyikapi kondisi mendatang, sehingga target yang sebelumnya  akan dapat dicapai dengan mudah, ternyata tidak demikian.  Berbagai pemikiran yang saling berbeda tersebut memang tidak mungkin untuk disatukan  dan diselesaikan dalam tingkat fakultas, karena menyangkut kebijakan yang seharusnya ditempuh oleh IAIN.

Salah satu perbedaan pemikiran yang muncul ialah dalam memaknai kata syariah; sebagian ada yang memaknai dengan syariah secara lebih luas, dan menyangkut keseluruhan ilmu yang ada kaitannya dengan Islam, seperti ekonomi, social politik, hokum, dan lainhya.   Akibatnya, meskipun nantinya IAIN sudah berubah menjadi universitas, maka program-program studi ekonomi syariah, perbankan syariah, asuransi syariah, politik Islam dan lainnya harus masih melekat di fakultas Syariah.

Namun sebagian pemikiran lainnya memadang bahwa arti syariah dalam konotasinya dengan fakultas itu tidak seluas kata syariah secara umum.  Artinya syariah yang dimaksudkan disini adalah identik dengan fiqh atau hokum Islam.  Akibatnya setelah nanti IAIN berubah menjadi universitas, prodi-prodi ekonomi Islam, perbankan Syariah, asuransi syariah dan semacamnya akan dipindahkan ke fakultas lain yang lebih cocok, semisal ekonomi.  Sementara untuk prodi politik Islam juga harus dipisahkan dari fakultas Syariah dan bergabung dengan fakultas yang lebih sesuai, semisal sospol dan lainnya.

Demikianlah perbedaan pemikiran tersebut terus bergulir hingga hamper tidak ada penyelesaian, namun demikian untuk dapat terus melanjutkan perumusan mimpi tersebut, akhirnya ditempuh jalan yang memungkinkan dengan mencoba mempertemukan seluruh pikiran yang ada, meskipun masih dianggap tentative, karena masih sangat mungkin untuk diubah dan disesuaikan dengan kebijakan IAIN ke depan.

Memang kalau keinginan perubahan  IAIN ke Universitas tersebut dalam rangka mengintegrasikan ilmu yang selama ini dianggap dikotomis, harus ada beberapa kebijakan yang  seolah "merugikan" fakultas Syariah.  Karena sangat mungkin dan rasional bahwa setelah menjadi universitas, akan ada beberapa program studi yang saat ini dikembangkan di fakultas Syariah, harus direlokasi ke fakultas lain yang akan dibina dan tentu lebih sesuai dengan prodi tersebut sebagaimana  salah satu pikiran yang berkembang sebagimana saya sebutkan di atas.

Sementara itu fakultas Syariah dapat mengembangkan  dirinya dengan mengarahakan seluruh kekuatannya untuk membina prodi-prodi yang berkaitan dengan hokum, seraya memberikan warna keilsaman dalam kajian hokum dalam berbagai aspeknya.  Tentu beberapa prodi yang saat ini belum ada, dapat dibuka dengan mempertimbangkan kecenderungan minat masyarakat secara umum.  Tentu disamping  berupaya untuk melahirkan dan sekaligus mengembangkan prodi yang saat ini belum ada di universitas manapun.

Mimpi yang seharusnya dirumuskan oleh fakultas, terutama fakultas Syariah juga seyogjanya mengacu kepada kehadiran Islamic  Development Bank (IDB) yang insya Allah akan realisasi pada tahun 2012 nanti. Prediksi penggunaan dana bantuan pinjaman IDB tersebut saat ini sudah dapat diperkirakan dan fakultas Syariah, dapat mengambil peran yang lebih, dalam realisasi tersebut.  Artinya berbagai pemikiran dalam rangka pengembangan fakultas kedepan, dapat dipautkan dengan kehadiran bantuan IDB tersebut, sehingga nantinya mimpi fakultas Syariah akan dapat sejalan dengan  mimpi universitas secara keseluruhan.

Ini semua tentunya hanya sebagai antisipasi  dari berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan perubahan kelembagaan dan perubahan infra struktur yang bakal terjadi. Namun semuanya tergantung kepada masing-masing fakultas, terutama dalam hal ini ialah fakultas Syariah, kereka rumusan akhirnya semuanya tergantung kepada pimpinan fakultas.  Sehingga dapat saja pemikiran yang menganggap syariah itu meliputi segala hal dan bukan hanya sekedar hokum Islam, justru yang akan diakomodasi oleh fakultas, dengan konsekwensi bahwa perubahan apapun yang bakal terjadi, fakultas Syariah masih tetap akan mengembangkan prodi prodi binaannya, seperti ekonomi Islam, perbankan Syariah, ilmu falak dan lainnya.

Sangat mungkin bahwa dalam beberapa tahun awal, hal tersebut masih bisa diterima, karena tujuan integrasi ilmu sebegaimana yang saya sebutkan di atas juga tidak semudah membalikkan tangan dan hanya dengan mengucapkan bim salabim, namun semuanya itu memerlukan proses dan waktu yang tidak pendek.  Sumber daya manusianya  perlu disiapkan dengan matang sebelum realisasi integrasi ilmu tersebut diwujudkan.

Tetapi dengan niat yang kuat dan keteguhan dalam memegang keinginan untuk cita-cita yang besar dan benar, saya menjadi sangat yakin bahwa pada saat nanti, integrasi ilmu sebagaimana yang saya maksudkan tersebut akan dapat diwujudkan.  Dan kalau sudah seperti itu, pada saatnya nanti, memang fakultas Syariah harus merelakan sebagian prodinya  untuk dialihkan ke fakultas yang lebih cocok untuk mengembangkannya.

Semoga Keinginan fakultas Syariah untuk merajut mimpi dikemudian hari, akan dapat terealisir bersama dengan mimpi-mimpi fakultas yang lainnya dan juga mimpi IAIN atau nantinya universitas.  Kalau toh ada mimpi yang tidak terealisasi, karena adanya kemaslahatan yang lebih luas, tentunya kita juga harus secara ikhlas menerima keadaan tersebut, sekaligus mengubah mimpi yang saat ini dirancang dengan mimpi yang lebih baik dan bermanfaat bagi keseluruhan.  amin

Daftar Artikel Rektor
Ide dan pemikiran penulis dapat diakses melalui : http://muhibbin-noor.walisongo.ac.id

Mutiara Hikmah

Q.S. Yusuf (87)

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur (terhadap karunia Allah).”


Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Sistem Informasi Remunerasi (SIREMUN) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal