Berita

Waspada di Bulan September

Penulis : Prof. Dr. H. Muhibin, M.Ag., 12 September 2017, 08:20:41

Mungkin diantara kita masih teringat peristiwa di akhir bulan September ini beberapa tahun yang lalu, tepatnya lima puluh dua tahun yang lalu, saat ada sebagian  pihak yang mengkhianati bangsanya sendiri dengan melakukan kudeta militer.  Meskipun gagal dan akhirnya mereka dapat ditumpas, namun  duka tersebut rasanya  sulit untuk dilupakan, termasuk generasi yang tidak  menyaksikan langsung.  Peristiwa tersebut begitu memilukan, betapa tidak para jenderal kita yang sangat baik harus mengalami nasib yang tragis, karena dibantai oleh mereka dengan tanpa rasa belas kasihan.

Saat ini ketika kita diperlihatkan oleh kebiadaban para tentara Myanmar yang membantai  rakyat Rohingya, kita langsung teringat kepada peristiwa bulan September tersebut.  Kita  tentu tidak ingin ada peristiwa biadab seperti itu dimanapun di dunia ini.  Kebiadaban tersebut  tidak terbayangkan dapat dilakukan oleh jenis makhluk yang bernama manusia, karena mereka mempunyai akal yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan, namun dalam kenyataannya masih saja terjadi.

Karena itu kewajiban bagi kita untuk melakukan upaya-upaya strategis  agar dapat menghentikan kebiadaban tersebut.  Apapun alasannya, apakah itu  ekonomi, politik, atau bahkan agama sekalipun, tentu tidak layak untuk diperkenankan.  Itu cara yang lebih keji ketimbang yang dilakukan oleh binatang sekalipun.  Bagi kita yang waras tentu pantas untuk mengumpat dan  geram, namun  apakah kita hanya akan  marah saja, tanpa melakukan upaya nyata untuk menghentikannya?

Beruntung Negara kita langsung tanggap dan presiden mengutus menteri luar negeri untuk melakukan  upaya diplomasi dengan Myanmar dan juga Negara lain agar tragedi kemanusiaan yang sangat biadab tersebut dihentikan, dan kemudian dilakukan pemulihan dalam berbagai aspek, termasuk pemberian  bantuan  makanan, pakaian, dan juga tempat tinggal serta pengobatan.  Saat ini sudah banyak Negara yang bersedia untuk membantu  persoalan tersebut, tinggal Myanmar sendiri apakah ingin mengakhiri persoalan tersebut ataukah tetap saja ingin  membuat sensasi dunia yang  lebih bejat lagi.

Tentu semua tahu bahwa perbuatan dzalim  seperti itu pada akhirnya tidak akan memberikan kepuasan kepada para pelakunya. Mungkin dalam waktu sebentar mereka akan merasakan kepuasan, tetapi pada jangka lama mereka pasti akan merasa bersalah dan dikejar oleh dosanya sendiri.  Karena itu tindakan apapun yang  tidak manusiawi dengan berbagai dalih yang dianggap benar sekalipun, tetap saja akan mendapatkan kecaman dari mereka yang berhati  nurani.  Itulah mengapa perbuatan  yang dilakukan oleh sebagian militer Myanmar terhadap rakyat sipil Rohingya tersebut  mampu menggugah ingatan kita jauh ke belakang yakni peristiwa pembantaian PKI kepada para  jenderal dan kiyai kita.

Apalagi ketika  ada usulan  dari berbagai elemen yang menginginkan bahwa  pemerintah harus meminta maaf kepada keluarga para PKI tersebut.  Apakah ini tidak terbalik, mengapa pemerintah yang harus meminta maaf, kenapa dahulu mereka membantai para jenderal yang tidak bersalah, lalu mereka juga membantai banyak rakyat pedesaan dan para kiyai yang sama sekali tidak  tahu tentang politik?.  Memang setelah ada kesadaran dari rakyat dan para aparatur Negara, mereka para PKI tersebut dapat dimusnahkan dengan berbagai cara yang juga mungkin keji dan biadab.

Namun  sangat naif jika kemudian ada tuntutan agar pemerintah meminta maaf kepada keluarga PKI, seharusnyalah mereka sendiri yang meminta maaf atas kelakuan para orang tua mereka yang telah mencoba untuk mengkudeta Negara kita Indonesia.  Apalagi saat ini juga sudah muncul banyak suara yang  menginginkan agar  PKI  dapat diijinkan tumbuh lagi di negeri ini dengan alasan HAM dan persamaan.  Tentu tuntutan tersebut sangat tidak rasional.  Kita sudah sepakat bahwa PKI tidak akan pernah diijinkan lagi untuk hidup di negeri Pancasila ini.

Kita harus kuat dan rasional dengan  segara argumentasi yang mereka sampaikan, jangan sampai kita justru terpengaruh  dan kemudian mengijinkan mereka untuk hidup kembali.  Mengingat sepak terjangnya yang demikian, dan ideologinya yang bertentangan dengan Pancasila, tentu tidak ada ruang  sedikitpun bagi PKI untuk hidup kembali di negeri kita.  Cukup sekali saja kita dikhianati oleh mereka, karena ideologi yang memang berseberangan dengan Pancasila tersebutlah yang membuat PKI  tidak cocok untuk hidup di bumi pertiwi.

Rupanya  sebagian diantar  para penerus PKI tersebut saat ini sudah mengusahakan berbagai cara agar mereka dapat tampil kembali dengan baju aslinya.  Sangat mungkin bahwa  saat ini mereka sudah ada yang memerankan diri sebagai pihak yang  kuat, dan menduduki posisi strategis, meskipun masih dengan memakai baju lain.  Mungkin kita harus lebih waspada  dengan gerakan mereka yang  sembunyi-sembunyi dan  akan mengintai kelalaian kita sehingga pada saatnya mereka akan melancarkan serangan kembali sebagaimana pada  tahun 1965 tersebut.

Kalau hanya waspada tentu kita diperbolehkan, bahkan mungkin malahan merupakan sebuah keharusan, karena yang tidak diperbolehkan ialah berburuk sangka kepada pihak lain yang sama sekali tidak sebagaimana perkiraan kita.  Kalau kita menuduh seseorang telah melakukan  upaya buruk dan  tuduhan tersebut sama sekali hanya didasarkan kepada perasaan dan bukan data dan fakta, maka itu namanya berburuk sangka dan bahkan  dapat menjadi fitnah.

Namun kalau kecurigaan tersebut masih disimpan di dalam hati sambil terus mengintai dan melakukan pengawasan terhadap gerak gerik pihak lain, tentu hal seperti itu kalau tidak semata-mata, dapat dipastikan  tidak mengganggu pihak lain tersebut dan itulah yang dinamakan kewaspadaan.  Maksudnya ialah agar kita tidak terkecoh dan akhirnya tertipu dan akan  merugikan diri kita sendiri.  Karena itu kita memang harus mengembangkan sikap waspada  tetapi harus dihindari sifat buruk sangka dan memfitnah.

Mungkin ada banyak peristiwa di bulan September ini, namun  saat ini kita memang sedang fokus untuk mengenang peristiwa mengerikan  tahun 1965 yang lalu tersebut, sehubungan dengan kejadian  sangat sadis yang dapat kita peroleh dari informasi di Myanmar atas etnis Rohingya.  Kita hanya berjaga-jaga saja agar kejadian tersebut sama sekali tidak pernah kembali menimpa kita lagi atau menimpa  kawan kita dimanapun berada. Apalagi kemudian kalau kita kaitkan dengan adanya usaha dari beberapa pihak untuk menghidupkan kembali PKI di negara kita.

Kita tentu akan terus mendukung  siapapun yang menolak kedatangan PKI, apakah itu rakyat biasa ataukah itu TNI dan lainnya.  Kita sangat  paham dengan  kebiasaan mereka yang selalu menghalalkan cara untuk menembus keinginan  mereka.  Mengapa mereka sampai hati membantai para pahlawan kita, para jenderal yang ber perangai baik serta berjasa kepada Negara. Lalu dimana hati nurani mereka?  Nah, mengingat semua itu kita sudah bersepakat untuk menolak kehadirannya kembali di Negara ini apapun alasannya.

Mari kita kuatkan barisan  agar dapat menolak  sedikitpun ide untuk mengembalikan PKI ke Negara kita tercinta ini.  Kita akan melakukan perlawanan  apapun bentuknya jika  PKI  masuk lagi di negeri kita.  Tentu kita sangat yakin bahwa  pemerintah bersama dengan seluruh TNI Polri dan seluruh masyarakat akan  bersama-sama untuk membendung dan menghalau PKI agar keluar dari bumi pertiwi ini.   Untuk itulah kita memang harus terus waspada dan  tanggap terhadap segala kemungkinan yang mengarah kepada hidupnya PKI di tanah air kita ini lagi.

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Mutiara Hikmah

Q.S. Yusuf (87)

β€œDan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kufur (terhadap karunia Allah).”


Lihat Berdasarkan Kategori

    Sistem Informasi Akademik (SIA) Sistem Informasi Remunerasi (SIREMUN) Tracer Study PBB LPPM Perencanaan IAIN Walisongo Unit Lelang & Pengadaan IsDB Walisongo Pascasarjana IAIN Walisongo Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Digilib IAIN Walisongo Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo Electronic Journal