UIN Walisongo Online, Semarang — Gelaran Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) melahirkan banyak kisah perjuangan yang menginspirasi. Salah satu cerita paling menyentuh datang dari Nurina Zain (Zain), wisudawan terbaik dari Program Studi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).
Anak Pembuat Marning Jagung yang Menembus Batas
Berasal dari Desa Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Zain tumbuh di tengah keluarga sederhana. Kedua orang tuanya yang merupakan lulusan SMP sehari-hari menggantungkan hidup dari membuat marning jagung untuk dititipkan ke warung-warung.
Lulus dari kelas akselerasi SMATAQ Wonosobo pada tahun 2020, Zain tidak langsung berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Ia harus melewati masa gap year selama dua tahun dengan bekerja di rumah sebelum akhirnya memberanikan diri merantau ke Semarang.
Pintu kuliah terbuka melalui beasiswa KIP-Kuliah. Guna mencukupi kebutuhan uang saku dan biaya hidup di tanah rantau, Zain memanfaatkan setiap liburan semester untuk bekerja sebagai penjaga toko, menjadi relawan informasi KIP, hingga mengikuti berbagai perlombaan cipta puisi tingkat nasional.
“Orang pertama yang saya kabari saat mendapat pengumuman adalah ibu saya. Kabar itu tentu saja membuat ibu tersenyum sumringah,” kenang Zain.
Filosofi ‘Satu Paragraf Sehari’ dan Pengabdian RKS
Menariknya, Zain sempat mengira pengumuman wisudawan terbaik tersebut merupakan kekeliruan karena sejak awal ia tidak pernah menargetkan predikat tersebut. Kunci konsistensi akademiknya terletak pada kebiasaan sederhana namun disiplin: menyempatkan diri membaca setidaknya satu paragraf setiap hari agar tugas-tugas perkuliahan tidak terasa berat.
Zain juga mematahkan mitos bahwa aktif berorganisasi akan menurunkan nilai IPK. Selain menjadi Koordinator Cabang Kaligrafi di UKM Kordais, ia aktif di Relawan Kesejahteraan Sosial (RKS). Bagi Zain, organisasi justru menjadi ruang uji coba agar teori konseling yang dipelajarinya di kelas tidak menguap begitu saja.
Skripsi Humanis untuk Kelompok Difabel dan Ujian Hidup
Kepekaan sosial Zain tertuang dalam skripsinya yang meneliti implikasi bimbingan agama Islam dalam mengatasi kecemasan pada kelompok disabilitas di Majelis Pengajian Difabel Semarang. Mengusung paradigma Unity of Sciences, Zain mengintegrasikan teori koping psikologi modern (Lazarus & Folkman serta Pargament) dengan bimbingan keagamaan Islam. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa materi bimbingan agama mampu menawarkan solusi koping yang komprehensif, mulai dari problem-focused, emotion-focused, hingga religious-focused coping.
Proses penyusunan skripsi tersebut tidak melalui jalan yang mulus. Zain sempat menghentikan aktivitas menulisnya selama dua bulan penuh saat sang ayah jatuh sakit. Namun, komitmen awal untuk berjuang menyelesaikan studi membuatnya kembali bangkit.
Dukungan penuh dari para dosen pendamping, seperti Maryatul Kibtiyah (yang melibatkannya dalam program pengabdian) serta Ema Hidayanti, menjadi penguat moral saat Zain berada di masa-masa sulit.
Menjaga ‘Curiosity’ dan Langkah Selanjutnya
Mengagumi sosok Dr. Aisyah Dahlan, Gita Wirjawan, dan Fahruddin Faiz sebagai inspirasi keilmuan, Zain memaknai gelar wisudawan terbaik bukan sebagai pencapaian akhir, melainkan pengingat untuk terus merawat rasa penasaran (curiosity) dan semangat belajar.
Setelah kelulusan ini, Zain berencana masuk ke dunia kerja sembari mempersiapkan diri berburu beasiswa studi lanjut (S2).
“Bagaimanapun dunia menghadangmu dengan ujian, tahanlah dan selesaikan. Cari hal yang membuatmu tertarik, jaga terus curiosity yang dimiliki, dan bersabarlah dalam ketekunan,” pesan Zain kepada adik-adik tingkatnya di UIN Walisongo.


