Berita

Prof Imam Usung Tafsir Maqasidi untuk Menguatkan Kebhinnekaan

Penulis : TIM HUMAS, 18 April 2017, 22:47:43

SEMARANG - Diantara metode tafsir yang dinilai sesuai dengan kondisi ke Indonesiaan saat ini adalah Tafsir Maqasidi. Kebuntuan metode tekstualis semacam ini mengharuskan dirumuskannya sebuah kerangka interpretasi baru yang sesuai dengan kondisi Indonesia yang berpenduduk plural. Prof. KH. Imam Taufiq M. Ag akan membacakan naskah pengukuhan berjudul “Al-Quran dan Perdamaian Profetik dalam Bingkai Kebhinekaan” pada Selasa, (18/4) di auditorium dua kampus tiga UIN Walisongo pukul 9.00.

Prinsip penafsiran Maqasidi menunjukkan bahwa arah atau tujuan akhir yang dibutuhkan untuk bisa konsistensi di jalan yang ditempuh, jalan menuju keadilan dan sikap mempertahankan keadilan. Tafsir Maqasidi berarti juga sebuah penafsiran dengan prinsip moderat yang berpijak pada tujuan pokok al-Qur’an atau syariat.

Menteri Ketenagakerjaan RI; M. Hanif Dhakiri berbangga terhadap capaian yang telah didapatkan sahabatnya ini. Pertemuaan keduanya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Tengah memberikan endorsment bahwa prof Imam Taufiq dari dulu orangnya sederhana dan cerdas. Sosok seperti inilah yang harus terus kita dukung.

“Tema tentang kebhinnekaan ini sekaligus menguatkan ahlus sunnah wal jamaah dan mempertahankan NKRI. Sekali lagi saya mengucapkan selamat atas dikukuhkannya Prof. Dr. KH. Imam Taufiq, M. Ag sebagai guru besar dalam bidang Tafsir, ” tandas alumni IAIN Walisongo ini.

Disisi yang lain, tak ada satupun cita-cita agama yang tak kembali pada kemashlahatan makhluk. Dengan demikian setiap upaya menemukan maksud agama adalah upaya sangat penting untuk mewujudkan kemashlahatan makhluk.

“Dalam konteks tersebut risalah “Tafsir Maqashidi” adalah salah satu upaya penting dibaca terutama pada saat al-Quran ditarik dalam pemaknaan untuk kepentingan ego sektoral,” papar Ketua PP RMI NU; KH. Abdul Ghaffar Rozin, M. Ed.

Kebanggaan yang lain juga diungkapkan Ketua Umum MUI Provinsi Jateng; Dr. KH. Ahmad Darodji, M. Si. Guru besar ke-18 ini merupakan kelahiran dari IAIN setelah menjadi UIN Walisongo. Dari segi umur sekretaris MUI Jateng ini masih terbilang muda. Prof. Imam Taufiq ini orangnya sederhana, senang bersilaturahim, sopan santun dijaga, tawadhu’, progresif, tanggap terhadap ide kekinian, hormat pada orang tua, serta cekatan.

“Jangan merubah pendekatan; Biasa terhadap orang lain, jangan menununjukkan sikap yang berubah. Jangan berubah setelah menjabat seperti tak kenal orang lain, mempersulit, atau macam-macam. Maka, Imam Taufiq kemarin sama Imam Taufiq sekarang meskipun dia seorang guru besar,” pesan  Ahmad Darodji

Dalam kesempatan pengukuhan besok akan hadir sejumlah tokoh Jawa Tengah untuk memberikan ucapan selamat. Selain itu Menristek Dikti akan memberikan pidato ilmiah di kampus bervisi kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban ini.

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Mutiara Hikmah

QS. Al-Baqoroh (2:45)

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’

Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal